Syahdan di tepi jalan perkampungan Negeri Demak, seorang lelaki paruh baya
berjalan dengan tenang. Wajahnya
putih memancarkan cahaya, janggut serta cambang berwarna kebiruan. Rambut
dikepalanya tertutup blangkon
berwarna hitam garis pinggir merah menyala, begitu juga sorban, gamis dan
jubahnya dengan latar hitam
bercorak merah.
Lelaki paruh baya itu bertubuh sedang, berjalan tenang, lengan kanannya
menggenggam tasbih seraya mulutnya
komat‐kamit mengumandangkan dzikir.
Pada kelokan jalan sunyi yang dihiasi semak belukar dan pepohonan kanan
kirinya, tiba‐tiba muncul tiga orang
lelaki berpakaian serba hitam dengan ikat kepala, bertubuh kekar seraya
menghadang.
“Berhenti kisanak!” Lelaki bertubuh kekar dan berkumis tebal menyilangkan golok
didepan dadanya.
“Mengapa saya harus berhenti? Bukankah jalan ini milik Allah? Siapapun punya
hak untuk menggunakannya.” ujar
lelaki berjubah.
“Saya tidak mengerti Allah! Pokoknya kamu harus berhenti,” ujarnya lagi.
“Saya sekarang sudah berhenti. Apa yang akan kisanak lakukan pada saya? Apakah
akan menebas batang leher
saya dengan golok itu?” tanya lelaki berjubah dengan tenang.
“Benar, saya akan menebas batang leher kisanak jika tidak menyerahkan uang dan
emas yang kisanak miliki.”
ancam lelaki berkumis.
“Kenapa, kisanak mesti berbuat seperti itu jika hanya menginginkan uang dan
emas. Tidakkah uang dan emas itu
hanya hiasan dunia yang tidak memiliki arti hakiki bagi kisanak.” ujar lelaki
berjubah.
“Jangan banyak bicara, kisanak! Ayo serahkan uang dan emas pada kami, jika
leher kisanak tidak mau kami
penggal! Rupanya ki sanak belum mengenal saya Ki Kebo Benowo, rampok hebat di
dusun ini!” ucapnya.
“Saya tidak mengenal, kisanak. Bukankah kita baru hari ini bertemu? Lalu
kisanak mengancam saya untuk
memenggal leher dan meminta uang dan emas. Maka untuk itu saya persilahkan jika
itu keinginan kisanak.
Penggalah leher saya dan …” ujar lelaki berjubah tetap tenang.
“Keparat! Mampus kau!” Ki Kebo Benowo bersama ketiga temannya menerjang lelaki
berjubah seraya
membabatkan golok ke leher, pinggang, dan dada lawan.
Lelaki berjubah tidak bergeming melihat sambaran golok yang akan mencincang
tubuhnya, tetap berdiri pada
tempatnya dengan dzikir dari mulutnya terdengar pelan.
Ketiga golok tidak pelak lagi menghantam sasaran. Namun tidak meninggalkan
bekas sedikit pun. Golok yang
dihunjamkan ke tiga rampok laksana membabat angin, tidak bisa melukai, bahkan
menyentuh.
“Aneh…manusiakah?” Ki Kebo Benowo, menghentikan serangan. Seraya berdiri tegak,
matanya terbelalak heran,
napasnya tersengal‐sengal berat. Kedua temannya melongo.
“Di dunia ini tidak ada yang aneh kisanak. Bukakankah Hyiang Widi itu telah
menyatu dengan kita?” ujar lelaki
berjubah.
“Hyiang Widi?” Ki Kebo Benowo paham. Sebab pernah mengenal agama Hindu
sebelumnya. “Lalu siapakah nama
kisanak?”
“Saya, Syekh Siti Jenar. Kisanak, keinginan yang pertama telah saya penuhi,
memenggal. Keinginan kedua uang
dan emas menengoklah ke sebrang jalan. Saya permisi.” Syekh Siti Jenar
membalikan tubuhnya dan meneruskan
langkah.
Ki Kebo Benowo beserta ketiga temanya, lalu melirik ke sebrang jalan. Betapa
tercengangnya mereka, karena
melihat pohon emas dan uang.
“Emas dan uang, ayo kita ambil!” ketiganya bersorak, lalu memburu sebrang
jalan.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
Kebo Benowo dan kedua temannya sibuk memunguti daun emas. Seluruhnya diambil
dan dibungkus dengan kain.
“Hahaha, kita pasti kaya dalam waktu singkat.” tawa Kebo Benowo.
“Ki, tidakkah kita aneh pada kejadian ini?” tanya Loro Gempol.
“Benar juga? Dia bisa menciptakan emas dan uang juga memiliki kesaktian yang
sangat hebat.” Kebo Benowo
membalikan tubuhnya, matanya mengintai ke tempat Syeh Siti Jenar berdiri.
“E,eh, kemana orang tadi?”
“O, ya? Masa dia bisa menghilang?” Loro Gempol mengerutkan dahi, tangannya
garuk‐garuk kepala.
“Manusiakah dia? Makhluk halus?” Kebo Benowo menarik napas dalam‐dalam. “Aku rasa dia manusia sakti
mandraguna. Sebaiknya kita berguru padanya agar memiliki kesaktian.”
“Benar, Ki. Jika kita sudah sakti bisa menundukan semua rampok dan berada dalam
perintah kita. Kalau kita sudah
menguasai para rampok tentu tidak akan capek tinggal menunggu setoran.” tambah
Loro Gempol.
“Namun Syehk Siti Jenar menghilang? Kemana kita mesti mencari?” Lego Benongo
ikut bertanya. Sedari tadi dia
hanya mematung belum hilang rasa kagumnya terhadap Syeh Siti Jenar.
“Kita telusuri saja jalan ini. Kemungkinan dia menuju ke pusat Kerajaan Demak,”
Kebo Benowo menduga‐duga.
***
Syehk Siti Jenar, telah sampai ke pusat Kerajaan Demak. Langkahnya yang tenang
serta penuh wibawa tidak lolos
dari pandangan para prajurit penjaga keamanan. “Siapakah lelaki itu?” tanya
prajurit kerempeng pada temannya
yang bertubuh tambun.
“Wali,” jawab si Tambun tenang.
“Pakaiannya mirip wali songo, tapi saya baru kali ini melihatnya. Kita perlu
menanyai dan memeriksa orang yang
tidak dikenal, mungkin saja dia pemberontak yang lagi menyamar.” ucap si
Kerempeng penuh curiga.
“Biarkan saja, siapa tahu dia sahabatnya para wali. Buktinya dia berjalan
menuju mesjid.” si Tambun tetap tenang.
“Meskipun demikian kita tetap harus menjalankan tugas. Ayo kita hadang dia dan
tanya maksud kedatangannya!”
si Kerempeng bergegas menenteng tombak dan tameng, mengejar langkah Syekh Siti
Jenar.
“Berhenti, Kisanak!” teriak si Kerempeng, seraya menghadang langkah Siti Jenar
dengan gagang tombak.
“Kenapa kisanak menghadang saya? Bukankah saya tidak pernah mengganggu
ketenangan kisanak?” tanya Syekh
Siti Jenar tenang.
“Meskipun demikian itu adalah tugas saya selaku prajurit Demak.” jawab si
Kerempeng.
“Kisanak hanyalah seorang prajurit Demak, tidak lebih hebat dari prajurit
Allah. Bukakah prajurit Allah itu ada
empat?” urai Syekh Siti Jenar dengan pandangan mata sejuk.
“Saya tidak mengerti dengan perkataan, Kisanak?”
“Bukankah jika Kisanak tidak paham akan sesuatu diharuskan bertanya. Namun
tidak semestinya kisanak
menunjukan kesombongan, menepuk dada karena berkasta prajurit, dan berlaku
kasar terhadap
rakyat seperti saya. Padahal kisanak hanyalah prajurit biasa yang lemah tidak
sehebat prajurit Allah yang empat
tadi.” jelas Sekh Siti Jenar.
“Perkataan kisanak semakin membingungkan saya?” si Kerempeng geleng‐gelengkan kepala. “Terdengarnya
kisanak semakin melantur saja. Mana ada prajurit Allah empat, para Wali di sini
tidak pernah mengajarkan seperti
itu.” si Kerempeng semakin mengerutkan dahinya.
“Jika para wali tidak mengajarkan, maka saya akan memberitahu kisanak…” ujar
Syehk Siti Jenar tersenyum.
“Saya tidak mungkin mempercai kisanak, kenal juga baru sekarang. Saya lebih
percaya kepada para wali yang
telah mengajarkan agama dengan baik dan bisa dipahami.” si Kerempeng garuk‐garuk kepala, lalu keningnya
mengkerut lagi.
“Apakah kisanak mesti belajar pada orang yang sudah dikenal saja? Padahal
kebenaran bisa datang dari siapa saja
dan dari mana saja, baik yang sudah dikenal atau pun tidak dikenal oleh
kisanak.
Karena ilmu Allah sangatlah luas, meski seluruh pohon yang ada didunia ini
dijadikan penanya serta laut sebagai
tintanya, tidak akan sanggup mencatat ilmu Allah. Sebab itu ilmu yang dimiliki
manusia hanyalah sedikit.
Seandainya kisanak berada di tepi samudra, lalu mencelupkan jari telunjuk,
setelah itu diangkat kembali, maka
tetes air yang menempel di ujung telunjuk itulah ilmu yang dimiliki kisanak.”
terang Syekh Siti Jenar, seraya
menatap si Kerempeng.
“Jika demikian berarti kisanak sudah meremehkan saya. Padahal saya tidak bisa
diremehkan oleh rakyat seperti
kisanak, saya prajurit Demak sudah diberi ilmu oleh para wali. Kisanak
beraninya menyebut‐nyebut prajurit Allah,
yang tidak pernah para wali ajarkan. Kisanak telah menciptakan ajaran yang
keliru!” si
Kerempeng berbicara agak keras, seraya keningnya semakin mengerut kebingungan
menanggapi perkataan Syeh
Siti Jenar.
“Kisanak tidak bisa menganggap saya keliru, jika belum paham pada perkataan
tadi.” Syekh siti Jenar tetap
tenang. “Ketidak pahaman kisanak yang memicu kesombongan dan kedengkian akan
sesuatu.
Padahal apa pun yang saya katakan bisa dibuktikan. Prajurit Allah yang empat
bisa saya datangkan dihadapan
kisanak dengan keperkasaannya.” ujar Syekh Siti Jenar tersenyum tipis.
“Omong kosong! Coba mana prajurit Allah yang empat tadi, buktikan jika memang
ada!” si Kerempeng semakin
pusing dan jengkel, giginya menggeretak.
“Kisanak tidak akan kuat menghadapi empat prajurit sekaligus. Maka saya cukup
datangkan satu saja, itu pun
hanya sebuah pelajaran untuk kisanak.” Syekh Siti Jenar mengangkat tangan
kanannya ke atas.
“Mana! Ayo datangkan!” tantang si Kerempeng.
“Datanglah prajurit Allah yang bernama angin, berilah dia pelajaran agar tidak
angkuh dan sombong.” itulah
ucapan Syekh Siti Jenar.
“Akhhhh! Tolonnnggg!” si Kerempeng berteriak, seraya tubuhnya melayang di udara
diterpa angin yang sangat
kencang, lalu jatuh di atas semak‐semak.
“Itulah salah satu prajurit Allah dari empat prajurit yang lebih dahsyat.”
Syehk Siti Jenar masih berdiri dengan
tenang, matanya yang sejuk dan tajam memandang si Kerempeng yang kepayahan dan
terbaring di atas semak.
“Maafkan teman saya, Kisanak.” si Tambun mendekat penuh hormat.
“Sejak tadi pun saya memaafkan teman kisanak. Namun dia tetap berlaku sombong
dan menantang pada
kekuasaan Allah. Sudah selayaknya diberi pelajaran agar menyadari kekeliruan.”
terang Syekh Siti Jenar seraya
melirik ke arah si Tambun.
“Terimakasih, kisanak telah memaafkan teman saya. Bolehkah saya tahu nama
kisanak?” si Tambun bertanya.
“Kenapa tidak. Karena nama itu hanya sebuah sebutan, asma, dan bukan af’al.
Orang menyebut saya Syekh Siti
Jenar,” terang Syekh Siti Jenar tenang.
“O, ya…” si Tambun mengerutkan kening mendengar ucapan yang kurang dipahaminya.
“Gendut, tangkap lelaki asing itu! Dia memiliki ilmu sihir.” teriak si
Kerempeng seraya bangkit dari semak‐semak.
“Kisanak sangat keliru jika menuduh ilmu yang saya miliki sihir. Padahal sihir
itu bukanlah ilmu yang patut
dipelajari oleh orang yang beragama islam. Kisanak masih belum paham, bahwa
yang melempar tadi adalah
prajurit Allah.” Syekh Siti Jenar menatap tajam ke arah si Kerempeng yang
menghunus pedang.
“Omong kosong! Kisanak datang ke Demak sudah jelas berniat menciptakan
kekacauan, ditambah lagi dengan
ucapan melantur dan mengada‐ngada. Selayaknya kisanak kami
tangkap!” si Kerempeng mendekat, ujung pedang
yang terhunus ditujukan ke leher Syekh Siti Jenar.
“Jika ingin menangkap tangkaplah saya. Janganlah sekali‐kali kisanak mengancam saya dengan ujung pedang,
karena pedang hanyalah buatan manusia yang tidak berdaya. Berbeda dengan wujud
kita yang diciptakan Allah….” Syekh Siti Jenar tetap berdiri tenang, meski
ujung pedang yang tajam berjarak
sejengkal lagi menuju leher.
“Pedang ini jangan kisanak remehkan! Tidakkah takut seandainya pedang ini
memenggal leher kisanak? Satu kali
tebasan saja, leher kisanak sudah putus.” ancam si Kerempeng.
“Tidak mungkin kisanak. Sebab pedang bukan prajurit Allah, hanyalah sebuah
benda mati.” Sekh Siti Jenar tetap
tidak bergeming.
“Keparat, lihat saja!” si Kerempeng mengayunkan pedang dibarengi dengan emosi,
pedang tidak pelak lagi
menghantam sasaran, sebab Syekh Siti Jenar tidak menghindar sedikit pun.
“Hentikan!” si Tambun berteriak, matanya terbelalak.
“Diam kamu prajurit!” tiba‐tiba terdengar suara yang
menggetarkan, beberapa saat kemudian muncul sosok lelaki
berjubah hitam, mengenakan blangkon.
“Kanjeng Sunan Kalijaga,” si Tambun menahan kedip. Kemunculan Sunan Kalijaga
yang baru keluar dari mesjid
Demak sangat mengagetkan. Padahal Sunan Kalijaga tidak berbuat apa‐apa hanya berteriak tidak terlalu keras,
tapi si Kerempeng mematung sambil mengayunkan pedang. “Hebat Kanjeng Sunan…” si
Tambun menggelenggelengan
kepala seraya menarik nafas dalam‐dalam.
“Selamat datang saudaraku, maafkan kelancangan prajurit Demak yang kurang
memahami sopan‐santun.” Sunan
Kalijaga menatap Syekh Siti Jenar yang tidak bergeming. “Tidak memilikinya
sopan‐santun karena keterbatasan
ilmu dan kedangkalan pengetahuan.”
“Benar, Sunan.” tatapan Syekh Siti Jenar beradu dengan mata Sunan Kalijaga yang
sejuk dan berwibawa, lalu
menembus ke dalam batin. Maka berbincanglah mereka melalui batin.
Sejenak keduanya saling tatap, lantas terlihat ada senyum tipis yang
tersungging. Lalu saling peluk dan saling
tepuk bahu. Setelah itu terlihat gerakan tangan Sunan Kalijaga mempersilahkan
tamunya untuk menuju masjid.
Prajurit Tambun mengerutkan dahi, “Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa
berbincang‐bincang tanpa
suara? Mungkinkah dengan saling menatap saja bisa berbincang‐bincang?”
“Sudahlah Saudaraku sesama muslim, kita berbicara secara lahiryah saja, sebab
akan membingungkan orang yang
melihat.” ujar Sunan Kalijaga, seraya berjalan berdampingan menuju masjid
Demak.
“Baiklah, Sunan.” Syekh Siti Jenar mengamini.
“Ilmu apa yang mereka miliki?” si Tambun mengikuti langkah keduanya dengan
tatapan mata, hingga menghilang
di balik pintu gerbang masjid Demak. Lalu tatapan matanya berputar ke arah
temannya yang baru saja bisa
menggerakan tubuhnya.
“Gendut, kenapa aku tidak bisa bergerak waktu terjadi pertemuan antara Kanjeng
Sunan dan tukang sihir.” si
Kerempeng mengelus dada, sambil menyarungkan lagi pedang ditempatnya. Kemudian
duduk, setengah
menjatuhkan pantatnya di atas ruput hijau, kakinya dilentangkan, nafasnya
ditarik dalam‐dalam.
“Itu semua pengaruh ilmu yang mereka miliki. Kita sebagai prajurit biasa tidak
mungkin bisa mencapai ilmu para
wali. Berbincang‐bincang juga cukup dengan tatapan mata, orang lain tidak
bisa mendengar apa yang sedang
mereka bicarakan. Sangat hebat.” si Tambun garuk‐garuk
kepala. Otaknya tidak sanggup memikirkan, apalagi
menganalisis perilaku Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga.
“Gendut, sebenarnya apa yang tadi terjadi ketika saya jadi patung?” si
Kerempeng masih belum paham. “Kenapa
si tukang sihir itu disambut baik oleh Kanjeng Sunan Kalijaga? Bukakah kita
tidak boleh mempelajari apalagi
mengamlakan ilmu sihir, hukumnya musrik!” si Kerempeng memijit‐mijit keningnya.
“Tentu saja, sihir itu musrik dan tidak boleh dipelajari. Hanya saya tidak
yakin kalau yang dimiliki oleh Syekh Siti
Jenar itu ilmu sihir.” jawab si Tambun, mencoba memprediksi.
“Lantas ilmu apalagi kalau bukan sihir? Lagi pula pembicaraannya melantur. Dia
bilang Allah saja punya prajurit,
itu aneh. Para Wali saja tidak pernah mengajarkan.” si Kerempeng garuk‐garuk kepala.
“Sudahlah, kita tidak boleh berburuk sangka! Mungkin ilmu yang kita miliki
belum cukup untuk memahami Syekh
Siti Jenar.” terang si Tambun, seakan tidak peduli.
“Silahkan masuk saudaraku, inilah masjid tempat kami berkumpul dan beribadah.”
ujar Sunan Kalijaga, seraya
mendapingi Syekh Siti Jenar memasuki masjid Demak.
“Terimakasih,” Syehk Siti Jenar berjalan berdampingan dengan Sunan Kalijaga
menuju ruangan tengah masjid,
menghampiri wali delapan yang sedang berkumpul.
“Selamat datang, Syekh.” sambut Sunan Bonang, menyodorkan kedua tangannya
menyalami. “Silahkan,”
“Siapakah Syekh ini?” tanya Sunan Muria.
Syekh Siti Jenar tidak menjawab, lalu menatap mata Sunan Kalijaga, menembus
batinnya, seraya berbincang
dengan batin.
‘Syekh, tidak seharusnya kisanak berbicara pada wali yang lain menggunakan
batin. Pergunakanlah lahiryah
kisanak, karena mereka bukan saya.’ ujar batin Sunan Kalijaga.
‘Saya kira mereka sama dengan kisanak. Jika demikian berarti mata batin mereka
tuli dan buta. Hanya saudara
Sunan yang paham batin saya. Baiklah jika saya harus berujar secara lahiryah,
laksana orang‐orang yang tidak
paham pada dirinya dan….’
‘Sudahlah, Syekh saudaraku. Batin kita tidak harus berbicara seperti itu.
Karena mereka bukan kita, kita bukan
mereka. Punya cara masing‐masing untuk memahami tentang wujud, maujud dan Allah.
Mereka berlaku layaknya
orang kebanyakan.’
“Apa yang sedang saudara bicarakan Sunan Kalijaga dan Syehk Siti Jenar?
Sebaiknya kita kembali pada alam
lahiriyah.” Sunan Bonang memecah keheningan. “Sebab yang hadir disini bukan
hanya saudara berdua, ada yang
lainnya.”
“Baiklah Kanjeng Sunan Bonang.” ujar Syekh Siti Jenar. Lalu dia duduk bersila
disamping Sunan Kalijaga.
“Siapakah sebenarnnya Syekh ini? Apakah termasuk para wali seperti kita‐kita ini?” tanya Sunan Gunung Jati.
“Saya Syekh Siti Jenar…” lalu melirik ke arah Sunan Kalijaga, seraya kembali
ingin berbincang menggunakan batin.
‘Jangan, berbicaralah secara lahiryah.’ itu jawaban batin Sunan Kalijaga.
Syekh Siti Jenar mengangguk, seraya meneruskan perkataannya,”..saya hanya
manusia biasa dan rakyat jelata.
Namun saya secara tidak sengaja mendengar perbincangan Kanjeng Sunan Bonang dan
Kanjeng Sunan Kalijaga
ketika di atas perahu. Waktu itu Kanjeng Sunan Bonang sedang mengamalkan ilmu ’saciduh
metu saucaping
nyata’…”
“Ilmu apa itu Kanjeng Sunan Bonang?” tanya Sunan Gunung Jati, melirik ke arah
Sunan Bonang.
“Ilmu ‘kun payakun’, jadilah, maka jadi. Apa pun yang diucapkan akan mewujud
atau jadi.” terang Sunan Bonang.
“…benar. Ketika itu wujud saya berupa seekor cacing tanah. Setelah mendengar
wirid ilmu tadi,lalu saya amalkan,
seketika wujud saya berubah menjadi sekarang ini. Maka wajar jika saya pun
disebut Syekh Lemah Abang. Cacing
tadi terbungkus tanah berwarna merah, hingga saat ini saya pun masih memiliki
ilmu tadi serta sekaligus
mempelajari Islam secara mendalam. Ilmu Islam yang saya pelajari sudah diluar
dugaan, mencapai tahap ma’rifat,
tidak terduga. Namun saya tetap bukan seorang wali seperti saudara‐saudaraku yang berkumpul hari ini. Saya
hanyalah rakyat jelata dari pedesaan yang berada di wilayah kekuasaan kerajaan
Demak Bintoro.” Syekh Siti Jenar
menerangkan.
“Andika tidak dianggap sebagai seorang wali karena asal‐usul yang kurang jelas.” ucap Sunan Giri.
“Saya bukan orang yang memiliki ambisi dan gila gelar, hanya untuk mendapat
sebutan wali. Hingga saya pun
menganggap bahwa diri saya hanyalah manusia biasa dan lahir sebagai rakyat
kebanyakan. Namun kisanak
menyebutkan tanpa asal‐usul yang jelas. Padahal yang namanya manusia jelas memiliki
asal‐usul, jika
menganggap bahwa manusia ada yang tidak memili asal‐usul berarti kisanak tidak memahami siapa diri kisanak
sebenarnya? Dari mana asal kisanak?” ujar Sekh Siti Jenar.
“Andika jangan memutar balikan ucapan dan bermain kata‐kata!” suara Sunan Giri meninggi.
‘Syekh,’ Sunan Kalijaga menatap Syekh Siti Jenar, seraya berbicara dengan
batin. ‘Saudaraku sebaiknya
memaklumi keadaan secara lahiryah yang terjadi sekarang ini…’
‘Baiklah,’ batin Syekh Siti Jenar memberi jawaban.
“Kanjeng Sunan Giri, sudahlah! Kita tidak harus memperbincangkan asal‐usul.” Sunan Bonang memahami
pembicaraan batin Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga. “Sebaiknya kita
berbincang tentang upaya penyebaran
agama Islam di tanah Jawa ini.”
“Baiklah, Kanjeng Sunan Bonang.” Sunan Giri menyetujui.
“Bukannya saya tidak ingin lama‐lama berbincang‐bincang dengan para wali yang agung di sini. Namun saya
masih
ada keperluan lain, disamping akan berusaha membantu para wali untuk
menyebarkan ajaran Islam. Izinkanlah
saya untuk berpamitan,” Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya.
“Andika mesti ingat ketika menyebarkan agama Islam yang agung ini jangan sampai
keluar dari aturan para wali.”
ujar Sunan Giri.
“Mohon maaf, Kanjeng Sunan Giri. Karena saya bukan wali, tentunya tidak terikat
dengan aturan wali. Mungkin
saya akan mengajarkan dan menyebarluaskan agama Islam dengan cara saya
sendiri.” Syekh
Siti Jenar seraya menyalami semuanya, lalu Sunan Bonang dan yang terakhir Sunan
Kalijaga.
‘Saudaraku selamat berjuang, mungkin pada akhirnya kita harus bertabrakan.
Namun itu secara lahiryah….’ batin
Sunan Kalijaga.
‘Tidak mengapa saudaraku Kanjeng Sunan Kalijaga…itulah tujuan menuju Allah dan
jalan yang berlainan.’ Syekh
Siti Jenar melepaskan tangan Sunan Kalijaga, seraya membalikan tubuhnya dan
keluar dari masjid Demak diantar
oleh tatapan para wali yang masih berdiri.
“Kanjeng Sunan Kalijaga, benar tadi batinmu berujar pada Syekh Siti Jenar.”
Sunan Bonang menatap Sunan
Kalijaga.
“Tinggal menunggu waktu, Kanjeng. Itu semua kehendaknya..” jawab Sunan
Kalijaga.
“Kanjeng Sunan Bonang, Kanjeng Sunan Kalijaga, apa maksud pembicaran andika
berdua?” tanya Sunan Giri.
Keduanya tidak berbicara lagi, karena sudah terdengar bunyi adzan Magrib,
mereka menjawab, Allahu Akbar.
Diikuti yang lainnya, meski dalam hati mereka menyimpan rasa penasaran dan
keingin tahuan mengenai ucapan
kedua wali tadi, untuk sementara disimpanya dalam hati masing‐masing.
***
“Kanjeng Sunan Bonang, kayaknya kita agak kesulitan untuk menyebarkan Islam
disini.” Sunan Kalijaga
memandang kerumunan orang.
“Kayaknya mereka lebih menyukai hura‐hura
dan gamelan, Kanjeng Sunan Kalijaga.” tambah Sunan Bonang,
matanya memperhatikan orang yang berkerumun menju pasar seni.
“Kita pun tidak perlu kalah, Kanjeng Sunan Bonang. Jika hanya mendengar kita
berceramah kayaknya kurang
tertarik, alangkah lebih baiknya kita pun harus mengadakan pendekatan budaya.”
Sunan Kalijaga tidak
melepaskan pandanganya dari kerumunan orang, lalu duduk di tepi jalan di atas
batang kayu yang lapuk.
“Pendekatan budaya?” Sunan Bonang mengerutkan dahinya.
“Benar, pertama kita melihat sesuatu yang mereka sukai. Kedua, kita harus masuk
ke dalam sistem budaya
masyarakat.” Sunan Kalijaga bangkit dan membalikan tubuhnya ke arah Sunan
Bonang. “Seperti yang kita
perhatikan, masyarakat Jawa sangat menyukai gamelan. Untuk itu kita turuti
kesenangan mereka, tidak ada
salahnya membuat gamelan…”
“Membuat gamelan? Maksud Kanjeng Sunan supaya mereka mengerumuni gamelan yang
kita tabuh. Upaya
untuk mengumpulkan orang…” ujar Sunan Bonang.
“Ya, setelah mereka berkerumun karena tertarik dengan irama gamelan yang kita
tabuh, disitulah kita
berdakwah.”lanjut Sunan Kalijaga.
“Berdakwah, orang akan bubar. Lantas mereka tidak akan pernah berkerumun lagi
karena tertipu,” Sunan Bonang
mengerutkan dahinya sejenak. “…maksud saya gamelan itu hanya penarik dan
pembuka acara dakwah kita.
Setelah itu tidak mengalun lagi….berarti selesai pertunjukan.”
“O, tidak seperti itu, Kanjeng Sunan Bonang. Gamelan harus terus mengalun,
ketika kita menyampaikan pesan
dakwah. Caranya juga bukan seperti yang biasa dilakukan para wali sebelumnya,
namun ada canda dan filsafat.”
terang Sunan Kalijaga.
“Maksud, Kanjeng? Jika demikian gamelan itu dijadikan sarana dakwah, bukankah
itu seperti lakon, yang
didalamnya diselipi pesan‐pesan.”
“Begitulah, Kanjeng Sunan Bonang. Namun sarana kita adalah wayang kulit.
Karakter wayang yang kita ciptakan
harus mencerminkan sosok orang baik, jahat, kejam, ulama, dan sebagainya.
Karakter yang kita ciptakan adalah
cermin lelaku kehidupan manusia.” Sunan Kalijaga, sejenak menatap awan yang
melingkari puncak gunung, lalu
kembali menatap lawan bicaranya. “Lelaku manusia yang berbuat baik akan
menerima pahala baik, jahat pun
sebaliknya. Setelah itu mereka bercermin, dalam karakter itu munculah sosok
yang diteladani, yaitu karakter
Kanjeng Nabi Muhammad dan para Sahabatnya.”
“Tapi kita tidak boleh mencipta Kanjeng Nabi dan para sahabat agung dalam
sebuah bentuk ukiran..” sela Sunan
Bonang.
“Tentu, dan kita tidak akan berbuat seperti itu. Namun kita akan menciptakan
karakter wayang yang memiliki
lelaku Islam. Rukun Islam itu ada lima, maka ciptakan lima sosok wayang
berkarakter cerminan muslim. Kanjeng
Nabi itu punya empat sahabat terbaik,
hingga menjadi lima dengan Junjunan Alam Rasulullah. Bentuklah Pandawa Lima,
cerminan dari lelaku Kanjeng
Nabi dan keempat sahabat terbaiknya. Lalu karakter jahatnya kita bentuk juga
dari cerminan orang‐orang jahat…”
ujar Sunan Kalijaga.
“Benar…” Sunan Bonang mengamini. Hingga keduanya berbicara panjang lebar
membahas metode berdakwah
dengan menggunakan gamelan sebagai pemikat dan wayang kulit sebagai medianya.
***
Matahari mulai menyelinap dibalik bukit, kirimkan sinar keemasan di langit
sebelah barat. Awan berubah menjadi
jingga, mengitari puncak pegunungan. Masa keemasan akan tiba seiring dengan
perputaran roda kehidupan dan
waktu.
Lagu Ilir‐ilir bergema sebelum waktu Magrib tiba, nyanyian bermakna
mendalam ciptaan para wali. Rakyat
menyanyikannya dengan gembira, ada yang memahmi akan makna dan maksudnya, ada
pula yang masih buta
akan isinya, ada pula yang hanya menikmati lirik dan syairnya saja.
Bedug Magrib tiba, mereka berbondong‐bondong
menuju masjid Demak Bintoro untuk shalat berjamaah. Shalat
Isya pun tidak mau mereka lewatkan, meski ajaran Islam belum diterima secara
merata.
Dakwah yang dilakukan sebagain Wali melalui media wayang kulit dan tabuhan
gamelan sebagai daya tarik. Cara
seperti itu benar‐benar efektif bisa mengikat banyak orang berbondong‐bondong memeluk agama Islam.
Sunan Kalijaga melepas jubah kewalian, mengenakan pakaian serba hitam ala
petani, rakyat jelata. Hingga tidak
ada antara dirinya dengan rakyat. Rakyat lebih mudah didekati tanpa rasa
curiga, karena Sunan Kalijaga berbaur
didalamnnya.
***
“Kita belum juga menemukan jejak Syekh Siti Jenar,” ujar Loro Gempol. “Bukankah
dia ke arah sini?”
“Tidak mungkin, saya punya keyakinan jika Syekh Siti Jenar menuju pusat Kota
Demak Bintoro.” potong
Kebobenowo.
“Kalau betul dia menuju Kota Demak, sangatlah sulit untuk menemukannya.” Lego
Benongo menghentikan
langkah, lalu duduk di atas batu di tepi jalan.
“Benar juga, Benongo.” Kebo Benowo mengerutkan keningnya, langkah pun terhenti
sejenak, matanya menatap
jalan yang masih panjang. Menarik napas dalam‐dalam.
“Sebaiknya kita duduk‐duduk disini sambil cari makan,
menunggu Syekh Siti Jenar pulang. Jika memang dia dari pusat Kota Demak
Bintoro, tentulah pulangnya akan
melewati jalan ini.”
“Itu baru benar,” sahut Lego Benongo, langsung saja merebahkan tubuhnya di atas
rumput hijau di bawah
rindangnya pohon jalan.
Sayap malam mulai mengembang, matahari telah menyelinap di balik bukit.
Kelelawar beterbangan keluar dari
sarangnya, bergembiraria menyambut datangnya malam.
“Ki Benowo, hari sudah malam. Apakah kita mau tetap disini menunggu Syekh Siti
Jenar?” tanya Loro Gempol
bangkit dari duduknya. Kepalanya mendongak ke atas menatap langit yang mulai
tampak dihiasi gemintang.
“Benar juga, Gempol.” Kebo Benowo berdiri, menatap jalan yang terbentang
panjang menuju pusat Kerajaan
Demak Bintoro. “Lihat! Mungkinkah dia yang kita tunggu?”
“Syekh Siti Jenar?” timpal Lego Benongo.
“Kelihatannya Syekh Siti Jenar, Ki Benowo.” ujar Loro Gempol gembira. “Hebat,
wajahnya memancarkan cahaya
terang, padahal dia tidak membawa obor atau lampu.”
“Saya rasa itulah kehebatan ilmu yang dimilikinya.” duga Kebo Benowo. “Kita
sudah benar menemukan seorang
guru.”
“Tapi apa mau Syekh Siti Jenar mengangkat kita sebagai muridnya?” Loro Benongo
meragukan.
“Kalau tidak mau kita bunuh saja!” geram Loro Gempol.
“Kamu seperti tidak ingat saja, Gempol. Bukankah Syekh Siti Jenar itu sangat
sulit dilukai?” Kebo Benowo
mengingatkan. “Mana mungkin kita bisa membunuh, apalagi mengancamnya agar diagkat
jadi murid. Sebaiknya
kita bersikap lunak pada orang yang memiliki ilmu tinggi seperti dia.”
“Benar juga, Ki Benowo.” Loro Gempol mengagukan kepala. “Jika tetap tidak mau
menerima kita sebagai
muridnya?”
“Kita coba saja dulu,” ujar Kebo Benowo.
Syekh Siti Jenar telah mendekat, lalu melintas dihadapan Kebo Benowo dan kedua
temannya. Syekh Siti Jenar
sedikit pun tidak menyapa apalagi meliriknya, terus melangkah ke depan dengan
tenang.
“Syekh,” Kebo Benowo mengerjanya. “Bolehkah saya berguru?”
“Mengapa mesti berguru? Kepada siapa kisanak akan berguru?” Syekh Siti Jenar
tidak menghentikan langkahnya,
dan tidak melirik.
“Karena saya ingin memiliki ilmu. Tentu saja saya ingin berguru pada Syekh Siti
Jenar.” jawab Kebo Benowo.
“Mengapa harus kepada saya? Ilmu apa pula yang kisanak inginkan dari saya.”
ucap Syekh Siti Jenar. “Padahal
saya manusia biasa seperti kisanak, bukan pemilik ilmu dan tidak memiliki ilmu
apa pun. Baik kisanak atau pun
ilmu ada yang memilikinya.”
“Saya tidak mengerti pada ucapan, Syekh?” Kebo Benowo mengerutkan keningnya.
“Kenapa jawaban Syekh membingunkan kami?” timpal Loro Gempol.
“Apanya yang membuat kisanak pada kebingungan? Saya tidak pernah membuat
bingung orang lain apalagi
menyusahkan orang.” Syekh Siti Jenar menghentikan langkahnya, lalu menatap ke
tiga rampok tersebut. “Hanya
kisanaklah yang ingin membuat susah dan menyusahkan diri sendiri.”
“Apa maksud ucapan, Syekh?” ke tiga rampok hampir serempak menepuk dahinya
masing‐masing. Kepala
seakan‐akan mau pecah ketika mendengar setiap perkataan Syekh Siti
Jenar.
“Saya manusia biasa seperti kisanak, bukan pemilik ilmu. Bukankah kisanak
sendiri dan ilmu itu ada pemiliknya?
Itukah yang membuat kisanak bingung?” tatap Syekh Siti Jenar, mengulang
ucapannya.
“Itulah yang tidak kami pahami. Karena kami orang awam, tidak tahu segala hal
yang Syekh ucapkan.” Kebo
Benowo berusaha mencerna ucapan Syekh Siti Jenar. “Syekh tadi mengatakan, kalau
diri Syekh adalah manusia
biasa seperti saya,”
“Ya,”
”Bukankah Syekh memiliki ilmu yang hebat? Sedangkan kami tidak bisa apa‐apa?” ujar Kebo Benowo.
”Saya tidak memiliki ilmu yang hebat. Kisanak mengaggap tidak bisa apa‐apa, itu merupakan pernyataan yang
sangat keliru.” Syekh Siti Jenar diam sejenak, matanya menatap satu persatu
wajah orang yang diajak bicaranya.
“Kenapa tidak mau mengakui kalau diri Syekh memiliki ilmu yang hebat.” sela
Kebo Benowo. Pikirannya semakin
sumpek mendengar setiap perkataan Syekh Siti Jenar yang bersebrangan dengan
realita yang dia pahami. “Malah
pengakuan saya dianggap keliru,”
“Memang benar kisanak sangat keliru.” Syekh Siti Jenar, mendongak ke atas
langit, “Tataplah bintang gemintang
yang ada di atas kepala kisanak nun jauh di langit.”
“Apakah ada yang aneh dengan bintang‐gemintang
di langit?” tanya Kebo Benowo. Belum menemukan celah
terang atas segala perkataan Syekh Siti Jenar, pikirannya semakin ngejelimet.
“Bukan ada yang aneh atau tidak. Perhatikanlah bintang‐bintang? Kenapa tidak jatuh ke bumi dan menimpa
kepala kita? Pernahkah terpikir dalam benak kisanak, siapa yang menahannya di
langit?” Syekh Siti Jenar kembali
menatap ke tiga rampok tadi.
“Benar juga. Tidak tahu. Mungkinkah kekuatan yang tidak nampak?”
“Kenapa kekuatannya tidak nampak? Siapa pula yang memiliki kekuatan yang tidak
nampak itu?” tanya Syekh Siti
Jenar.
“Saya tidak mengerti Syekh? Jika memang ada kekuatan siapa pemiliknya?”
“Dialah Allah. Allah itu penguasa semesta alam. Penggenggam setiap jiwa
makhluknya.” ujar Syekh Siti Jenar.
“Kita kembali pada ucapan saya semula. Maksud saya itulah tadi.”
“O…ya.” Kebo Benowo mengangguk‐anggukan kepala, rupanya mulai ada
titik terang di benaknya.
“Jika demikian saya mulai terbuka dengan apa yang Syekh Siti Jenar uraikan
tadi. Namun yang masih
membingungkan, mengapa dianggap keliru jika saya mengatakan tidak bisa apa‐apa di banding kisanak.”
“Jika kisanak mengatakan tidak bisa apa‐apa,
tentu saja mati. Hanya orang matilah yang tidak bisa apa‐apa.”
terang Syekh Siti Jenar.
“Benar perkataan kisanak, Syekh.” Kebo Benowo mengagguk. “Namun maksud tidak
bisa apa‐apa disini bahwa
ilmu yang saya miliki jauh dibawah kehebatan ilmu Syekh.”
“Ya,” Syekh Siti Jenar mengangguk. “Itu bukan berarti bahwa saya lebih hebat
dari kisanak. Hanya kisanak belum
menemukan ilmu yang saya miliki.”
“Itulah yang saya inginkan dari Syekh. Beritahu saya cara menemukan ilmu tadi.”
ucap Kebo Benowo.
“Akan saya tunjukan. Ikutlah kisanak ke padepokan saya!” Syekh Siti Jenar
membalikan tubuhnya, kemudian
melangkahkan kakinya dengan tenang.
“Terimaksih, Syekh.” Kebo Benowo dan kedua temannya sangat senang akan diberi
ilmu hebat yang dimiliki oleh
Syekh Siti Jenar. ***
Walisongo terus menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Sunan Kalijaga berbeda
cara dengan wali lainnya.
Lebih menyukai berbaur dengan rakyat kebanyakan, tanpa mengenakan pakaian serba
putih seperti yang lainnya.
“Kanjeng Sunan Kalijaga, ternyata pendekatan budaya lebih bisa diterima
ketimbang hanya membawa pesan
belaka.” ujar Sunan Bonang.
“Karena antara kita dengan mereka nyaris tidak ada jarak pemisah.” jawab Sunan
Kalijaga. “Ternyata hanya
dengan cara berpakaian saja, mereka sudah sulit didekati.”
“Benar,” Sunan Bonang memaksakan tersenyum. “Namun dibalik keberhasilan andika
ternyata menuai protes dari
sebagian wali, terutama Kanjeng Sunan Giri. Hingga pada hari ini andika harus
menghadap mereka dipersidangan
para wali.” tambah Sunan Bonang.
“Tidak mengapa Kanjeng Sunan Bonang. Itulah resiko yang harus saya tanggung.
Asalkan saya tidak menyimpang
dari ajaran Islam,” Sunan Kalijaga menghela napas, seraya kakinya tetap
melangkah beriringan dengan Sunan
Bonang. “Saya menyimpang hanya dalam soal budaya, yang semestinya tidak harus
terjadi perbedaan paham
seperti sekarang.”
“Mungkin salah satunya itu.” Sunan Bonang mulai menginjakan kaki di gerbang
masjid Demak. “Kita sudah
sampai, Kanjeng.”
“Silakan Kanjeng Sunan Bonang duluan,” Sunan Kalijaga memasuki masjid Demak
beriringan dengan Sunan
Bonang yang sudah terlebih dahulu masuk.
“Selamat datang, Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kanjeng Sunan Bonang.” ujar Sunan
Muria. “Silahkan duduk, Sunan
Giri dan para wali sudah menunggu.”
Keadaan hening sejenak. Para wali saling tatap satu sama lainnya, tatapan Sunan
Kalijaga beradu dengan Sunan
Giri, lalu beralih ke Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, dan terakhir
Sunan Bonang.
Sunan Kalijaga masih beradu tatap dengan Sunan Bonang, saling menembus batin,
saling bercakap. Sementara
percakapan batin mereka tidak bisa ditembus oleh sebagian wali.
“Pahamkah Kanjeng Sunan Kalijaga pada hari ini sidang para wali mengundang?”
Sunan Giri membuka
pembicaraan.
“Daripada saya menduga‐duga, alangkah lebih baiknya jika Kanjeng Sunan Giri
menjelaskan.” ujar Sunan Kalijaga
tenang.
“Tidakah andika menyadari akan tindakan yang dilakukan?” Sunan Giri melanjutkan.
“Haruskah andika mengganti
pakaian dengan mengenakan pakaian rakyat kebanyakan?”
“Itukah yang ingin Kanjeng Sunan Giri persoalkan?” tatap Sunan Kalijaga.
“Benar, karena tidak selayaknya seorang wali mengenakan pakaian serba hitam
seperti halnya rakyat kebanyakan.
Sudah semestinya seorang ulama atau wali memiliki ciri dengan mengenakan
pakaian kebesaran yang serba putih,
bersorban, dan lainnya.” urai Sunan Giri.
“Apakah setiap orang yang mengaku muslim akan batal keislamannya jika
seandainya tidak berpakaian serba
putih dan mengenakan sorban serta jubah?” tanya Sunan Kalijaga.
“Tentu tidak. Selama dia tidak murtad atau keluar dari agama Islam.” jawab
Sunan Giri.
“Lalu apakah yang salah pada diri saya?” kembali Sunan Kalijaga bertanya.
“Karena andika tidak mengenakan pakaian seperti halnya wali lain. Bukankah
pakaian itu cermin dari seseorang
yang mengenakannya? Juga pakaian serba putih itu ciri para wali?” ujar Sunan
Giri.
”Saya tidak bisa disebut seorang ulama atau wali karena tidak mengenakan sorban
dan pakaian serba putih? Jika
hal itu alasannya maka saya tidak keberatan meski tidak disebut seorang ulama
atau pun wali. Karena tujuan saya
bukanlah ingin mendapat julukan dan dielu‐elukan
banyak orang. Namun tujuan utama saya adalah berdakwah di
tanah Jawa ini agar orang mau berbondong‐bondong
masuk Islam, tanpa harus dibatasi oleh cara berpakaian dan
latar belakang budaya yang mereka anggap asing.” urai Sunan Kalijaga. “Untuk
keberhasilan dakwah saya rela
menanggalkan jubah putih, serta berbaur dengan rakyat jelata. Itu cara saya.
Jika cara saya berbeda dengan
Kanjeng Sunan Giri itu hanyalah masalah teknis, bukankah aqidah kita tetap
sama?”
Sunan Giri sejenak terdiam. Dahinya tampak dikerutkan, seakan‐akan merenungi ucapan Sunan Kalijaga. Belum
juga dia berbicara, Sunan Kalijaga melanjutkan perkataannya.
“Bukankah rakyat kebanyakan berbondong‐bondong
masuk Islam, mereka tidak segan lagi bersama‐sama
saya
untuk melakukan shalat berjamaah? Lantas sasaran Kanjeng Sunan Giri sangatlah
terbatas, dengan hitungan tidak
terlalu banyak dan ekslusif. Karena Kanjeng Sunan Giri menerapkan metode dakwah
serta sasaran tertentu
menurut Kanjeng.” ujar Sunan Kalijaga.
“Setelah saya renungkan dan saya pikirkan, baiklah kita tidak harus saling
memaksaan dalam urusan metode
dakwah.” Sunan Giri mencair. “Saya kira andika telah menyimpang dari Islam
seiring dengan ditanggalkannya
jubah putih, ternyata hanya cara yang berbeda.”
“Kenapa saya harus mengingkari ajaran Islam? Padahal dengan susah payah saya
meraihnya. Tidak mungkin saya
melepaskan ajaran Islam dari diri saya seperti halnya saya menanggalkan jubah
putih. Itu berbeda, Kanjeng Sunan
Giri.” tukas Sunan Kalijaga. “Saya lebih memilih melakukan pendekatan budaya,
ketimbang menggunakan tata
cara yang bersipat asing bagi mereka.”
Masjid Demak Bintoro sejenak dalam keadaan hening. Tidak terdengar lagi suara
yang bercakap‐cakap, selain
bergeraknya tasbih di tangan para wali.
***
“Inilah padepokanku, Kisanak!” ucap Syekh Siti Jenar.
“Indah dan asri pemandangannya, Syekh.” Kebo Benowo tercengang melihat
keindahan Padepokan Syekh Siti
Jenar. Udaranya sejuk, keadaannya tenang, pohon hijau berselang dengan tanaman hias
memagari jalan setapak
yang sedikit menanjak menuju gerbang padepokan.
“Tentu saja harus indah dan asri, karena Allah itu Maha Indah. Kita selaku
umatnya sudah seharusnya
menciptakan suatu keindahan, agar kita mudah menyatukan diri dengannya. Kita
berdialog dengan Allah, yang
memiliki segala hal dan menciptakan segala makhluk.” terang Syekh Siti Jenar.
“Masuklah kisanak!”
“Terimakasih, Syekh.” Kebo Benowo, masuk lebih dulu diikuti kedua teamnnya.
“Sebab jika kita merasa tertarik pada sesuatu, tentu saja kita akan selalu
ingin memandangnya dan merasa
kerasan untuk menikmatinya.” Syekh Siti Jenar duduk bersila di atas tikar
pandan. Dihadapannya Kebo Benowo
dan kedua temannya.
“Sungguh benar yang Syekh katakan.” ucap Kebo Benowo datar.
“Namun ruangan ini cukup luas, banyakkah orang yang berkumpul disini dan
berguru pada, Syekh?” matanya
mengitari seluruh ruangan.
“Untuk apa saya membuat ruangan sebesar ini jika tidak ada orang yang mau
menempatinya.” Syekh Siti Jenar
melirik ke arah gerbang padepokan. “Lihatlah disana!”
“Banyak sekali orang yang sedang menju ke padepokan ini?” Kebo Benowo dan dua
temannya tercengang,
melihat rombongan orang yang berduyun‐duyun
memasuki gerbang padepokan. “Jika demikian, bukanlah kami ini
murid Syekh yang pertama.”
“Itulah sebuah kenyataan.” ujar Syekh Siti Jenar tenang.
“Jika demikian saya tidak akan bisa berkonsentrasi menyerap ilmu yang akan
diajarkan Syekh?” wajah Kebo
Benowo menggambarkan kekhawatiran.
“Mengapa tidak, Kisanak? Sebab saya tidak memiliki ilmu apa pun, dan tidak pula
menganggap istimewa satu
sama lainnya. Karena mereka memiliki asal yang sama dan kembali pada tempat
yang sama.” terang Syekh Siti
Jenar.
“O,…” Kebo Benowo dan temannya mengangguk‐anggukan
kepala. Namun tetap dalam hatinya merasa keberatan
jika harus berjubel dan belajar dengan banyak orang. Karena tujuan mereka
berguru ingin memiliki ilmu lebih
dibandingkan dengan orang lain, tujuannya pun untuk menguasai orang lain.
Pengikut dan murid Syekh Siti Jenar yang jumlahnya cukup banyak mulai memasuki
ruang padepokan. Satu
persatu mulai mengambil tempat duduknya masing‐masing.
Duduk bersila, berjejer memadati ruangan,
pandangannya luru ke depan, memandang Syekh Siti Jenar dengan takjub.
“Baiklah, jika semuanya sudah berkumpul kita mulai pelajaran ini.” Syekh Siti
Jenar mulai mengajarkan ilmunya.
“Saya akan memulai dengan pertanyaan. Darimanakah asalnya manusia?” matanya
mulai memandang muridnya
satu persatu.
“Tentu saja manusia berasal dari kedua orang tuanya.” jawab Loro Gempol.
“Terutama sekali ibunya yang
melahirkan. Saya rasa semua orang juga tahu, Syekh.” urainya sangat percaya
diri.
“Jika jawabannya seperti itu, semua orang tahu. Maka saya tidak perlu
memberitahukannya lagi.” terang Syekh
Siti Jenar.
“Lalu bagaimana menurut, Syekh?” Kebo Benowo menindaklanjuti pertanyaan
temannya. “Secara lahiryah,
manusia dilahirkan oleh seorang ibu. Ibu pun tidak akan bisa melahirkan tanpa
pasangannya yang bernama
suami.” sejenak menghentikan ucapannya. Matanya mulai menyisir wajah para
muridnya yang dengan khusu
memperhatikannya.
“Ya, kami tahu.” Loro Gempol yang tidak sabaran selalu menyela. “Syekh,
kedatangan kami kesini bukan untuk
mempelajari ilmu seperti itu. Tapi kami meminta kesaktian yang Syekh punyai.”
Loro Gempol seraya bangkit dari
duduknya, tabiat rampoknya mulai tumbuh kembali.
Andika terlalu tergesa‐gesa, Kisanak.” Syekh Siti Jenar mengayunkan telunjuk dari
tempat duduknya.
”Akkkhhhhh! Tolong!” tiba‐tiba Loro Gempol terbanting, dan roboh di atas lantai.
“Bukankah saya belum selesai berbicara?” Syekh Siti Jenar tidak mengubah posisi
duduknya, “Mana bisa orang
mendapatkan ilmu ma’rifatullah jika tidak bisa mengendalikan emosi.”
“Aduhhhh…” Loro Gempol memijat‐mijat bokongnya yang terasa sakit
akibat benturan. “Maafkan saya, Syekh.”
“Kembalilah andika ke tempat duduk!” perintah Syekh Siti Jenar.
Sementara yang lainnya tidak ada yang berani menentang, apalagi berujar yang
tidak karuan di depan orang yang
memiliki tingkat kesaktian tinggi. Mereka termasuk para murid yang taat, karena
sudah mulai mendalami
sebagian ilmu yang diajarkannya.
“Kenapa andika ceroboh, Gempol?” Kebo Benowo berbisik pada Loro Gempol yang
telah duduk kembali
disampingnya. “Bukankah andika sudah tahu, bagaimana kehebatan Syekh Siti Jenar
ketika kita rampok. Masih
untung andika tidak diusir dari padepokan ini.”
“Memang saya ceroboh, Ki Benowo. Tapi saya tidak akan mengulang kesalahan ini,”
bisik Loro Gempol. “Jika
andika mengulang kesalahan, kemungkinan besar kita akan ditolak menjadi murid
beliau.” Kebo Benowo merasa
khawatir kalau tidak memperoleh kesaktian yang dimiliki Syekh Siti Jenar.
”Lupakanlah peristiwa tadi.” Syekh Siti Jenar menghela napasnya. ”Kita kembali
pada pertanyaan semula.
Darimana asalnya manusia?”
“Darimanakah itu Syekh? Saya kira Syekhlah yang lebih tahu.” ujar Kebo Benowo.
“Manusia berasal dari Allah. Dari dzat Allah yang menciptakannya. Seluruh
manusia yang belum lahir kedunia ini
berada pada suatu tempat yang bernama ‘bahrul hayat’.” berhenti sejenak.
“Apakah itu, Syekh?” tanya Kebo Benowo.
“Yaitu tempat hidup dan kehidupan. Disitu manusia merasakan kenikmatan yang
tidak ada taranya. Manusia
tidak pernah merasakan lapar, sakit, sedih, duka, lara, bahkan bahagia. Itu
karena sangking nikmatnya kehidupan
sebelum lahir ke dunia. Kita merasakan penderitaan, kesedihan, kemiskinan dan
sebangsanya karena telah
terlahir ke dunia ini. Bukankah sebelumnya kita tidak pernah merasakan
penderitaan dan kemiskinan…” urai
Syekh Siti Jenar.
Para murid Syekh Siti Jenar sejenak merenungkan uraian gurunya. Mereka ada yang
bisa mencerna dan
memikirnnya, namun ada juga yang belum memahami maksud uraian tadi.
“Jadi dunia ini tempatnya kita menjalani kesedihan, kemiskinan, kemelaratan,
penderitaan, tertawa, bergembira.
Setelah semuanya secara berurutan atau tidak kita alami, maka kembali berputar.
Setelah sedih kita akan
bahagia, setelah bergembira kita akan menangis….dan seterusnya.” Syekh Siti
Jenar memandang ke setiap sudut.
“Jika demikian kehidupan dunia ini berbeda dengan alam asal muasal kita, yang
didalamnya tidak pernah terasa
kesedihan, tidak pernah pula setelah bergembira kemudian bersedih. Bukankah
disana nyaris kita tidak pernah
merasakan apa pun, Syekh?” ujar Kebo Benowo, seraya menatap wajah Syekh Siti
Jenar yang memancarkan
cahaya.
“Benar. Alam asal muasal manusia adalah alam milik dzatnya. Sehingga kita pun
berada didalam kenikmatannya.
Berbeda dengan alam yang sedang kita jalani sekarang.” lanjut Syekh Siti Jenar,
tangan kanannya tetap
memegang tasbih, sementara tatapan matanya terus berputar.
Waktu terus merangkak pelan, menggiring para murid Syekh Siti Jenar pada
ajarannya. Mereka semakin khusuk
mendengarkan, hati mulai terbuka akan segala hal yang sebelumnya tidak
diketahui.
***
“Syekh, andika membawa ajaran Islam. Padahal agama yang saya kenal sebelumnya
adalah Hindu dan Budha.”
ujar Kebo Kenongo. “Namun stelah saya perhatikan ternyata inti dari ke tiga
agama tersebut memiliki
kesaamaan.”
“Benar, Ki Ageng Pengging.” ucap Syekh Siti Jenar, matanya menatap tajam wajah
lelaki yang masih keturunan
Majapahit. “Semua agama sebenarnya dari asal yang satu. Itulah tadi yang saya
uraikan.”
“Saya paham dan tertarik untuk mengambil kesamaan dari ke tiga ajaran tadi.”
tambah Kebo Kenongo. “Hanya
yang membedakan agama‐agama tadi adalah lelaku lahiryahnya saja.”
“Benar, Ki Ageng Pengging. Sebab hakikatnya sama, mencari yang namanya Sang
Pencipta, Sang Pemilik, Sang
Maha Perkasa.” ujar Syekh Siti Jenar, seraya jari jemari tangannya memberi
gambaran simbol pada Kebo Kenongo.
“Kita hanya bisa merasakan nikmat saat bergumul dengan Dzat Yang Maha Kuasa.
Mungkin syariat dari ajaran
Hindu dan Budha bersemadi, mungkin orang Islam dengan tata cara berdzikir,
berdoa, dan Shalat. Tapi semua itu
hanyalah bentuk pendekatan secara jasadiah saja, sedangkan batinnnya tertuju
pada Yang Maha Segalanya.” urai
Syekh Siti Jenar.
“Benar, Syekh.” Kebo Kenongo sejenak memandang ke arah puncak gunung,
“Kenikmatan kita saat bersemadi
ketika wujud kita telah menyatu dengannya.”
“Itulah Manunggaling Kawula Gusti.” terang Syekh Siti Jenar pelan. Lalu bangkit
dari duduknya, melangkah pelan
menyusuri jalan setapak di ikuti Kebo Kenongo menuju padepokan.
“Mereka sedang memperbincangkan apa di atas sana?” Loro Gempol melirik ke arah
Kebo Benowo yang sedang
berdiri di halaman padepokan. “Kelihatannya sangat serius.”
“Apalagi yang mereka perbincangkan kalau bukan masyalah ilmu.” jawab Kebo
Benowo datar.
“Mengapa mereka kelihatannya khusuk dan serius. Mungkinkah karena Syekh Siti
Jenar berbincang‐bincang
dengan keturunan Majapahit? Sehingga dia memperlakukan Ki Ageng Pengging lebih
istimewa dibandingkan
dengan kita, mantan rampok.” tatapan mata Loro Gempol tertuju kembali pada
Syekh Siti Jenar dan Kebo
Kenongo, mereka sedang menuruni bukit menuju padepokan.
“Andika jangan berprasangka buruk, Gempol!” Kebo Benowo memberi apalagi
mengistimewakan satu dengan
lainnya. Hanya Syekh Siti Jenar akan mudah diajak berbincang‐bincang jika kita memahami yang dibicarakannya.
Kita belum bisa dianggap selevel dengan Ki Ageng Pengging. Karena kita latar
belakangnya rampok dan tidak
pernah mengenal ajaran agama apalagi filsafat, sedangkan Ki Ageng Pengging
sudah mengenal agama‐agama
sebelum datang ajaran Syekh Siti Jenar, ditambah lagi dia orang cerdas.” urai
Kebo Benowo.
“Mungkin ya…mungkin tidak?” Loro Gempol menghentikan pembicaraannya, karena
mereka sudah mendekat.
“Andika berdua memperbincangkan saya?” Syekh Siti Jenar menatap Kebo Benowo dan
Loro Gempol.
Keduanya hanya mengangguk dan selanjutnya menundukan kepala. Karena mereka baru
menyadari kalau Syekh
Siti Jenar memiliki ilmu batin yang sangat hebat.
“Tidak mengapa, jika memang pertemuan saya dengan Ki Ageng Pengging menjadi
bahan perbincangan andika
berdua.” ujar Syekh Siti Jenar enteng. “Andika pun hendaknya bisa mencapai
tahapan yang sedang kami
perbincangkan.” melanjutkan langkahnya, di belakangnya Kebo Kenongo mengiringi.
“Inti dari ajaran Manunggaling Kawula Gusti?” Kebo Kenongo memulai lagi
perbincangan, setelah beberapa
langkah jauh dari Loro Gempol dan Kebo Benowo.
“Ya, ketika kita menyatu dengan Dzat Sang Pencipta, Allah.” terang Syekh Siti
Jenar. “Disitu terjadi penyatuan
antara Gusti dan abdinya. Setelah kita menyatu dengannya, apa masih perlu yang
namanya dzikir, shalat, ritual?”
“Bukankah tujuan dari dzikir, shalat, dan ritual itu untuk mendekatkan diri
kita dengan Yang Maha Agung?”
timpal Kebo Kenongo.
“Benar sekali Ki Ageng Pengging.” langkahnya terhenti di tepi jalan, sejenak,
lalu memandang awan yang berserak
di langit biru. “Jika kita sudah dekat apalagi menyatu dengannya masihkah kita
perlu melakukan upaya dan tata
cara pendekatan?”
“Tentu saja jawabnya tidak.” Kebo Kenongo menatap keagungan sinar yang
terpancar dari wajah Syekh Siti Jenar.
“Upaya pendekatan apalagi yang harus kita lakukan, jika kita sudah melebihi
dari dekat. Apa pun yang kita
inginkan bisa terwujud hanya dengan kalimatnya. Kun, jadi. Maka terjadilah!”
tambah Syekh Siti Jenar. “Namun
ketika kita sudah berada pada tahapan tadi, mana mungkin akan tertarik pula
dengan urusan dunia dan seisinya.
Karena lebih nikmat didalam kemanunggalan tadi dibandingkan dengan dunia dan
segala isinya.”
“Mungkin juga, Syekh.” Kebo Kenongo mengerutkan dahinya, mencoba mencerna
uraian Syekh Siti Jenar.
“Untuk meyakinkan segala hal yang saya katakan sebaiknya Ki Ageng Pengging
mencobanya.” saran Syekh Siti
Jenar.
“Saya sering melakukan semedi dan tapabrata, Syekh. Namun yang dikatakan
kemanunggalan kita dengan Sang
Pencipta itu di sisi mana?” tanya Kebo Kenongo.
“Ketika wah’datul wujud.” Syekh Siti Jenar menghela napas dalam‐ dalam. “Saya baru bisa menjelaskan lebih
mendalam jika Ki Ageng Pengging mencoba, lalu ada perbedaan dari sebelumnya.
Maka hal itu baru saya uraikan
kembali menuju Manunggaling Kawula Gusti. Sebab tidak mungkin saya mengurai
sebuah persoalan jika
seandainya Ki Ageng tidak menjelaskan terlebih dahulu hal yang mesti dibahas.”
Saya paham maksud, Syekh.” Kebo Kenongo menganggukan kepala.
***
“Saya mendapat kabar tentang pesatnya ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti
Jenar.” ujar Sunan Bonang,
duduk bersila di hadapan Sunan Kalijaga.
“Saya juga demikian, Kanjeng.” Sunan Kalijaga mengamini.
“Kenapa dia bisa berhasil dengan pesat dalam penyebaran agama Islam di tanah
Jawa. Padahal dia bukanlah
seorang wali?” Sunan Giri menyela.
”Benar, Kanjeng. Penyebaran ajaran dengan pesat di sini bukan berarti
mayoritas, sebab Kanjeng Sunan Kalijaga
pun cukup berhasil dalam upaya ini.” terang Sunan Bonang.
“Tidak lupa pula para wali yang lain.”
”Bukankah kita pun sebagai para wali telah menyisir seluruh pulau Jawa dalam
upaya penyebaran ajaran Islam?”
ujar Sunan Giri. Sunan Bonang menatap Sunan Kalijaga, berbicara melalui
batinnya.
’Bukankah maksud kita bukan urusan pesatnya penyebaran yang akan dibicarakan.
Tetapi tentang isi ajaran yang
disampaikannya.’
‘Itulah yang membuat saya khawatir, Kanjeng Sunan Bonang. Namun mudah‐mudahan yang kita khawatirkan itu
tidak..’
“Kenapa andika berdua terdiam?” Sunan Giri menatap Sunan Bonang dan Sunan
Kalijaga.
“Ada apa?”
”Tidak, Kanjeng Sunan Giri. Kita hanya memaklumi saja kemampuan seorang rakyat
jelata seperti Syekh Siti Jenar
mampu mengembangkan dan menyebar luaskan ajarannya. Itu yang sedang kami
renungkan.” terang Sunan
Bonang.
“Tetap saja pesatnya ajaran yang dia bawa penyebarannya tidak akan seluas para
wali, termasuk pengaruh dan
wibawanya. Mungkin hanya sekelompok kecil saja yang kemungkinan terserak di
pelosok Negeri Demak
Bintoro.” ujar Sunan Giri. “Namun itu bukan sebuah persoalan selama dia tidak
menyimpang dari aturan para
wali.”
‘Apa boleh buat, justru itulah nantinya akan menuai persoalan.’ batin Sunan
Bonang.
‘Namun biarlah waktu yang menjawab, Kanjeng. Sebab kita tidak mungkin bisa
merubah alur kehidupan yang
akan terjadi. Bukankah kita hanya sebatas mengetahui dengan keterbatasan ilmu
kita, Kanjeng.’ urai Sunan
Kalijaga dengan bahasa batinnya.
***
Prajurit Demak yang pernah berhadapan dengan Syekh Siti Jenar, si Kerempeng dan
si Tambun sedang
berbincang‐bincang di bawah pohon beringin menunggu giliran berjaga di
gerbang alun‐alun Demak Bintoro.
“Syekh Siti Jenar ternyata temannya para wali.” ujar si Tambun. “Namun apakah
dia juga termasuk salah seorang
wali di antara wali songo?” matanya menatap si Kerempeng.
“Tanyakan saja pada Kanjeng Sunan Kalijaga. Jangan pada saya!” jawab si
Kerempeng tinggi.
“Tapi jika melihat kesaktian dan kehebatan ilmunya saya yakin bahwa dia masih
termasuk wali.” si Tambun
mengerutkan dahinya, coba menebak‐nebak.
“Buktinya dengan Sunan Kalijaga sangat akrab, terkadang bicara
melalui tatapan matanya. Tentang pembicaraannya tidak kita pahami.”
“Andika sepertinya tertarik oleh Syekh Siti Jenar, Gendut?” si Kerempeng
berdiri.
“Benar,” jawab si Tambun tenang. “Saya jadi ingin memiliki ilmunya.”
“Kenapa mesti berguru pada Syekh Siti Jenar yang tidak jelas asal usulnya?
Bukankah Kanjeng Sunan Kalijaga juga
sangat sakti dan beliau jelas asal usulnya.” terang si Kerempeng.
“Ya, tetapi tidak mudah untuk mendapatkan ilmu dari para wali tanpa melalui
tahapan‐tahapan yang berat.” ujar
si Tambun.
“Apa bedanya dengan Syekh Siti Jenar?” si Kerempeng menyandarkan punggung ke
pohon beringin.
“Jelas beda. Kalau Syekh Siti Jenar sangat mudah memberikan ilmu,” tambah si
Tambun.
“Tahu dari mana?” si Kerempeng penasaran.
“Itu dugaan saya.” jawab si Tambun.
“Lha, baru menduga‐duga. Saya kira sudah tahu dan yakin.” ucap si Kerempeng.
“Meskipun hanya berupa dugaan tapi saya yakin.” si Tambun membetulkan penutup
kepalanya. “Jika Syekh Siti
Jenar sangat mudah memberikan ilmu. Makanya ingin membuktikannya, kalau tahu
tempat tinggalnya atau
padepokannya akan saya datangi.” jelas si Tambun seraya mengangkat tombak,
langkah kakinya pelan menuju
gerbang alun‐alun Demak Bintoro untuk melaksanakan tugas mengganti yang
lain.
“Cari saja kalau mau!” ujar si Kerempeng melangkah dibelakangnya. “Saya rasa
mudah mencari tempat tinggal
orang sakti seperti Syekh Siti Jenar. Tentu orang‐orang
Demak Bintoro pada kenal seperti halnya para wali.” samasama
menuju gerbang alun‐alun.
“Pasti.” si Tambun mengangguk‐anggukan kepala. “Karena dia salah
seorang dari wali, hanya saja tidak termasuk
wali sembilan. Mungkin karena tidak tinggal di pusat kota Demak Bintoro.
Mungkin juga dia punya tugas lain di
pedesaan dalam penyebaran agama Islam?” langkahnnya terhenti tepat di depan
gerbang alun‐alun Demak
Bintoro.
“Kenapa andika punya dugaan, bahwa Syekh Siti Jenar seolah‐olah ditugaskan menyebarkan ajaran Islam di
Pedesaan?” tanya Si Kerempeng.
“Pertama karena dia jarang berkumpul di dalam masjid Demak. Keduanya dia sangat
terlihat akrab dengan
Kanjeng Sunan Kalijaga yang memilki kesaktian seimbang dengannya.” terang si
Tambun.
“Bisa jadi?” si Kerempeng mengerutkan dahinya. “Namun meskipun Kanjeng Sunan
Kalijaga orang sakti tapi
pembicaraannya tentang agama bisa dipahami oleh kita, berbeda dengan Syekh Siti
Jenar yang kadang‐kadang
ucapannya membingungkan kita?”
“Itulah bedanya Kanjeng Sunan Kalijaga dengan Syekh Siti Jenar.” ujar si
Tambun, berdiri tegak sambil memegang
tombak.
“Maksud andika?”
“Kalau belajar dengan Kanjeng Sunan Kalijaga untuk sampai pada tahap atas harus
bertahap, tidak bisa langsung.
Sedangkan Syekh Siti Jenar bisa loncat pada tingkatan yang kita inginkan,
buktinya dia berbicara yang tidak bisa
kita pahami, berarti sudah bisa loncat.” si Tambun mencoba menerangkan.
“Cerdas juga andika, Gendut.” ujar si Kerempeng. “Saya yakin Kanjeng Sunan
Kalijaga mengajarkan dengan
bertahap karena beliau melihat kemampuan orang yang menerima. Sedangkan Syekh
Siti Jenar tidak, makanya
pembicaraannya kadang‐kadang melantur.”
“Melantur itu menurut kita, karena kita ilmunya masih rendah. Coba saja jika
kita sudah berada pada tahapan atas
mungkin sangat paham pada setiap ucapan Syekh Siti Jenar.” bela si Tambun.
“Tida mungkin,” si Kerempeng mengerutkan dahinya. “Masa dia pernah bilang kalau
Allah itu punya empat
prajurit? Bukankah Allah itu punya para Malaikat? Kenapa mesti ada lagi
prajurit, aneh bukan?” tambahnya.
“Justru itulah, kisanak.” si Tambun tersenyum. “Saya penasaran dengan yang
disebut empat prajurit Allah oleh
Syekh Siti Jenar. Siapakah itu? Dan mengapa prajurit Allah bisa diperintah juga
oleh Syekh Siti Jenar. Kalau saya
memiliki ilmu seperti itu dan menguasai prajurit Allah seperti dia tentu
pangkat akan naik. Tdak lagi jadi prajurit
tapi jadi Raja…hahaha.”
“Mengkhayal,” si Kerempeng mencibir.
***
“Syekh, saya telah mencoba untuk menuju ‘manunggaling kawula gusti’.” Kebo
Kenongo menghampar serban di
depannya. Lalu berdiri.
“Andika sekarang akan shalat?” Syekh Siti Jenar duduk bersila di sampingnya. “Bukankah
andika telah mencoba
menuju maunggaling kawula gusti?”
“Benar, namun saya belum sampai. Sekarang saya akan shalat.” terang Kebo
Kenongo.
“Tujuan andika shalat?” Syekh Siti Jenar tersenyum.
“Bukankah shalat jalan kita untuk menuju manunggaling kawula gusti, Syekh?”
Kebo Kenongo mengerutkan
dahinya.
“Bukan.” ujarnya pendek. Syekh Siti Jenar memutar tasbih seraya mulutnya komat‐kamit berdzikir.
“Apakah harus berdzikir menuju maunggaling kawula gusti, Syekh?” tanyanya
kemudian.
“Tidak juga.” jawab Syekh Siti Jenar pendek.
“Lantas, untuk apa shalat dan berdzikir?” kerutnya. “Bukankah Syekh pernah
mengatakan kalau semua itu upaya
untuk mendekatkan diri dengan Allah?”
“Jika itu jawaban Ki Ageng Pengging benar adanya.” Syekh Siti Jenar sejenak
memejamkan mata, kemudian
membukanya lagi dan menatap Kebo Kenongo yang masih berdiri hendak shalat.
“Bukankah mendekatkan diri kepada Allah sama saja dengan menuju manunggaling
kawula gusti?” tanya Kebo
Kenongo selanjutnya.
“Tidak juga, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar.
“Lantas?”
“Manunggaling kawula gusti sangat berbeda dengan mendekatkan diri kepada
Allah.” terang Syekh Siti Jenar.
“Perbedaannya?” keningnya semakin berkerut.
“Karena yang namanya dekat berbeda dengan manunggal. Manunggal bukanlah dekat.
Dekat bukanlah
manunggal.” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak. “Namun sekarang sebaiknya Ki
Ageng Pengging shalatlah dulu,
berceritalah setelah selesai mendirikannya.” tambahnya.
“Baiklah, Syekh.”
Keadaan di padepokan Syekh Siti Jenar sore itu terasa segar. Panas matahari
tidak menyengat seiring dengan
bayang‐bayang manusia yang kian meninggi.
Udara pegunungan terasa sejuk, pepohonan dan tumbuhan berdaun lebat menambah
suasana asri. Padepokan
yang ditata sedemikian rupa menambah khusuk para pencari ilmu.
“Syekh…” Kebo Kenongo mendekat, “Shalat saya sudah selesai.”
“Baiklah,” Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya, “Apa yang andika rasakan
saat shalat?”
“Tidak ada.”
“Tidakah merasakan sejuknya udara pegunungan? Tidakkah andika melihat kain
serban yang terhampar di tempat
sujud?” lanjut Syekh Siti Jenar.
“Tidak,” jawab Kebo Kenongo.
“Tidakkah andika mendekati Allah?” tanyanya kemudian.
“Saya tidak merasakannya. Tidak pula menjumpainya.” ujar Kebo Kenongo. “Mungkin
shalat saya terlalu khusuk.”
Syekh Siti Jenar menengadah ke langit, lalu duduk bersila di atas rumput hijau
yang dihampari tikar pandan.
Gerak‐geriknya tidak luput dari pandangan Kebo Kenongo.
“Lihatlah!” kedua tangannya ditumpuk di bawah dada. Tiba‐tiba tubuhnya mengangkat dari tikar yang
didudukinya dengan jarak satu jengkal, dua jengkal, satu hasta, dua depa.
“Apa yang terjadi, Syekh?” Kebo Kenongo garuk‐garuk
kepala, keningnya berkerut‐kerut.
“Ini hanyalah bagian terkecil akibat dari pendekatan dengan Allah…” dalam
keadaan melayang, matanya menatap
tajam ke arah Kebo Kenongo.
“Hasil pendekatan? Jadi bukan manunggaling kawula gusti?” dengan menahan kedip
Kebo Kenongo bertanya.
“Saya belum menerangkan tentang manunggaling kawula gusti. Namun kita tadi
berbicara tentang upaya
pendekatan…” terang Syekh Siti Jenar, perlahan menurukan kaki satu persatu
hingga akhirnya kembali menyentuh
tanah.
“Dengan jalan shalatkah?” tanya Kebo Kenongo. “Bukankah saya tadi waktu shalat
tidak menemukan apa pun,
bahkan tidak bisa melakukan seperti yang Syekh perlihatkan.”
“Jangan salah ini bukan shalat! Namun shalat adalah salah satu upaya untuk
mendekatkan diri kepada Allah.
Shalat tadi merupakan syari’at bagi pemeluk Islam, juga ibadah bagi hamba atau
abdi Allah. Maka hukumnya
wajib.” urai Syekh Siti Jenar, “Namun ketika orang belum lagi menemukan hakikat
dari shalat, itulah seperti yang
Ki Ageng Pengging rasakan.”
“Hampa.” desis Kebo Kenongo, seraya menatap Syekh Siti Jenar dengan penuh
kekaguman.
“Kebanyakan orang adalah seperti itu, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar
melangkah pelan.
“Jika demikian saya baru berada pada tahapan syari’at. Bisakah saya menemukan
hakikat yang dimaksud oleh
Syekh Siti Jenar?” Kebo Kenongo seakan‐akan
kehilangan gairah.
“Hakikat menuju pada pendekatan sebelum manunggaling kawula gusti, maka seperti
yang pernah saya jelaskan
pada Ki Ageng. Kita meski berbeda agama namun bukanlah andika harus memaksakan
syari’at ajaran yang saya
miliki untuk Ki Ageng kerjakan. Karena kebiasaan andika adalah bersemadi.
Bukankah dengan cara itu andika
merasakan hal yang berbeda, terutama dalam upaya pendekatan.” Syekh Siti Jenar
kembali mengurainya.
“Benar, Syekh.” sejenak Kebo Kenongo merenung.
***
“Syekh, maafkan kami menghadap.” ujar Kebo Benowo dan dua temannya.
“Katakanlah!” Syekh Siti Jenar menatap Kebo Benowo dan teman‐temannya.
“Kalau boleh, saya menginginkan ilmu yang Syekh miliki. Namun hendaknya Syekh
tidak marah terhadap
permintaan saya.” Kebo Benowo dengan nada pelan.
“Jika seandainya saya memiliki ilmu maka tidaklah keberatan untuk memberikan.
Sudah sepatutnya ilmu itu
diamalkan.” jawab Syekh Siti Jenar. “Ilmu jika semakin sering diamalkan dan
diajarkan maka akan semakin
bertambah. Namun sebaliknya jika ilmu itu tidak pernah diamalkan (dibagikan)
apalagi kikir untuk
mengajarkannya, secara perlahan akan hilang dari diri kita. Hendaklah tidak
ditukar dengan emas atau uang,
apalagi dijual belikan, kalau tidak ingin hilang hakikatnya.” urainya kemudian.
“Ya, Syekh. Jadi kalau begitu saya bisa memohon kepada Syekh untuk diajari
ilmu.” Kebo Benowo semeringah
kegirangan. “Ternyata Syekh sangatlah baik, berbeda dengan orang‐orang yang memiliki ilmu tinggi lainnya.
Mereka selalu meminta imbalan, kalau tidak berupa tumbal.”
“Apa yang andika inginkan dari ketidaktahuan saya?” tanya Syekh Siti Jenar.
“Syekh selalu merendah. Saya menginginkan ilmu untuk bertarung, dan ilmu untuk
mengubah daun menjadi
emas.” ujar Kebo Benowo.
“Bukankah andika sudah jago bertarung? Mengapa mesti saya yang mengajari?”
Syekh Siti Jenar membetulkan
duduknya. “Untuk apa bisa mengubah daun menjadi emas?”
“Dalam urusan bertarung secara fisik saya bisa. Namun saya masih kalah dengan
ilmu Syekh waktu bertarung saat
itu.” Kebo Benowo menelan ludah. “Juga jika saya bisa mengubah daun menjadi
emasmaka saya akan menjadi
orang kaya raya seantero negeri Demak Bintoro.”
“Baiklah, pelajarilah itu.” ujar Syekh Siti Jenar.
“Bagaimana cara mempelajarinya?” tanya Kebo Benowo mengerutkan keningnya.
“Dekatkanlah diri andika pada Sang Pencipta, niscaya apa pun yang andika
inginkan akan terkabul. Karena Sang
Penciptalah yang memiliki segalanya.” terang Syekh Siti Jenar.
“Caranya itu yang susah, Syekh. Harus bagaimana?”
“Banyak cara untuk menuju Allah. Laksanakanlah itu, baru andika akan bisa.
Mintalah apa yang andika inginkan.”
terang Syekh Siti Jenar.
“Saya tidak mengerti dan paham, Syekh.” Kebo Benowo garuk‐garuk kepala. “Saya ingin langsung bisa tanpa harus
melalui tahapan rumit yang Syekh sebutkan. Mustahil Syekh tidak bisa
memberikannya.”
“Tidak mustahil bagi Allah. Jika memang Dia menghendaki. Jadi, maka jadilah.”
ujar Syekh Siti Jenar.
“Saya sudah bisa?” Kebo Benowo bangkit dari duduknya, lalu memetik selembar
daun basah dan diusapnya
dengan kedua telapak tangan. “Wahhh…benar‐benar
hebat ilmu yang Syekh berikan. Saya sudah bisa mengubah
daun menjadi emas. Terimakasih Syekh!” berjingkrak‐jingkrak kegirangan.
“Saya juga, Syekh?” Loro Gempol bangkit dan mencabut golok dari sarungnya,
“Lego Benongo, babatlah tubuh
saya dengan golok ini. Cepat!” menyodorkan golok pada temannya.
“Baik, bersiaplah!” tanpa ragu‐ragu lagi Lego Benongo membabatkan
golok pada Loro Gempol yang berdiri tegak.
“Hiaaaaaaattttt….!!!”
“Hebat, benar‐benar hebat.” Loro Gempol ternyenyum bahagia, ketika
tubuhnya dibabat oleh Lego Benongo tidak
merasakan apa pun bahkan seperti membabat angin. “Sudah, Benongo. Cukup!” lalu
duduk bersila dihadapan
Syekh Siti Jenar.
“Itu yang kalian inginkan. Sudah saya berikan.” Syekh Siti Jenar menggenggam
tasbih dengan tangan kirinya.
“Terimakasih, Syekh. Syekh telah mengajarkan dan mengamalkan ilmu kepada kami
semua dengan satu kalimat,
hingga keinginan kami tercapai.” Kebo Benowo tampak senang, begitu juga
temannya. “Kami tidak akan pernah
melupakan jasa baik Syekh, yang telah kami anggap sebagai guru. Untuk itu
izinkanlah kami pulang kampung.”
“Kembalilah, karena hanya itu yang kalian ingin raih.” Syekh Siti Jenar masih
dalam keadaan bersila, terdengar
mulutnya komat‐kamit membacakan dzikir, sambil memutar tasbih. Perlahan‐lahan tubuhnya samar dari
pandangan Kebo Benowo dan temannya. Hingga akhirnya tidak terlihat.
“E..eh, menghilang!” Kebo Benowo menggosok‐gosok
kedua matanya, begitu juga ke dua temannya. “Aneh,
kemana beliau?”
“Ya, hebat.” Loro Gempol memutar matanya menatap ke segala arah, menyisir
keberadaan Syekh Siti Jenar,
“Benar‐benar lenyap.”
“Tidak jadi soal. Karena apa yang kita inginkan telah kita peroleh. Disamping
itu kita pun sudah meminta izin untuk
kembali ke kampung. Menghilangnya Syekh Siti Jenar berarti merestui kita semua.
Mari kita turun dari padepokan
ini!” Kebo Benowo bangkit dari duduknya, diikuti temannya. Mereka pun turun
dari padepokan menuju
kampungnya.
***
“Kalian orang‐orang miskin! Sebaiknya tunduk dan takluk pada saya.” Loro
Gempol berkacak pinggang di hadapan
orang‐orang yang berbondong‐bondong
menuju tempa sabung ayam.
“Keparat! Apa maumu?” Joyo Dento pemimpin kelompok sabung ayam “Masa andika
tidak mendengar?
Bukankah saya menyuruh andika dan kawan‐kawan
agar tunduk!?” Loro Gempol dengan sorot mata
meremehkan.
“Tunduk? Jangan harap, keparat!” Joyo Dento mencabut keris dari sarungnya.
“Memangnya andika seorang
senapati? Enak saja.”
“Hahaha…ternyata andika punya keberanian Joyo Dento?” Loro Gempol tidak
bergeming melihat ketajaman ujung
keris yang terhunus.
“Kawan‐kawan, habisi dia!” perintah Joyo Dento pada temannya.
“Majulah kalian semua! Buktikan kehebatan kalian jika memang sanggup
membunuhku…hahaha!” Loro Gempol
tertawa renyah.
“Matilah andika keparat!” Joyo dento menyodokan keris ke arah uluhati. Diikuti
empat orang temannya,
menyodok perut, membabat leher, punggung, kepala, dan kaki.
“Hahahaha….hanya ini kemampuan kalian!” Loro Gempol menanatang. “Ayo
teruskan…hahaha!” sedikit pun tidak
beranjak dari tempatnya berdiri. Membiarkan lawan melakukan serangan.
“Gila?” Joyo Dento menghentikan gerakan, tenaganya merasa terkuras. Begitu pula
teman‐temannya. “Ilmu apa
yang dimiliki si Loro Gempol? Rampok kampungan ini mendadak punya kesaktian
yang luar biasa. Seluruh senjata
yang kita gunakan untuk mecabik‐cabik tubuhnya, laksana menghantam
angin?” mengerutkan keningnya.
“Percaya kalian sekarang dengan kesaktian saya?” Loro Gempol dengan tangan kiri
berkacak pingging, tangan
kanannya memutar kumis.
“Darimana andika punya ilmu sihir?” tanya Joyo Dento.
“Hahaha…ini bukan ilmu sihir bodoh! Tapi ilmu miliknya orang sakti yang berasal
dari Sang Pencipta Alam
Semesta.” ujar Loro Gempol. “Percaya kalian sekarang pada saya? Jika percaya
dan tidak punya lagi keberanian
sebaiknya jadi pengikut saya! Tunduk pada saya!”
“Mana mungkin saya harus tunduk pada andika? Sedangkan saya belum andika kalahkan.”
tantang Joyo Dento.
“Jadi kalian mau saya musnahkan ketimbang tunduk pada saya?” Loro Gempol
menghunus goloknya.
“Sebaiknya kita ikuti saja keinginannya.” ujar teman Joyo Dento, meringis
ketakutan.
“Benar, Kang. Sebaiknya kita jadi pengikutnya saja ketimbang dihabisi.” bisik
yang lainnya.
“Benar juga. Ketimbang kita mati mengenaskan.” jawab Joyo Dento, seraya kakinya
mundur beberaba langkah.
“Ayo pikirkan sekali lagi! Saya masih memberi kesempatan pada kalian. Pilih
mati atau jadi pengikut saya?” ujar
Loro Gempol sembari menyilangkan golok di depana dadanya.
“Kami menyerah saja, Ki.” ujar Joyo Dento serempak.
“Hahaha…bagus. Kenapa tidak dari tadi kalau mau menyerah, untung saja golok ini
belum bersarang pada leher
kalian.” Loro Gempol kembali menyarungkan goloknya. “Ikutlah kalian ke tempat
saya.”
***
“Syekh, ternyata saya lebih bisa merasakan mendekati Sang Pencipta dengan cara
bersemadi.” Kebo Kenongo
melangkah pelan di samping Syekh Siti Jenar.
“Karena Ki Ageng Pengging sudah terbiasa dengan cara itu.” ujar Syekh Siti
Jenar pandangannya tertunduk ke
ujung kaki.
“Benar, seperti Syekh sampaikan. Cara pendekatan dan kebiasaan ternyata tidak
mudah untuk dirubah. Namun
ketika kita menggunakan jalan yang berbeda ternyata memiliki tujuan sama.” Kebo
Kenongo menghela napas
dalam‐dalam.
“Kenapa? Ya, karena itulah yang disebut manunggal. Satu.” terang Syekh Siti
Jenar, menghentikan langkahnya
seraya matanya menatap puncak gunung yang berkabut.
“Benar, Syekh. Orang melakukan tata cara dan ritual dalam wujud pisik yang
berbeda namun tujuannya tetap
satu. Sang Pencipta.” tambah Kebo Kenongo.
“Satu harapan untuk mendapatkannya. Mendekatkannya, meraihnya, dan manunggal.”
terang Syekh Siti Jenar.
“Namun belum manunggaling kawula gusti, yang akhirnya wahdatul wujud.”
“Lantas?”
“Mereka mendekatkan diri kepadanya bukan untuk tujuan manunggal, tetapi untuk
mengajukan berbagai macam
permohonan dan keinginan. Karena mereka lebih mencintai urusan lahiriyah yang
cenderung duniawi ketimbang
urusan alam kembali, akhirat.” Syekh Siti Jenar melirik ke arah Kebo Kenongo.
“Bukankah ada juga orang yang tidak terlalu tertarik pada urusan lahiriyah
saja? Namun mereka menginginkan
kesempurnaan hidup dan masuk dalam tahap akrab dengan Sang Pencipta?” kerut
Kebo Kenongo, tatapannya
mendarat pada wajah Syekh Siti Jenar yang bercahaya.
“Itulah yang jumlahnya sangat sedikit, Ki Ageng Pengging.” lalu Syekh Siti
Jenar memberi isyarat dengan jari jemari
tangannya. “Kecenderungan orang melakukan pendekatan pada Allah karena
mengharapkan sesuatu, atau orang
tadi dalam keadaan susah. Ketika mereka merasa senang dan bahagia, lupalah
kepadanya.”
“Mengapa, Syekh?”
“Karena tujuan pendekatan mereka untuk meraih dan memohon kebaikan lahiriyah
saja.” terang Syekh Siti Jenar.
“Ketika merasa sudah terkabul keinginannya, kemudian melupakan Allah.”
“Bukankah tidak semua orang seperti itu, Syekh?” tanya Kebo Kenongo.
“Tidak, hanya hitungannya lebih banyak.” Syekh Siti Jenar melipat jari
jemarinya. “Sangat sedikit orang yang
punya kecenderungan untuk mengikat keakraban dengan Sang Pencipta. Padahal
tahap terkabulnya permohonan
mereka bukan karena akrab, tapi dalam upaya mendekat dan kemahamurahannya saja.
Jika seandainya mereka
sudah merasa akrab dan berada dalam keakraban tidak mungkin melepas ikatannya
semudah itu.” urainya.
“Jika sudah akrab saya kira tidak mungkin orang untuk menjauh. Karena untuk
mengakrabi perlu upaya
mendekatan yang memerlukan waktu tidak sebentar.” Kebo Kenongo mengangguk‐anggukan kepala.
“Ya, maka tahap akrab dengan Allah itulah ketika orang dalam keadaan ma’rifat.
Ketika kita tidak memiliki lagi
garis pemisah untuk saling bertemu. Kapan pun, dimanapun, tidak ada lagi sekat‐sekat dan ruang kosong sebagai
jeda untuk mengakrabinya.” Syekh Siti Jenar menghela napas dalam‐dalam.
“Ya, ya, benar, Syekh.” Kebo Kenongo berkali‐kali
mengangguk‐anggukan kepalanya.
“Nah, pada tahap akrab itulah kita meminta apa pun tidak mungkin tertolak. Mana
ada keakraban tanpa adanya
keterikatan kasih sayang?” Syekh Siti Jenar perlahan melangkah lagi.
“Tentu, Syekh. Saya sangat paham.” Kebo Kenongo terkagum‐kagum dengan uraian Syekh Siti Jenar.
“Keakraban dengan Allah tidak mudah. Namun ketika kita sudah berada dalam
lingkarnya tidak mudah pula untuk
melepas.” Syekh Siti Jenar berdiri mematung di bawah pohon kenanga.
“Benar, meski saya pun dengan susah payah mendekat untuk meangkrabinya belum
juga sampai. Karena upaya
saya bukan hanya untuk mendekat dan mengajukan berbagai permohonan. Namun ingin
mengakrabinya.” ujar
Kebo Kenongo. “Jika dalam keadaan sangat akrab bukankah tidak memohon pun akan
diberinya?”
“Ya,” ujar Syekh Siti Jenar. “Berjuanglah dan bergeraklah ke arah sana. Jika
sudah tercapai, keinginan lahiryah pun
secara perlahan tidak lagi menjadi persoalan yang sangat istimewa. Itu semua dirasakan
hanyalah sebagai
pelengkap lahiryah saja. Sebagai syarat hidup.”
“Benar, Syekh.” Kebo Kenongo kembali mengiringi langkah Syekh Siti Jenar.
“Padahal tidak hanya Raden Patah
yang memiliki darah biru dan sekarang menjadi Penguasa Demak Bintoro. Saya pun
masih keturunan Majapahit.
Namun saya tidak punya hasrat sedikit pun untuk menjadi penguasa. Tujuan saya
bukan itu, tetapi seperti Syekh
terangkan tadi.”
“Keinginan lahiryah itulah yang memenjarakan kita menuju ma’rifat. Ruang kosong,
antara, jarak, jeda, pemisah,
yang merintangi keakraban kita dengan Sang Pencipta.” terang Syekh Siti Jenar.
“Perintang tadi berupa semua
keinginan lahiryah yang distimewakan oleh nafsu keduniawian, karena ingin
berkuasa, ingin kekayaan, dan banyak
keinginan. Itu semua yang dinomor satukan. Lahirnya keserakahan.”
“Jika itu yang masuk ke dalam jiwa dan pikiran, hati ini akan terasa gelap.”
ujar Kebo Kenongo. “Mana mungkin
menuju akrab untuk mendekat pun kita harus mencari cahaya jika tidak tentu
membabi buta.”
“Nah, itulah penggoda manusia untuk meraih keakraban dengan Allah. Jernihkan
hati, tenangkan jiwa, damaikan
gejolak nafsu, merupakan upaya untuk membuka jalan keakraban.” tambah Syekh
Siti Jenar. “Manusia terkadang
sangat sulit menyusuri jalan yang penuh dengan godaan tadi. Karena dalam
dirinya memiliki nafsu yang sangat
sulit untuk dikendalikan. Itulah upaya perjuangan menuju keridloannya. Menuju
akrab pada Allah. Terkadang
manusia hanya sebatas berucap dibibir, bahwa dirinya telah akrab tetapi dalam
kenyataannya tidak. Lalu
mengakui bahwa saya telah ma’rifat. Sebenarnya ma’rifat bukan sebuah pengakuan,
tetapi realitas dalam tahapan
akrab. Terbelenggulah dengan ikatan kata‐kata.”
“Ya.” Kebo Kenongo menghentikan langkahnya seiring dengan Syekh Siti Jenar.
“Adakah perbedaan antara
ma’rifat dengan akrab? Atau memang sama ma’rifat adalah akrab, sedangkan akrab
adalah ma’rifat?” tanyanya
kemudian.
“Orang yang sudah ma’rifat tentu akrab. Orang yang sudah akrab tentu sudah
ma’rifat.” terang Syekh Siti Jenar,
jubahnya yang berwarna hitam berlapis kain merah tersibak angin pegunungan.
“Ma’rifat itu sendiri?” kerut Kebo Kenongo.
“Tahu, Mengetahui.” berhenti sejenak. “Namun tidak cukup itu, tentu saja harus
diurai dengan maksud dan
makna yang terarah. Mengetahui tentang apa? Tahu tentang apa? Tentu saja
tentang dirinya dan Tuhannya.
Bukankah terkait dengan makna akrab. Sehingga ada istilah kalau ingin mengenal
Gustimu, Allahmu, maka harus
mengenal dirimu sendiri.” Lanjut Syekh Siti Jenar.
“Saya pernah mendengar, Syekh.” Kebo Kenongo merenung. “Bukankah Tuhan itu
lebih dekat dari pada urat leher
dan lehernya, bola mata putih dengan hitamnya?”
“Tentu,” Syekh Siti Jenar melirik ke samping. “Namun itu sifatnya umum. Tidak
masuk ke dalam makna akrab.
Bahkan ma’rifat juga mungkin tidak.”
“Bukankah untuk menuju ma’rifat pun tidak mudah, Syekh? Tetapi ada tahapannya,
yaitu Syariat, hakikat,
tharikat, dan akhirnya ma’rifat.” ujar Kebo Kenongo.
“Harusnya demikian.” Syekh Siti Jenar memutar lehernya seiring dengan tatapan
matanya, tertuju ke puncak
pegunungan. “Bukan berarti orang harus memahami tahapan tadi. Karena tanpa
memahami tahapan tadi pun
orang bisa berada dalam tingkat ma’rifat, disadari atau diluar kesadarannya.
Sebab tidak semua orang wajib tahu
tentang sebuah istilah, yang penting adalah sebuah pencapaian, lantas bisa
merasakannya.”
“Bukankah istilah tadi hanya ada dalam agama Islam yang dianut Syekh sendiri.”
tambah Kebo Kenongo.
“Sedangkan dalam agama yang saya pahami tentu saja punya nama yang berbeda.”
“Benar,” timpal Syekh Siti Jenar. “Namun tetap maksudnya sama. Hanya sebutannya
saja yang berbeda. Sehingga
saya tadi mengurai seperti itu.”
“Ya.” Kebo Kenongo menganggukkan kepala.
***
“Ki, saya sudah berhasil mengumpulkan orang‐orang
untuk dijadikan pengikut kita.” ujar Loro Gempol
menjatuhkan patatnya di atas kursi rotan.
“Saya juga sama, Ki.” timpal Lego Benongo. “Mau kita apakan mereka, Ki?”
“Menurut kalian?” Kebo Benowo balik bertanya.
“Ki, bukankah andika masih keturunan dari raja‐raja
yang ada di tanah Jawa?” Loro Gempol menatap wajah Kebo
Benowo.
“Siapa turunan raja? Raja rampok yang andika maksud?” Kebo Benowo tersenyum.
“Kenapa andika pun berbicara
seperti itu, Gempol?”
“Maksud saya, tidak lain mengumpulkan banyak pengikut tidak untuk dijadikan
rampok, tapi mereka kita jadikan
prajurit yang tangguh.” terang Loro Gempol.
“Jadikan prajurit? Memang andika mau mengadakan pemberontakan pada raja Demak
yang sah?” tatap Kebo
Benowo.
“Benar, rajanya andika, Ki.” Loro Gempol menganggukan kepala. “Saya jadi patih,
sedangkan Lego Benongo
sebagai Senapati. Joyo Dento kita angkat sebagai Panglima.” terangnya.
“Andika ini tidakkah sedang bermimpi disiang bolong, Gempol.” Kebo Benowo
terkekeh.
“Mengapa bertanya seperti itu, Ki?” Loro Gempol mengerutkan dahinya. “Bukankah
andika layak menjadi seorang
raja. Kita sudah banyak pengikut. Kita punya kesaktian dan uang, yang belum
kita miliki adalah kekuasaan dan
wilayah, karena saat ini sedang dikuasai Demak. Tidak ada salahnya jika Raden
Patah kita taklukan, berada dalam
perintah kita.” urainya.
“Gempol, andika jangan berpikir terlampau jauh.” Kebo Benowo bangkit dari
duduknya.
“Kenapa aki selalu berbicara seperti itu. Tidakkah aki yakin pada kekuatan
kita, bukankah banyak pengikut, bisa
menciptakan uang, dan ilmu yang tinggi.” Loro Gempol meninggi.
“Bukan demikian maksud saya, Gempol.” Kebo Benowo diam sejenak. “Meski kita
punya banyak pengikut,
menciptakan uang dan emas, serta ilmu tinggi, tentu saja semuanya tidak
sebanding dengan kekuatan Penguasa
Demak, Raden Patah. Selain itu mereka memiliki para wali yang selalu
mendampingi dan memakmurkan masjid
demak. Mereka semua memiliki ilmu yang cukup tinggi, kita tidak ada apa‐apanya dibanding mereka.” urainya.
“Benar juga ya, Ki.” Loro Gempol mengerutkan dahinya. “Namun untuk menghadapi
para wali bukankah kita
punya guru yang hebat, Syekh Siti Jenar, beliau bisa menghadapi para wali.”
“Andika jangan berpikir seperti itu, Gempol.” Kebo Benowo bangkit dari
duduknya. “Karena Syekh Siti Jenar bukan
orang yang gila kekuasaan. Mana mungkin dia mau melakukan pemberontakan dan
meraih kekuasaan. Syekh Siti
Jenar adalah orang yang sangat bersahaja, tidak tertarik pada urusan duniawi
apalagi kedudukan dan kekuasaan.
Beliau adalah ulama yang telah menyatu dengan Sang Pencipta. Mustahil tertarik
dengan hal‐hal yang berbau
lahiryah. Karena menurut beliau kesenangan lahiryah hanyalah sekejap, yang
paling nikmat adalah ketika beliau
berada dalam tahap manunggaling kawula gusti. Bukan begitu? Tentu berbeda
dengan kecenderungan kita.”
terangnya.
“Baru terpikirkan, Ki.” Loro Gempol membetulkan duduknya. “Namun aki sendiri
apakah punya keinginan untuk
meraih kekuasaan dan menikmati kesenangan dunia?”
“Tentu saja. Karena saya orang biasa dan seperti halnya orang lain, punya
ambisi. Sebab saya bukanlah Syekh Siti
Jenar.” ujar Kebo Benowo. “Namun seandainya kita memiliki keinginan seperti
andika jelaskan tadi tentunya harus
dengan cara lain.”
“Cara lain?” Loro Gempol meletakan telunjuk di keningnya.
“Ya, karena jika ingin memberontak. Kita harus mengukur kekuatan pasukan kita,
lalu bandingkan dengan
kekuatan Demak. Pikirkan pula tentang logistik kita selama berperang, selain
itu ilmu kadigjayaan kita sudah
sejauhmana, mungkinkah bisa mengalahkan para wali yang berilmu tinggi?” ujar
Kebo Benowo.
“Benar juga, Ki.” Loro Gempol mengangguk‐anggukan
kepala.
“Itulah yang mesti kita pertimbangkan sebelum bertindak.” timpalnya. “Kita
haruslah berpikir matang jika tidak
ingin mati sia‐sia, seperti halnya anai‐anai
menyambar api.”
“Jika demikian harus bagaimana caranya, Ki?” Loro Gempol menatap Kebo Benowo,
seraya dahinya mengkerut.
“Itulah yang mesti kita pikirkan…” Kebo Benowo memijit dahinya.
Keadaan hening sejenak, pikiran mereka menerawang ke alam kejadian yang akan
datang. Berbagaimacam cara
mereka olah dan cerna, demi tercapainya ambisi kekuasaan.
***
“Lantas ketika Syekh melayang apa yang terjadi?” tanya Kebo Kenongo.
“Saya bisa melayang karena bisa mengatur berat tubuh.” Syekh Siti Jenar menatap
langit, “Lihatlah di sana, Ki
Ageng! Mengapa burung itu bisa beterbangan, lalu saling kejar di ketinggian
yang tidak bisa kita jangkau karena
keterbatasan.”
“Tapi kenapa syekh sendiri bisa meloncati keterbatasan tadi?”
“Sebenarnya bukan saya bisa meloncati keterbatasan, namun kita bisa mengatur
batas, menjauh dan
mendekatkan.” terang Syekh Siti Jenar.
“Maksud Syekh?” kerut Kebo Kenongo. “Samakah dengan yang saya dengar tentang
Isra Mi’rajnya Nabi
Muhammad?”
“Ya, namun berbeda.”
“Maksudnya?”
“Jika Rasululah Isra Mi’raj dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Sedangkan saya
tidak.” ujar Syekh Siti Jenar.
“Saya kurang paham, Syekh?” Kebo Kenongo memijit keningnya.
“Ya, saya tidak bisa seperti Rasulullah. Sebab saya bukan beliau…” terang Syekh
Siti Jenar. “Namun saya bisa
menyatu dengan kekuatannya dan dzatnya. Hingga ketika saya menghendaki berada
di pusat Negeri Demak
dengan sekejap itu bukan persoalan yang mustahil.” tambahnya.
“Benarkah itu, Syekh?” Kebo Kenongo semakin mengkerutkan dahinya.
“Jika Ki Ageng Pengging ingin bukti, maka tataplah saya! Jangan pula Ki Ageng
berkedip! Karena kepergian saya ke
pusat kota Demak Bintoro bagaikan kedip, kembali pun dihadapan Ki Ageng seperti
itu pula. Saya dari pusat Kota
Demak Bintoro akan membawa makanan segar.” usai berkata‐kata, samarlah wujud Syekh Siti Jenar, hingga
akhirnya lenyap dari pandangan Kebo Kenongo.
“Lha,” Kebo Kenongo menggosok‐gosok kedua matanya. “Benarkah yang
sedang terjadi dan kuperhatikan ini?”
“Inilah makan segar dari pusat kota Demak Bintoro, Ki Ageng.”
“Lha, aih..aih..!” Kebo Kenongo terperanjat, ketika dihadapannya Syekh Siti
Jenar sudah berdiri kembali seraya
menyodorkan makanan hangat dengan bungkus daun pisang.
“Itulah yang bisa saya lakukan, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar, seraya duduk
bersila di atas hamparan tikar
pandan, dihadapannya terhidang dua bungkus makanan hangat yang beralaskan daun
pisang. “Sekarang marilah
kita makan alakadarnya.”
“Ya,” Kebo Kenongo hanya menjawab dengan anggukan. “Saya tidak sanggup untuk
memikirkannya, Syekh?
Kenapa andika hanya dalam kedip pergi ke pusat kota Demak Bintroro untuk
mendapatkan hidangan makan pagi.
Padahal jika kita bejalan dari padepokan ini ke pusat kota Demak memakan waktu
satu hari satu malam?”
“Benar, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar mengangguk. “Namun bukankah kita
tidak sedang berbicara tentang
perjalanan jasad?”
“Maksud, Syekh?”
“Ingatkah Ki Ageng Pengging ketika saya pernah bercerita tentang Kanjeng Nabi
Sulaiman AS.?” ujar Syekh Siti
Jenar.
“Yang pernah Syekh baca dari ayat suci Alquran itu? Saya agak lupa.” Kebo
Kenongo menempelkan telunjuk
didahinya.
“Ketika Kanjeng Nabi Sulaiman meminta kepada para pengagung negaranya untuk
memindahkan kursi Ratu Balqis
ke istananya. Siapakah yang bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam waktu
yang sangat cepat, hingga jin
Iprit menyanggupi.”
“Ya, saya ingat, Syekh.” Kebo Kenongo tersenyum. “Namun bukankah Jin Iprit itu
terlalu lama menurut Kanjeng
Nabi Sulaiman, karena dia meminta waktu saat Baginda Nabi bangkit dari tempat
duduk maka singgasana akan
pindah…”
“Benar, waktu seperti itu lama menurut Kanjeng Nabi Sulaiman. Karena bangkit
dari duduk memerlukan waktu
beberapa saat. Hingga berkatalah seorang ulama serta mengungkapkan
kesanggupannya, yaitu hanya sekejap.
Kanjeng Nabi Sulaiman berkedip maka Singgasana Ratu Balqis pun akan berhasil
dia bawa. Hanya satu kedipan.”
terang Syekh Siti Jenar. “…dan terbuktilah kehebatan ulama tadi.”
“Ya, benar, Syekh.” ujar Kebo Kenongo, “Itulah ilmu Allah. Mana mungkin bisa
dicerna dan dipahami dengan
keterbatasan berpikir manusia.”
“Tidak semua manusia seperti itu, Ki Ageng.” terang Syekh Siti Jenar. “Itulah
manusia kebanyakan, terkadang
perkataannya dan pendalamannya dibidang ilmu dangkal. Namun meski pun memiliki
kedangkalan berpikir
terkadang dalam dirinya mencuat pula rasa angkuh dan sombongnya. Jika hal itu
terjadi maka akan gelap untuk
meraba dan meraih yang saya maksud.”
“Benar, Syekh. Hanya kejernihan berpikir dan menerima yang bisa membukakan
kebodohan dan kekurangan diri
kita…” timpal Kebo Kenongo. “Namun dalam uraian tadi apa yang membedakan
kehebatan ilmu yang dimiliki oleh
Jin Iprit dan Ulama?”
“Tentu saja sangat berbeda.” Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya, seraya
menatap langit. “Jin itu makhluk gaib,
tidak aneh bagi bangsa mereka terbang, melayang‐layang
di angkasa, melesat secepat angin, menembus lubang
sekecil lubang jarum, bahkan merubah wujud berbentuk apa pun yang
dikehendakinya.”
“Bisa pula tidak terlihat oleh manusia?”
“Sangat bisa. Ya, karena memiliki sifat ghaib itulah. Hanya orang‐orang tertentu saja yang bisa menembus alam
jin. Sebaliknya hanya jin tertentulah yang bisa menampakan diri pada manusia.”
terang Syekh Siti Jenar. “Sehebat
apa pun bangsa jin tentunya tidak bisa melebihi manusia.”
“Bukankah pada zaman ini banyak pula orang‐orang
yang memiliki ilmu jin bahkan mengabdikan diri, karena ingin
mendapat kesaktiannya.” timpal Kebo Kenongo. “Para dukun sakti saya rasa tidak
terlepas dari kekuatan dan
kesaktian atas bantuan bangsa jin yang dijadikan tuannya.”
“Itulah kedangkalan berpikir manusia, Ki Ageng. Mereka tidak melihat asal usul,
jika manusia itu makhluk yang
paling mulia di banding yang lainnya. Termasuk jin.”
“Jika demikian, Syekh. Berarti kita harus menaklukan jin agar bisa memerintah
mereka dan memanpaatkan
kekuatannya. Namun apa mungkin kita bisa menaklukan jin?”
“Kenapa tidak mungkin. Bukankah Kanjeng Nabi Sulaiman sendiri prajuritnya
terdiri dari bangsa jin, selain
binatang dan manusia?”
“Tapi untuk menaklukan bangsa jin tentu saja ilmu kita harus di atas mereka,
Syekh?”
“Tentu saja, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar. “Namun jika kita sudah memiliki
ilmu dan kesaktian sebetulnya
menjadi tidak perlu memiliki dan menaklukan jin. Karena kita bukan raja seperti
Kanjeng Nabi Sulaiman, yang
memerlukan prajurit dan abdi setia. Untuk dijadikan balatentara dan membangun
negara, dengan arsitek‐arsitek
yang kokoh. Jin dijaman Nabi Sulaiman di suruh menyelami laut untuk mengambil
mutiara, di suruh membangun
keraton berlantaikan kaca yang membatasi kolam dibawahnya.”
“Meski bukan raja kita juga butuh prajurit pengawal, Syekh?”
“Saya rasa tidak perlu bangsa jin yang dijadikan prajurit pengawal. Bukankah
Kanjeng Nabi Muhammad juga tidak
dikawal oleh bangsa jin, namun selalu disertai oleh Malaikat Jibril kemana pun
beliau pergi.”
“Lalu haruskah Kanjeng Nabi menundukkan Malaikat agar mengawalnya? Sakti mana
dengan jinnya Kanjeng Nabi
Sulaiman?”
“Tentu saja Malaikat itu lebih sakti dari bangsa jin. Karena yang mencabut
nyawa jin juga Malaikat seperti halnya
nyawa manusia. Kanjeng Nabi Muhammad pun tidak perlu menundukan Malaikat, karena
dengan sendirinya
Malaikat akan di utus oleh Allah untuk menyertai orang‐orang shalih. Apalagi Malaikat Jibril sebagai pembawa
wahyu Allah yang disampaikan kepada Kanjeng Nabi Muhammad.” urai Syekh Siti
Jenar.
“Syekh sendiri siapa yang mengawal?”
“Karena saya manusia biasa, bukan nabi dan juga keshalihannya tidak saya
ketahui, entahlah. Mungkinkah Allah
mengutus Malaikat untuk mengawal atau tidak saya tidak tahu. Yang jelas saya
tidak dikawal oleh bangsa jin…”
Syekh Siti Jenar kembali duduk bersila.
“Tapi kenapa Syekh memiliki kesaktian?”
“Ya, itu sedikit ilmu yang saya pelajari dari keMaha Besaran Allah. Mungkin
yang mengawal saya kemana pun
pergi adalah ilmu yang saya miliki. Sehingga dengan ilmu itu saya pun bisa
memanggil prajurit Allah yang empat.”
tambah Syekh Siti Jenar.
“Prajurit Allah?” kerut Kebo Kenongo. “Apakah para Malaikat? Kalau di dalam
agama saya para Dewa dan Hyang
Jagatnata, penguasa triloka.”
”Prajurit Allah bukan Malaikat. Saya tidak akan berbicara tentang para Dewa.”
berhenti sejenak, lalu tatapan
matanya menyapu wajah Kebo Kenongo.
“Namun yang akan saya bicarakan prajurit Allah. Ingat bukan Malaikat,”
“Kenapa bukan Malaikat? Bukankah Malaikat bisa mencabut nyawa manusia dan
bangsa jin yang goib?” tanya
Kebo Kenongo.
“Meskipun demikian Malaikat hanyalah makhluk Allah, tidak beda dengan kita.
Hanya yang membedakan kita
dengan Malaikat, dia adalah goib. Malaikat memiliki keimanan tetap dan tidak
pernah berubah, berbeda dengan
bangsa manusia dan jin. Namun meski bagaimana pun tetap saja manusia makhluk yang
paling mulia, tetapi
sebaliknya derajat kemulian yang diberikan Allah kepada manusia akan lenyap.
Bahkan manusia akan didapati
sebagai makhluk yang lebih rendah dan hina dibawah binatang.” urai Syekh Siti
Jenar.
“Lalu prajurit yang dimaksud?”
”Yang dimaksud prajurit tentu saja penyerang, penghancur, perusak, dengan
segala tugas yang diembannya.”
“Mungkinkah mirip dengan Dewa Syiwa?”
“Mungkin, Ki Ageng.” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak. “Sedangkan prajurit
Allah yang empat disini pun fungsi
dan tugasnya untuk menghancurkan, merusak, dengan tujuan manusia berbalik pada
jalan lurus. Mengingatkan
kekeliruan yang pernah diperbuat oleh para khalifah bumi. Tujuannya tentu saja
menyadarkan, jika yang
menedapatkan taufiq dan hidayah. Adzab dan siksa bagi mereka yang tidak pernah
mau bertobat dan kembali
kepada jalan yang lurus.”
“Lalu siapa yang dimaksud dengan prajurit Allah yang empat tadi, Syekh?”
“Prajurit Allah yang empat itu diantaranya…” Syekh Siti Jenar melangkahkan
kakinya perlahan. “…pertama adalah
angin. Lihatlah angin yang lembut dan sepoi‐sepoi,
namun perhatikan pula jika angin itu mulai dahsyat serta bisa
memporak‐porandakan bangunan sehebat apa pun, menghancurkan pohon‐pohon yang tertancap kokoh,
menerbangkan segala hal yang mesti diterbangkannya, bahkan menghancurkan sebuah
kota atau perkampungan.
Lantas ketika angin mengamuk siapa yang bisa membendung dan menghalang‐halangi?”
“Tidak ada, Syekh.”
“Itulah kehebatan prajurit Allah yang disebut manusia, angin pada syariatnya.
Padahal angin itu hakikatnnya
membawa pesan pada manusia, pada para khalifah bumi, agar menyadari kekeliruan
yang pernah diperbuatnya.
Manusia yang melakukan keruksakan di muka bumi maka akan kembali pada
perbuatannya, akibatnya. Namun
dalam hal ini manusia hanya memandang sebelah mata pada hakikat angin. Mereka
lebih banyak bercerita dan
memandang akan hal yang berbau logika dan penalaran semata, karena itu semua
akibat dari keterbatasan ilmu
yang dimilikinya. Ilmu yang manusia miliki tidak mencakup berbagai hal, namun
terbatas hanya pada bidangnya
saja. Sehingga manusia terkadang melupakan Allah yang memiliki lautan ilmu.”
urai Syekh Siti Jenar, seraya
langkahnya terhenti. Sejenak berdiri di tepi jalan, matanya menyapu tingginya
puncak gunung yang diselimuti
awan putih yang berlapis‐lapis.
“Bukankah manusia akan selalu merasa pintar jika seandainya berhasil menangani
sedikit persoalan saja, Syekh?”
“Itulah manusia. Namun tidak semuanya seperti itu. Tetapi itulah watak orang
kebanyakan. Maka jika demikian
tertutuplah pintu ilmu berikutnya, terhalang oleh keangkuhan dan kecongkakan
yang terselip dalam batinnya.”
ujar Syekh Siti Jenar. “Berbeda jika dibandingkan dengan manusia yang batinnya
terang. Dia tidak akan pernah
berbuat congkak, apalagi sombong, yang bisa membutakan mata hatinya. Sehingga
orang seperti itu akan
selamanya sanggup memahami segala hal dengan jernih….”
“…sangat sulit, Syekh.” Kebo Kenongo menarik napas dalam‐dalam. “…pantas saja diri Syekh bisa terangkat pada
derajat ma’rifat, karena telah sanggup membersihkan batin dari noda‐noda tadi. Mungkin saya sulit mencapai
ma’rifat tadi karena batin ini masih dijejali dan dikotori hal‐hal yang membutakan, menghalangi, mengganggu dan
merintangi. Pada intinya masih berbau keangkuhan, kesombongan, angkara, rasa
iri dan dengki. Namun rasanya
sulit untuk melepaskan hal‐hal tadi, Syekh. Mungkin karena
kesulitan itu datang akibat kita berada dalam hiruk
pikuk kemewahan duniawi, yang selalu hadir di sisi kiri, kanan, depan, dan
belakang kita?”
“…jangan salah, Ki Ageng. Bukankah setiap manusia hidup memerlukan kebutuhan
jasadiyah?” timpal Syekh Siti
Jenar. “Duniawi adalah kebutuhan lahiriyah, sedangkan menuju ma’rifat adalah
proses perjalanan batin menuju
akrab.”
“Benar, Syehk. Namun jika gangguan duniawi sangat terlalu kuat, bisa
menggelapkan mata batin. Sehingga kita
selalu memperjuangkan kepentingan jasadiyah tanpa kendali dan melupakan
kebutuhan batinnya. Nah, untuk
menyeimbangkan itulah yang sangat sulit.”
“Sebetulnya kita tidak perlu seimbang dulu. Namun itu terlalu berat untuk
kebanyakan orang dan tidak mungkin
dapat tercapai. Sebab bagi yang telah ma’rifat dan akrab tidak perlu jauh
melangkah tinggal mengatakannya, apa
yang diinginkan akan datang atau berada dalam genggaman.” terang Syekh Siti
Jenar, lantas membuka telapak
tangannya dan diacungkan ke langit, lalu dikepalkan. “…lihatlah! Inikah yang Ki
Ageng inginkan?”
“Benar, Syekh. Andika selain bisa membaca keinginan batin saya juga dapat
membuktikannya hanya dengan
mengepalkan tangan.” Kebo Kenongo menggeleng‐gelengkan
kepala, seraya memujinya.
***
“Sudahkah andika menemukan cara yang tepat untuk menguasai Demak?” Loro Gempol
menatap wajah Kebo
Benowo.
“Meski saya telah berkali‐kali memikirkannya belum juga menemukan cara yang tepat,
Gempol.” Kebo Benowo
menempelkan telunjuk dikeningnya. Lalu bangkit dari duduknya, menggendong kedua
tangannya dibelakang,
dahinya berkerut‐kerut, kakinya melangkah pelan. “….bagaimana…cara termudah?”
“Bolehkah saya berbicara?” Joyo Dento mengangkat kepalanya.
“Apa yang akan andika katakan, Dento? Bantulah saya berpikir!” tatap Kebo
Benowo.
“Menurut hemat saya, negara Demak Bintoro kini dalam keadaan tenang dan
tentram. Namun bukan berarti
ketenangan ini tidak bisa diusik.”
“Semua orang tahu! Apa maksud andika!” timpal Loro Gempol meninggi.
“Mohon maaf, Ki Gempol. Bukankah saya belum selesai bicara?”
“Lanjutkan, Dento!” ujar Kebo Benowo mengacungkan telapak tangannya, seraya
menatap Loro Ge,pol agar
memberi kesempatan bicara pada Joyo Dento.
“Negeri Demak Bintoro kini dalam keadaan tenang dan tentram. Sangat sulit bagi
kita untuk melakukan
pemberontakan apalagi penggulingan kekuasaan. Namun bukan berarti suasana
tenang dan tentram ini tidak bisa
diubah, menjadi kacau balau dan carut marut.” Joyo Dento berhenti sejenak,
matanya merayap mengelilingi
ruang pertemuan. Kembali tatapannya tertuju pada Kebo Benowo.
“Maksud andika?” Loro Gempol tidak sabar.
“Maksud saya, untuk merubah suasana tenang dan tentram ini harus menciptakan
keadaan sebaliknya.”
“Mengacau ketenangan masyarakat?” tatap Kebo Benowo. “Jika itu dilakukan
berarti tindakan kita untuk
menggulingkan Raden Patah tidak akan berhasil, bahkan akan mendapat kecaman
dari rakyat. Karena mereka
tahu bahwa kita pengacau. Sedangkan yang kita harapkan dukungan rakyat, yang
membetulkan tindakan kudeta.
Jadi pada intinya tindakan kita harus mendapat simpati dari rakyat.”
“Benar, maksud saya itu.” ujar joyo Dento.
“Maksud andika jelas salah, Dento! Tidakah andika membayangkan jika kita
merampok rakyat, mengganggu
rakyat, sebaliknya mereka akan lebih simpati pada Sultan.” sela Loro Gempol.
“Tentu, jika kita salah dalam melakukan tindakan.” terang Joyo Dento. “Saya
meskipun sehari‐hari berada di pasar
dan melakukan perbuatan sabung ayam, hanya untuk melampiaskan hobi saja. Andika
belum paham jika saya
dulu pernah mengabdi di Kadipaten Majapahit. Bahkan saya pun banyak belajar
tentang politik dan
ketatanegaraan. Namun orang‐orang Majapahit kini tidak mau lagi
memperlihatkan diri dan merasa antipati
terhadap Raja Demak Bintoro, karena membaca kekuatan sendiri. Jika melakukan
hal tadi berarti akan ditangkap,
termasuk Ki Ageng Pengging, beliau lebih memilih hidup menjadi seorang petani,
dengan nama lain.”
Mendengar uraian Joyo Dento yang membuka jatidirinya dan mengurai keahliannya,
Kebo Benowo, Loro Gempol,
Lego Benongo, juga seluruh peserta sidang pada kesempatan itu terkagum‐kagum.
“Pantas saja, andika berbeda.” Kebo Benowo menggelengkan kepala. “Jika demikian
lanjutkanlah rencana dan
dasar pemikiran andika. Andika mulai hari ini saya angkat sebagi penasehat saya
dan yang lainnya.”
“Terimakasih, Ki Benowo.” Joyo Dento menghela napas, “Saya sebetulnya sejak
dulu mencari teman dan orang
yang ingin melakukan pemberontakan, sekaligus penggulingan kekuasaan terhadap
Raden Patah. Namun kini
saya baru menemukan orang yang benar‐benar
punya niat dan tujuan yang sama dengan saya. Jadi tidak ada
salahnya jika saya pun mendukung gerakan ini.”
“Kita tidak salah bergabung, Dento.” ujar Kebo Benowo.
“Hanya sayang, yang semestinnya Ki Ageng Pengging yang harus maju dan bergabung
dengan kita sama sekali
tidak tertarik. Ki Ageng Pengging sesungguhnya memiliki darah biru yang sangat
kuat, karena beliau keturunan
raja Majapahit.” Joyo Dento berhenti sejenak, “Namun meski pun demikian
andikalah yang ternyata berani maju,
Ki Benowo. Tidak ada salahnya, saya akan mendukung. Hanya dalam hal ini kita
harus punya strategi yang tepat.
Seperti yang saya uraikan pertama kali.”
”Ya, tentang pembicaraan semula. Lanjutkan apa rencana tadi?” pinta Kebo
Benowo. “Baiklah,” ujar Joyo Dento.
***
”Dengarkan para pengemis!” teriak Kebo Benowo, matanya menyapu para pengemis
yang bersila di pinggir jalan
menuju pasar. “Kenapa andika semua mesti jadi pengemis? Tidak inginkah hidup
mewah seperti para penduduk
kota Demak Bintoro? Tidak inginkah kalian menjadi orang kaya, seperti para
pejabat negara? Bukankah mereka
itu manusia seperti kita? Harus sadar pula bahwa kita pun memiliki hak yang
sama seperti mereka. Tidak
sadarkah jika para pejabat Negeri Demak telah mendzalimi kalian semua?
Membiarkan kalian terlantar
dipinggiran jalan. Sementara mereka bersenang‐
senang di pusat kota Demak Bintoro. Tidak sadarkah bahwa
mereka telah melupakan kita selaku rakyat? Mereka telah menelantarkan kita
dalam lingkaran kemiskinan dan
penderitaan. Kalian harus paham akan semua itu. Sesungguhnya hak kalian telah
dirampas oleh mereka.”
“Jadi kami mesti bagaimana, Ki? Sedangkan kami pun tidak ingin menjadi orang
miskin.” ujar seorang pengemis
paruhbaya.
“Ingatlah, bahwa kalian memiliki hak yang sama seperti para penguasa negeri
ini. Mintalah hak kalian!” ujar Kebo
Benowo.
“Tidak mungkin? Mustahil keinginan kita dikabulkan oleh para penguasa dzalim
yang tidak peduli akan nasib
rakyatnya, yang miskin seperti kami.” ujar si pengemis paruhbaya.
“Jika tidak mungkin menurut kalian, tidak perlu menyesal dengan nasib yang
dialami. Karena kehidupan dunia ini
hanyalah sekejap, setelah itu kita akan mati. Untuk itu biarkanlah mereka itu
menikmati hidupnya sebagai
penguasa, karena mereka hanyalah mayat‐mayat
hidup yang menunggu kematian. Sedangkan kematian
merupakan pertemuan kita dengan Sang Pencipta, untuk menemui kenikmatan yang
abadi.” urai Kebo Benowo.
“Benarkah kematian itu merupakan kenikmatan yang abadi dibandingkan dengan para
penguasa yang sekarang
sedang menikmati kesenangan?” kerut pengemis paruhbaya.
“Benar, karena mereka pun akan mati. Setelah mati maka ditangisi oleh
keluarganya, lalu harta yang mereka
agung‐agungkan ditinggalkan untuk diperebutkan oleh keturunannya.
Jadi apa artinya harta kekayaan juga
kekuasaan. Toh, kita pun akan mati dan meninggalkan semua kesenangan duniawi
yang bersifat sekejap.
Bayangkanlah kesenangan setelah kematian. Bukankah nenek moyang kalian tidak
pernah ingin kembali ke dunia
ini dari kuburnya? Mengapa demikian? Karena mereka menikmati kematian yang
teramat menyenangkan dan
menentramkan.” Kebo Benowo yang memahami secara dangkal ajaran Syekh Siti
Jenar, mencoba mengurai
sesuka hatinya.
“Benar juga yang andika katakan, Ki.” si pengemis paruhbaya mengagguk‐anggukan kepala, begitu juga yang
lainnya. “Memang kehidupan ini hanyalah samsara, penderitaan dan kesengsaraan.
Sedangkan kematian
merupakan nirwana, kesenangan yang teramat membahagiakan. Karena bisa
melepaskan kita dari berbagai
penderitaan.”
”Itu benar, Kisanak.” Kebo Benowo mengacungkan jempolnya. “lihatlah mereka yang
tadinya hidup susah, lalu
dalam keadaan sakit dan sekarat, akhirnya mati tersenyum. Mereka mengakhiri
segala penderitaan dengan
kematian. Untuk apa kita hidup di negeri mayat, jika itu bukan mayat yang
sesungguhnya. Mereka semua
hanyalah mayat‐mayat berjalan, tidak memiliki rasa dan kepekaan. Meskipun
punya jabatan dan kekayaan
namun tidak bisa mereka nikmati. Maka kematianlah sesungguhnya kenikmatan
setiap manusia, yang harus kita
raih dan dapatkan.”
“Saya setuju, Ki.” pengemis paruhbaya bangkit. “Jika demikian marilah kita
songsong kematian…saya ingin mati!”
teriaknya. Selanjutnya diikuti oleh para pengemis lainnya.
Para pengemis bangkit dari duduknnya seraya berjalan‐jalan keliling sambil berteriak‐teriak menyongsong
kematian. Ada juga yang nekad membenturkan kepalanya ke atas batu hingga pecah
dan meninggal, ada juga
yang terus berjalan menunggu ajal tanpa makan.
“Hahahaha…mungkin itulah yang dimaksud Joyo Dento.” Kebo Benowo mengawasi para
pengemis sambil
tersenyum.
***
“Hebat andika Joyo Dento.” puji Kebo Benowo seraya menepuk‐nepuk bahunya. “Sekarang keadaan negeri
Demak Bintoro akan dilanda oleh kekacauan, serta krisis kepercayaan. Itu semua
alhasil dari hasutan kita agar
masyarakat miskin antipati terhadap penguasa. Benar‐benar cerdik daya pemikiran andika, Dento.”
“Itulah yang harus kita ciptakan. Strategi pertama untuk menggoncang keaadaan
negara. Setelah ini berhasil dan
di dengar beritannya oleh para penguasa negeri Demak Bintoro, maka pertama‐tama mereka akan mencari tahu
penyebabnya.” ujar Joyo Dento.
“Mungkinkah mereka akan menangkap kita sebagai penghasut?” tanya Loro Gempol.
“Sangat tidak mungkin, Ki.” jawab Joyo Dento yakin.
“Kenapa? Bukankah kita penghasutnya?” timpal Kebo Benowo.
“Karena kita bukan menghasut tapi berbicara berdasarkan kenyataan. Mereka pun
tidak mudah menuduh kita
sebagi pengasut, dalam menciptakan kekacauan di negeri Demak Bintoro tanpa
adanya bukti yang kuat.” terang
Joyo Dento.
“Benar juga, Dento.” Kebo Benowo menganggukan kepala.
“Jika keadaan negara sudah kacau balau, rakyat tidak percaya lagi pada
penguasa, maka mereka akan sibuk.
Dalam keadaan seperti itulah kita mengadakan tindakan.” Joyo Dento mengepalkan
tangannya.
“Melakukan kudeta?” celetuk Loro Gempol.
“Apa mungkin kita mampuh menggulingkan kekuasaan Raden Patah?” kerut Kebo
Benowo. “Karena kekacauan
seperti ini tidak seberaba, jika dibanding dengan kekuatan negara Demak Bintoro
yang sesungguhnya. Lalu kita
juga harus berkaca, apa mungkin kekuatan kita sudah cukup untuk melakukan
penyerangan?”
“Apa salahnya jika kita mencoba? Siapa tahu menang.” tambah Loro Gempol seraya
menggenggam gagang
goloknya.
“Benar, kita mesti mencoba dan berusaha. Untuk mengukur kekuatan kita, sudah
semestinya begitu.” terang Joyo
Dento. “Namun dalam tindakan percobaan kita harus menciptakan strategi
penyerangan yang berbeda. Agar kita
pada waktunya tidak konyol dan membahayakan diri sendiri.”
“Jika demikian ijinkan saya menyiapkan pasukan untuk menyerbu Demak Bintoro, Ki
Benowo.” Loro Gempol
Bangkit dari duduknya, langkahnya berat dan pasti.
“Tunggu dulu, Gempol!” Kebo Benowo berteriak.
“Kenapa mesti menunggu lagi? Bukankah kita akan mencoba kekuatan?” langkah Loro
Gempol terhenti di depan
pintu.
“Benar, Ki Gempol. Namun ingatlah yang saya katakan tadi. Meski dikalangan
rakyat miskin sedang terjadi
kekacauan, namun itu belum seberapa.” terang Joyo Dento. “Kekacauan tadi hanya
bersifat lokal, sangat kurang
berpengaruh terhadap stabilitas keamanan negeri Demak Bintoro. Sebaiknya
sebelum melakukan penyerangan
sebarkan dulu kekacauan tadi hingga merebak seantero negeri Demak Bintoro.”
urainya.
“Benar, Gempol. Apa yang dikatakan Joyo Dento sebaiknya diikuti, karena dia
sudah saya angkat sebagai
penasihat.” ujar Kebo Benowo, seraya menepuk bahu Loro Gempol.
“Baiklah jika itu perintah Ki Benowo.” Loro Gempol menganggukan kepalanya,
seraya kembali ke tempat
duduknya.
“Baguslah jika andika setuju.” Kebo Benowo tersenyum bahagia, lalu melirik ke
arah Joyo Dento, dalam benaknya
menaruh berjuta harapan demi cita‐citanya
menggenggam kekuasaan di negeri Demak Bintoro. “Apa rencana
berikutnya, Dento?”
“Baiklah, kita menyusun strategi berikutnya.” Joyo Dento menempelkan jari
dikeningnya seakan‐akan berpikir
sangat keras.
***
“Syekh, rasanya sangat berat untuk menempuh jalan ma’rifat.” Kebo Kenongo
nampak tidak ceria.
“Ya, tentu saja.”
“Mungkinkah saya harus bertahap? Menurut tahapan ilmu, Syekh?”
“Tidak selalu, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar perlahan bangkit dari
duduknya. “Bukankah saya menyarankan
jika seandainya andika kesulitan mengikuti ilmu Islam, hendaknya ikutilah
ajaran agama yang andika anut.
Bukankah andika tinggal satu atau dua langkah lagi menuju ma’rifat, setelah itu
akrab. Orang yang akrab dengan
Allah itulah seperti yang pernah saya uraikan sebelumnya.”
“Ya,” Kebo Kenongo menggeleng, “Itu dibicarakan sangatlah mudah, Syekh. Namun
untuk melaksanakannya
terasa berat, dan sulit untuk membuka tabirnya. Jika sekali saja tabir itu
sudah terbuka tentulah berikutnya akan
lebih mudah.”
“Benar,” Syekh Siti Jenar terdiam sejenak, matanya yang sejuk dan tajam beradu
tatap dengan Kebo Kenongo.
“Ya, hanya Sunan Kalijaga yang bisa…” gumamnya.
“Sunan Kalijaga?”
“Tidak perlu dipikirkan! Apalagi mempertanyakannya.” Syekh Siti Jenar kembali
ke tempat duduknya.
***
“Kanjeng Sunan Giri, tahukah anda tentang Syekh Siti Jenar?” tanya seorang
jemaah paruhbaya, usai
melaksanakan sholat zuhur di masjid Demak.
“Ya,” Sunan Giri menatapnya, “Memang kenapa dengan Syekh Siti Jenar, Ki
Demang?”
“Dia telah meresahkan.” jawab Ki Demang.
“Meresahkan?”
“Ya,”
“Memang apa yang telah dia perbuat, Ki Demang?”
“Syekh Siti Jenar telah mengacaukan keadaan rakyat negeri Demak Bintoro,
Kanjeng.”
“Maksud, Ki Demang?” Sunan Giri mengerutkan dahinya.
“Namun sebelumnya saya ingin tahu dulu.”
“Tentang apa?”
“Apakah Syekh Siti Jenar juga seorang wali seperti anda?”
“Bukan! Dia hanyalah sosok yang tidak jelas asal usulnya. Juga ilmu yang
didalaminya entah dari mana
sumbernya.”
“Tapi bukankah dia juga seorang ulama yang memiliki ilmu tinggi?”
“Mungkin saja, Ki Demang. Tetapi dia bukan wali seperti saya dan yang lainnya.
Selain asal usulnya tidak jelas, dia
juga mempelajari ajaran Islamnnya entah dari mana?”
“Berkaitan dengan itulah yang kini meresahkan dikalangan rakyat negeri Demak
Bintoro, Kanjeng.”
“Maksud, Ki Demang?” Sunan Giri menatap tajam wajah Demang Bintoro, dahinya
dikerutkan. “Apakah Syekh Siti
Jenar membuat ulah?”
“Kemungkinan besar itulah yang sedang terjadi, Kanjeng.”
“Tolong jelaskan, Ki Demang! Apa yang terjadi?”
“Syekh Siti jenar telah menyebarkan ajaran sesat, Kanjeng.”
“Ajaran sesat?” Sunan Giri terperanjat.
“Benar,”
“Maksud Ki Demang ajaran sesat seperti apa?”
“Kehidupan ini adalah kematian…kematian adalah keabadian….”
“Lalu?”
“Lantas mereka banyak yang melakukan bunuh diri. Karena punya anggapan bahwa
kehidupan ini adalah
penderitaan. Buktinya mereka banyak yang miskin dan menjadi gelandangan.
Sedangkan kematian itu adalah
indah dan menyenangkan.” Demang Bintoro menghela napas, “Mereka punya anggapan
dengan jalan kematian
bisa terlepas dari semua penderitaan dan kesengsaraan…”
“Celaka!” Sunan Giri menepuk keningnya.
“Sehingga banyak yang berteriak‐teriak seperti orang gila mencari
kematian dan keindahan abadi yang
diharapkannya. Lalu bunuh diri…” tambah Demang Bintoro. “Saya pun datang ke
mesjid Demak dari kademangan
tidak lain hanya ingin menyampaikan kabar ini kepada para wali.”
“Ini merupakan hal yang sangat serius yang bisa mengancam ketentraman dan
keamanan negeri Demak Bintoro.”
Sunan Giri bangkit dari duduknya, lalu matanya menatap para wali lain yang
sedang melakukan wirid.
Dipanggilnnya mereka untuk berundingsejenak. “Jangan dulu pulang Ki Demang,
andika harus menyampaikan
kejadian ini pada para wali.”
“Baiklah, Kanjeng.” Demang Bintoro menganggukan kepala, seraya menatap para
wali yang mulai duduk
berkeliling di tengah masjid sesuai permintaan Sunan Giri.
***
‘Bagaimana pun juga aku harus menghadap Ki Ageng Pengging. Meskipun dia tidak
berambisi untuk menjadi
penguasa negeri Demak Bintoro. Namun aku tidak rela jika bekas para abdi
Majapahit berada dibawah bayangbayang
kekuasaan Raden Patah.’ ujar hati Joyo Dento, seraya tangannya menggenggam tali
kendali kuda yang
ditungganginya, berjalan pelan mendekati padepokan Syekh Siti Jenar.
‘Siapa tahu Ki Ageng berubah pikiran mendukung perjuangan ini, apalagi jika
Syekh Siti Jenar turun tangan untuk
membantu. Aku yakin pemberontakan ini tidak akan terlalu berat, karena mereka
orang‐orang sakti dan cerdas.
Jauh berbeda dibanding dengan Kebo Benowo mantan rampok bego, hanya punya
ambisi semata dan kekuatan
yang belum tentu bisa menandingi para wali.’ Joyo Dento menghentikan langkah
kuda, lalu dikatnya pada sebuah
pohon di tepi jalan. ‘Tunggu saja kamu disini kuda. Karena tidak mungkin
sanggup menaiki jalan yang menyerupai
tangga. Biar aku berjalan kaki saja untuk menemui mereka.
Joyo Dento meluruskan pandangannya ke depan, usai mengikat kuda tunggangannya.
Lalu melangkah pelan,
menaiki jalan yang dipapas menyerupai tangga.
‘Banyak juga jumlah anak tangga ini,’ tangannya menyeka keringat yang mulai
membasahi keningnya. ‘…tapi
akhirnya aku sampai juga dipuncak…eh…ternyata masih ada jalan lurus membentang
menuju padepokan.’ Joyo
Dento berhenti sejenak menikmati sejuknya udara pegunungan dan hijau ranumnnya
dedaunan, serta
pemandangan puncak gunung yang tersaput mega putih.
“Indah!” gumamnya. “Tempat ini di tata sangat bagus, membuat orang kerasan.
Kanan kiri jalan dihiasi oleh
pepohonan hijau, rerumputan…Syekh Siti Jenar menyukai keindahan dan keasrian
alam.”
Joyo Dento menghentikan langkahnya di depan pintu pagar padepokan,
“Sampurasun!”
“Masuklah Joyo Dento!” terdengar suara yang menyebut namanya, sedangkan
wujudnnya entah dimana.
“Syekh Siti Jenarkah yang memanggil saya?” Joyo Dento memutar pandanganya,
suara itu seakan‐akan datang
dari segala arah. “Bukankah aku ini sedang berada di depan pintu pagar
padepokan?” gumamnnya.
“Benar,”
“Baiklah.” Joyo Dento membuka pintu pagar, seraya berdiri di depan pintu
padepokan dan mendorongnya pelan.
“Kenapa didalam tidak ada orang? Lantas Syekh Siti Jenar memanggil saya dari
mana?”
“Bukalah mata hati andika, Dento!”
“Ki Agengkah itu?” Joyo Dento membelalakan matanya, menelisik ruang kosong, di
depannya hanya terdapat
hamparan tikar.
“Benar, ini saya.”
“Namun Ki Ageng tidak saya temukan, begitu juga Syekh Siti Jenar? Padahal
suaranya seperti berada didepan
saya.” Joyo Dento memijit‐mijit dahinya.
“Tataplah dengan mata terbuka, jangan dengan mata tertutup.”
“Tapi saya sudah menatapnnya dengan mata terbuka, Ki Ageng Pengging. Namun saya
tidak bisa menemukan
keberadaan andika selain suara. Dan ruangan ini kosong, hampa, tidak ada orang?”
Joyo Dento semakin
kebingungan. Namun matanya merayap dan tertuju pada dua hamparan tikar yang
berada dihadapannya.
“Bukankah saya ada dihadapan andika, Dento?” ujar Kebo Kenongo, seiring dengan
bergeraknya hamparan
terusik angin sepoi tikar. Pelan‐pelan
wujud keduanya yang sedang duduk bersila mulai tampak.
“Ki Ageng, terimalah sembah hormat hamba!” Joyo Dento langsung saja menekuk
lututnya seraya mengacungkan
kedua tangannya menyembah. “Begitu juga pada Syekh Siti Jenar, seorang wali
yang memiliki kesaktian tinggi.
Ijinkanlah hamba pada saat ini menghadap!”
“Saya ijinkan, Dento.” Kebo Kenongo tersenyum.
“Terimakasih, Ki Ageng.” lalu melirik ke arah Syekh Siti Jenar, wajahnya tampak
memancarkan cahaya yang
menyilaukan matanya, hingga tidak sanggup menatapnya. Joyo Dento pun menunduk.
“Saya mohon maaf Syekh
Siti Jenar karena telah lancang datang ke padepokan yang indah dan asri ini.
Karena hamba punya maksud dan
tujuan….”
“Saya memaklumi, dan tahu akan tujuan dari kehadiran andika ke padepokan ini.
Bukankah untuk meminta restu
serta bantuan kami berdua atas upaya ambisi menggulingkan kekuasaan Raden
Patah.” terang Syekh Siti Jenar.
“Duh, mohon maaf Syekh. Ternyata andika memiliki ilmu sangat tinggi. Pantas
saja Kebo Benowo dan kawankawannya
sakti.” Joyo Dento semakin merunduk dan tercengang, atas kehebatan Syekh Siti
Jenar yang tahu akan
maksud kedatangannya. “Namun tidakah Syekh….”
“Tidak, karena saya mengajarkan ilmu pada siapa saja yang mengingkannya. Kebo
Benowo dan kawan‐kawan
mantan rampok yang memiliki ambisi untuk menggulingkan kekuasaan Raden Patah
serta bermimipi ingin
menjadi penguasa negeri Demak Bintoro adalah sebuah taqdir.” Syekh Siti Jenar
seakan‐akan sudah mengetahui
setiap rencana, bahkan yang belum terujar masih tersimpan di dalam hati pun
bisa diketahuinya. Lebih dari itu dia
pun seakan‐akan tahu masa depan yang akan terjadi. “Baik saya atau pun
Ki Ageng Pengging tidak akan melarang
tindakan andika, merestui pun tidak. Merestui atau pun tidak saya dan Ki Ageng
Pengging adalah bagian dari
taqdir andika semua.”
“Lantas?” Joyo Dento bergumam, sudah kehabisan kata‐kata. Sebab semua yang akan diucapkannya sudah
mereka ketahui. “Jika saya sudah tahu seperti ini mungkin tidak akan berkunjung
ke padepokan ini. Cukup dari
kejauhan saya minta restu.”
“Andika tidak perlu menyesal datang ke padepokan ini. Karena ini adalah
perjalanan lahiriyah andika selaku
manusia.” Syekh Siti Jenar menatap. “Sedangkan keinginan andika untuk
membangkitkan kembali kekuatan
Majapahit yang telah runtuh itu pun hak andika. Ki Ageng Pengging junjungan
andika tidak mau terlibat bahkan
memilih sebagai petani dan hidup di pedesaan itu pun bagian dari taqdir. Ki
Ageng dan saya berbuat seperti ini
karena sudah tahu apa yang akan terjadi dan teralami berikutnya.”
“Saya tidak paham, Syekh.” Joyo Dento Semakin menunduk. “Namun meski pun kurang
paham akan semuanya.
Saya tidak akan surut untuk terus berjuang bersama yang lainnya demi kembalinya
kekuasaan Majapahit. Tetapi
bolehkah saya mengetahui apa yang akan terjadi pada saya dan lainnya?”
“Tidak hanya andika yang terbunuh. Saya dan Ki Ageng Pengging pun akan
mengalami hukuman mati.” jelas Syekh
Siti Jenar dengan wajah tenang.
“Kenapa? Benarkah itu? Tapi tidak mungkin saya menghentikan rencana ini, Syekh?”
Joyo Dento garuk‐garuk
kepala, dalam benaknya muncul pemikiran antara percaya dan tidak terhadap
ujaran Syekh Siti Jenar. “Bukankah
Syekh ini orang sakti? Tidak bisakah menghentikan taqdir itu?”
“Sudahlah! Andika tidak perlu bertanya lagi tentang taqdir. Jalani saja ambisi
dan rencana semula. Jika ingin
berhenti silahkan!”
“Tapi tidak mungkin saya menghentikan rencana ini. Sebab kesempatan dan peluang
baik seperti sekarang hanya
datang satukali, mengingat dukungan penuh Kebo Benowo juga para pejuang
Majapahit yang tidak menyukai
bayang‐bayang kekuasaan Raden Patah.”
“Sudah terjawab bukan? Apa yang saya maksudkan tadi?”
“Terjawab?” Joyo Dento semakin mengkerutkan dahinya.
“Dento,” ujar Kebo Kenongo lirih.
“Ya, Ki Ageng.” tatapan Joyo Dento penuh pertanyaan ke arah Kebo Kenongo. “Saya
mohon diri, juga Syekh Siti
Jenar. Niat dan rencana saya sudah bulat untuk meruntuhkan kekuasaan Raden
Patah demi kembalinya kekuatan
Majapahit.” lalu perlahan bangkit dari duduknya.
Joyo Dento sudah meninggalkan padepokan Syekh Siti Jenar, langkahnya pelan mulai
menginjak tangga paling
atas, lalu ujung kakinya yang tidak lepas dari tatapannya menurun, menginjak
yang berikutnya. Hingga akhirnya
habis dan kembali ke sebuah pohon yang dijadikan tempat menambat kudanya.
Sejalan dengan itu benaknya terus berpikir, mencerna setiap perkataan Syekh
Siti Jenar begitu pula Kebo
Kenongo. “Mereka berdua seakan‐akan sudah tidak peduli pada urusan
duniawi dan kekuasaan. Padahal mereka
memiliki kemampuan dan ilmu yang cukup tinggi. Benar benar tidak habis pikir.
Masih hidup malah berpikir
dihukum mati. Kenapa bisa bilang akan kena hukuman mati? Bukankah itu ucapan
seorang pengecut? Belum
bertindak sudah takut pada hukuman mati yang dicap sebagai pemberontak dan
mengganggu kesetabilan
pemerintahan. Dia juga menyebut bahwa aku akan bertemu dengan kematian artinya
kegagalan. Tidak mungkin?
Bukankah aku suda memiliki strategi yang cukup hebat. Demak Bintoro sebentar
lagi akan kacau dan goncang….”
Joyo Dento telah berada di atas punggung kuda, lalu tangannya memegang tali
kekang. Kuda pun dicambuk
hingga berlari kencang meninggalkan padepokan Syekh Siti Jenar. Seiring dengan
terbukanya sayap malam, yang
diawali senja teramat singkat, ditandai warna langit yang memerah laksana darah
peperangan. Taubah angkara
yang mengundang banjir darah, hingga menciprat di atas lapisan awan putih.
***
“Para wali yang saya hormati, itulah alasannya kenapa pada hari ini ada
persidangan.” ujar Sunan Giri.
“Haruskah kita melaporkan hal ini pada Sinuhun agar langsung mengirim prajurit
ke Kademangan Bintoro untuk
menangkap mereka.” timpal Sunan Muria.
“Menurut hemat saya, sebaiknya kita selidiki dulu.” Sunan Kalijaga memutar
pandanganya, lalu beradu tatap
dengan Sunan Bonang. ‘Kanjeng, terjadi juga hal yang akan menyulitkan Syekh
Siti Jenar. Rasanya perjalan waktu
terlalu cepat untuk hal ini.’ batinnya.
‘Benar, Kanjeng.’ Sunan Bonang membalas tatapan Sunan Kalijaga, seraya bercakap
dengan batin. ‘Cepat atau
lambat itulah taqdir Syekh Siti Jenar. Namun bukan hari ini…masih ada beberapa
saat..’
“Ada apa Kanjeng Sunan Bonang dan Kanjeng Sunan Kalijaga?” tatap Sunan Giri.
“Maaf, Kanjeng Sunan Giri. Saya pun sependapat dengan Kanjeng Sunan Kalijaga,
alangkah lebih baiknya sebelum
bertindak dan melakukan penangkapan diadakan penyelidikan terlebih dahulu.”
ujar Sunan Bonang.
“Saya setuju, Kanjeng.” timpal Sunan Kudus. Ucapan itu diikuti oleh para wali
yang sedang bersidang.
“Ki Demang,” Sunan Giri memutar pandanganya ke arah Demang Bintoro. “Itulah
keputusan kami selaku para
wali. Semoga Ki Demang memaklumi.”
“Terimakasih, Kanjeng.” Demang Bintoro mengagukan kepala, seraya menunduk
hormat. “Laporan saya telah
ditanggapi dan langsung dibawa ke mahkamah persidangan para wali. Serta kami
sangat memaklumi sekali atas
segala putusan yang telah para wali ambil. Sehingga saya pun akan melakukan
penyelidikan yang lebih mendalam,
mengenai ajaran Syekh Siti Jenar yang tersebar di Kademangan. Namun dalam hal
ini kami bukanlah seorang
ulama dan tidak terlalu paham akan ajaran Islam. Semoga bersedia kiranya para
wali mengutus seorang ulama
atau siapa saja yang paham betul akan ajaran Islam, sehingga dalam mengukur
kesesatan ajaran yang
disebarluaskan Syekh Siti Jenar tahu batasannya.”
“Baiklah, Ki Demang.” ujar Sunan Giri, seraya memutar pandangannya pada para wali
dan ulama yang berkumpul
dalam persidangan di dalam masjid Demak. “Mungkin tidak wali yang pergi ke
kademangan. Siapakah di antara
ulama yang siap melakukan tugas ini, menyertai Ki Demang?”
Keadaan hening sejenak, para wali dan ulama saling tatap satu sama lain. Etah
apa yang terbersit dalam benak
dan pikiran mereka masing‐masing, seraya mengelus dada dan menarik napas dalam‐dalam.
Sepertinya dalam hati mereka ada sesuatu yang mengganjal, seandainya Syekh Siti
Jenar dan pengikutnya benarbenar
menyebarkan ajaran sesat dan menyesatkan, tentu saja akan mendapat hukuman yang
sangat berat. Lantas
yang mereka pikirkan, tegakah berbuat seperti itu? Meski disisi lain mungkin
harus juga kebenaran itu ditegakan.
Lalu barometer kesalahan dan kebenaran yang berlandaskan pada apa?
“Adakah yang sanggup?” suara Sunan Giri memecah keheningan.
“Saya kira para ulama merasa berat hati untuk menyampaikannya, Kanjeng.” Sunan
Kalijaga menatap Sunan Giri.
“Bagaimana jika saya saja?”
“Jangan dulu, Kanjeng!” potong Sunan Giri. “Mengapa persoalan kecil ini mesti
seorang yang berpangkat wali
turun tangan? Jika yang lain tidak ada yang mampu saya kira barulah wali turun
tangan. Masa diantara para ulama
yang hadir disini tidak ada yang sanggup?”
“Mohon maaf, Kanjeng Sunan Giri.” ujar Demang Bintoro. “Mungkin saya telah
merepotkan yang hadir disini.
Biarlah saya saja dan ahli agama yang ada di Kademangan melakukan penyelidikan
ini. Semoga ilmu dia bisa saya
andalkan, sehingga kami tidak keliru memberikan laporan. Selanjutnya saya mohon
diri.” tanpa menunggu
perkataan lebih lanjut dari Sunan Giri Demang Bintoro bangkit dari duduknya,
setelah mengucapkan salam
menghilanglah dibalik pintu masjid Demak Bintoro.
‘Bukankah tidak hari ini, Kanjeng?’ batin Sunan Bonang, matanya beradu dengan
tatapan Sunan Kalijaga.
‘Ya, itulah sebuah kenyataan. Itu juga ada rentang waktu dan perjalanan bagi
semuanya…..’ balas batin Sunan
Kalijaga.
‘Bukankah Syekh Siti Jenar juga….’
‘Ya, saya sangat paham akan dia…’
“Baiklah, para wali yang saya hormati. Mungkin untuk tindakan selanjutnya kita
menunggu penyelidikan Ki
Demang Bintoro.” Sunan Giri menutup persidangan.
***
“Ki Benowo,” Joyo Dento duduk di atas kursi yang berada di samping Loro Gempol,
tatapan matanya menyapu
wajah Kebo Benowo. “Seperti yang saya duga, ternyata benar.”
“Heran?” Kebo Benowo memijit keningnya. “Mengapa Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng
Pengging tidak tertarik pada
kekuasaan. Padahal kalau seandainnya kita berhasil meruntuhkan kekuasaan Raden
Patah, sudah barang tentu
mereka berdua akan mendapat kedudukan yang pantas. Disamping dukungan mereka
yang sangat kita butuhkan
dalam lingkaran perjuangan ini.”
“Jangankan andika, Ki Benowo. Saya sendiri sangat kaget akan prilaku junjungan
saya sendiri Ki Ageng Pengging.”
ujar Joyo Dento. “Dia seakan‐akan tidak peduli lagi pada tanah
leluhurnya yang telah dikuasai Raden Patah, meski
hampir ada keterkaitan darah. Namun Ki Ageng sendiri punya wewenang untuk
menjadi penguasa, mengapa
beliau rela berada dibawah bayang‐bayang
kekuasaan Raden Patah, yang seharusnnya kebalikannya.”
“Mungkinkah Junjunganmu itu terpengaruh oleh ilmu Syekh Siti Jenar, sehingga
dia tunduk dan setia sebagai
pengikutnya?” timpal Loro Gempol.
“Janganlah andika berkata demikian, Gempol!” tatap Kebo Benowo. “Bukankah Syekh
Siti Jenar juga guru kita dan
telah mengajarkan ilmu yang kita pinta, sehingga memiliki kesaktian tak
terbatas.”
“Namun menurut hemat saya, mereka itu telah benar‐benar
mempelajari ilmu yang di anut Syekh Siti Jenar?”
kerut Joyo Dento.
“Bukankah kita juga mempelajari ilmu beliau?” tukas Loro Gempol, “Tapi kita
tidak berlaku seperti mereka?”
“Karena jiwa kita belum sempurna, Gempol.”
“Maksud, Ki Benowo?”
“Yang kita pelajari dari Syekh Siti Jenar bukanlah ilmu kebhatinan menuju jalan
ma’rifat. Tetapi yang kita pelajari
dari beliau adalah ilmu kesaktian dan keduniawian, bagaimana kita menjadi
perkasa dan penguasa.” terang Kebo
Benowo.
“Ya, benar itu, Ki Benowo.” Joyo Dento menganggukan kepala. “Meskipun saya
hanya sebentar berada di
padepokan Syekh Siti Jenar, sudah paham betul keadaan di sana. Mereka tidak
memiliki ambisi untuk menjadi apa
pun di dunia ini. Saya yakin mereka punya anggapan bahwa dunia ini tidak
berarti apa‐apa jika dibandingkan
dengan kebahagiaan jiwa yang sedang mereka rasakan pada saat ini.”
“Tidak masuk akal!” Loro Gempol garuk‐garuk
kepal. “Bukankah orang menjadi sakti dan menuntut ilmu itu demi
kekuasan, harta berlimpah, dan mendapatkan perempuan‐perempuan cantik?”
“Sudahlah, Gempol! Kita tidak perlu ambil pusing dengan mereka. Karena kita
bukan mereka, mereka bukan kita.
Tujuannya pun berbeda, mereka mendapatkan ilmu demi tercapainnya ma’rifat dan
kemanunggalan dengan
Gusti. Sedangkan bagi kita itu semua tidak mendapatkan tempat dihati, yang
harus kita dapat adalah kekuasaan
negeri Demak Bintoro.” tandas Kebo Benowo.
“Benar, sangat jernih pemikiran andika, Ki Benowo.” Joyo Dento mengacungkan
jempolnya.
***
Matahari senja di langit sebelah barat tampak menyipratkan warna merah,
mengubah putihnya awan menjadi
jingga. Seakan‐akan cipratan darah di atas serpihan kain putih.
Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo, Ki Pringgoboyo, Ki Ageng Tingkir dan para
murid lainnya menyaksikan
peristiwa itu dari ketinggian tangga yang menuju padepokan Syekh Siti Jenar.
“Seperti suatu pertanda, Ki Bisono?” tatap Ki Donoboyo pada rekannya.
“Namun pertanda apakah gerangan jika memang itu sebuah pertanda?” Ki Bisono
mengerutkan dahinya.
“Saya kira itu hal biasa, Ki.” Ki Pringgoboyo seakan tidak tertarik dengan
fenomena alam tersebut.
“Benar,” Ki Ageng Tingkir menimpali, namun sejenak dahinya mengkerut. “Meskipun
ini sebuah kejadian biasa,
bahwa setiap senja matahari akan menyipratkan warna jingga? Tetapi ada hal yang
aneh….”
“Maksud, Ki Ageng Tingkir?” Ki Bisono menatap.
“Seperti sebuah pertanda.”
“Pertanda?” para murid Syekh Siti Jenar serempak bertanya, jiwa dan pikirannya
terhanyut oleh perkataan Ki
Ageng Tingkir.
“Tafsirkanlah dengan batin, sahabatku.” Ki Ageng Tingkir kembali menatap langit
jingga.
Sejenak tidak lagi ada yang berbicara, lalu semuanya mengangkat kepala
mendongak ke langit. Mata dan batinnya
mulai terusik untuk menoba mentafsirkan fenomena alam yang sedang terjadi.
Raga mereka seakan‐akan tidak merasakan hembusan angin senja itu, semuanya
berdiri laksana patung. Jasad
mereka sama sekali tidak bergeming dari tempatnnya berdiri, namun jiwa dan rasa
menyatu bersama batin,
seraya berusaha keras membuka tabir dan membaca alam. Mereka memiliki satu
tujuan mencoba menafsirkan
dan menterjemah ilmu hamamayu hayuning bawana, setelah berupaya memakmurkan
bumi, maka jiwa menyatu
dengan bumi. Sukma meresap dengan alam, batin menembus setiap serpih dan gerak,
yang ada di alam raya.
Pertautan antara alam raya dan ruh.
“Ya, rasanya ini benar, Ki Ageng Tingkir.” Ki Bisono memecah keheningan.
“Begitu juga yang saya rasakan, Ki Bisono.” Ki Ageng Tingkir menarik napas
dalam‐dalam, jasadnya mulai
merasakan lagi semilir angin pegunungan. Pertautan jiwa dengan alam telah
kembali pada raganya masingmasing.
“Meskipun kita bisa merasakan belumlah bisa mentafsirkan tentang pesan yang
alam sampaikan.” tambah Ki
Ageng Tingkir.
“Benar, Ki Ageng Tingkir.” Ki Chantulo menarik napas dalam‐dalam. “Meski sukma kita sanggup berkomunikasi
dengan alam, bertaut, dan bergumul. Rasanya sulit untuk meterjemah dan
menafsirkan sabda alam?”
“Padahal kita tahu maksud alam dengan kabaran dan berita yang dibawanya?”
tambah Ki Donoboyo, “…itu
sebuah pertanda buruk. Namun dalam hal ini kita sangat kesulitan untuk mengurai
pesan tadi.”
“Meski kita tidak bisa mengurai pesan yang disampaikan alam, yang penting kita
paham pada pesan yang
disampaikannya.” tukas Ki Bisono, “Disamping kita pun sudah sanggup mengamalkan
ilmu hamamayuning
bawana yang diajarkan Syekh Siti Jenar. Kekurangan kita kembali pada diri kita
sendiri, karena tahapan kita
belumlah bisa menyamai guru kita Syekh Siti Jenar.”
“Ya, walau pun beliau sangat murah hati untuk memberikan ilmu apa saja yang
kita pinta.” tambah Ki Ageng
Tingkir, mulai melangkahkan kaki pelan, disampingnya Ki Bisono dan Ki Chantulo,
yang lainnya mengikuti
dibelakang. “Hanya kita yang menerimanya ternyata berat untuk mengamalkan dan
menguasainya, meski pun kita
secara bertahap dan berangsur‐angsur sanggup menggenggamnya.”
“Tidak ada salah, Ki Ageng Tingkir. Jika sekalian dalam pertemuan hari ini di
aula padepokan fenomena alam yang
kita lihat tadi, juga pesannya kita kemukakan kepada Syekh Siti Jenar.” ujar Ki
Donoboyo.
“Saya setuju, Ki.” Ki Chantulo mengangguk seraya mengacungkan ibu jarinya.
“Saya juga.” begitu pun Ki Pringgoboyo dan yang lainnya menyetujui, seiring
dengan langkah kakinya yang
dipercepat menuju aula padepokan.
Matahari semakin merendah, perlahan menyelinap di balik punggung gunung dengan
warnanya yang semakin
memerah.
Para murid Syekh Siti Jenar satu persatu mulai memasuki aula padepokan, dan
mengambil tempat duduk masingmasing
bersila di atas tikar pandan yang terhampar.
“Sebentar lagi senja berganti malam.” ujar Syekh Siti Jenar, matanya menyapu
setiap wajah yang duduk bersila
memenuhi aula padepokan. “…warna jingga, merah darah yang menciprat di antara
serpihan awan pun akan
hilang…semuanya ditelan gelap malam. Tanpa cahaya, tanpa ada redup, tanpa ada
remang, sama sekali dalam
gelap tidak akan pernah ada yang terlihat setitik bentuk pun. Kecuali hanya
warna pekat yang disebut gelap
gulita.”
“Sungguh hebat beliau, Ki Ageng Tingkir?” Ki Bisono berbisik pada Ki Ageng
Tingkir yang duduk disampingnya.
“Benar, Ki Bisono. Baru saja kita akan bertanya tentang sabda alam dan
pesannya, beliau sudah mengawali
kalimat dengan yang akan kita tanyakan.” bisik Ki Ageng Tingkir, “Syekh Siti
Jenar benar‐benar waspada permana
tinggal.” berdecak kagum.
“Hamamayu hayuning bawana, yang telah andika amalkan belumlah cukup. Sehingga
alam pun tidak utuh
memberikan sabdanya, namun meskipun demikian andika telah sanggup menyatu
dengan alam meski belum
sempurna.” Syekh Siti Jenar memutar tasbih dengan tangan kirinya sambil duduk
bersila, sorot matanya yang
penuh wibawa seakan‐akan sanggup menembus relung hati para muridnya. Bibirnya
selalu meluncurkan dzikir,
istigfar, dan takbir pada setiap sela‐sela
perhentian bicara. “Namun tidaklah terlalu jauh, hanya tinggal satu
tingkat lagi. Akhirnya andika pun akan sampai pada tingkat penyatuan dengan
alam. Ketika ingin menyatu dengan
setiap heningnya malam, tetesnya embun, semilirnya angin, jingganya matahari,
bukan soal yang berat. Andika
semua akan bisa mencapai tahapan tadi, hanya tinggal selangkah.”
“Benar, Syekh.” Ki Bisono menganggukan kepala. “Namun sesungguhnya kami telah
berada pada tahap rahmatan
lil alaminkah atau belum, Syekh?”
“Andika sebetulnya tidak harus mendapat penilaian dariku.” tatapan Syekh Siti
Jenar menyapu wajah Ki Bisono
yang langsung menunduk, tidak sanggup beradu tatap. “Biarlah Allah SWT. yang
memberikan penilaian. Namun
dalam hal ini saya hanya memberikan barometer bagi andika tentang rahmatan lil
alamin atau hamamayu
hayuning bawana.”
“Saya pun berpikir, Syekh. Sudahkah saya ini menjadi manusia yang telah memberikan
rahmat bagi alam.” Ki
Bisono mengerutkan dahinya, “…atau mungkin sebaliknya hanya menjadi laknatan
lil alamin. Padahal banyak
orang bilang jika dirinya sedang menebarkan rahmatan lil alamin, tetapi dalam
kenyataannya mereka malah
menciptakan sebuah keruksakan dan kehancuran.”
“Benar, Syekh. Seperti yang dikatakan Ki Bisono, kebanyakan orang seperti itu,
antara ucapan dan perbuatannya
kontroversi.” tambah Ki Chantulo.
“Andika tidak harus membicarakan orang lain.” Syekh Siti Jenar menghela napas
dalam‐dalam, “Biarlah mereka
seperti itu, karena mereka berbuat demikian maka hasilnya pun akan mereka tuai
pula. Namun sebaliknya, meski
pun kita berusaha mengamalkan hamamayu hayuning bawana, tidaklah selalu menuai
hasil baik….”
“Maksud, Syekh?” para murid Syekh Siti Jenar serempak bertanya dan terkejut.
“Tidakkah andika melihat sabda alam tadi?” Syekh Siti Jenar membelokkan
tatapannya melalui jendela padepokan
ke arah mentari yang hampir menghilang di balik punggung gunung. “Alam
memberikan pesan berdarah?”
“Saya belum paham?” Ki Chantulo garuk‐garuk
kepala.
“Artinya berujung pada kematian. Namun andika jangan takut akan kematian, sebab
cepat atau pun lambat pasti
akan datang.” Syekh Siti Jenar menyapu wajah murid‐muridnya dengan tatapan mata tenang dan penuh wibawa,
“Makanya saya ajarkan hamamayu hayuning bawana, agar memudahkan jiwa ini
menyatu dengan alam dan
kembali padanya. Orang takut akan kematian karena mereka menduga bahwa mati itu
sangat sakit dan
mengerikan. Padahal itu semua tidak benar, mereka yang merasakan sakit akan
mati karena sebuah ketakutan
dan ketidaksiapan. Padahal kapan pun dan dimana pun kita bisa menemuinya. Tidak
harus sakit atau menyakiti.
Hal mati itu sangatlah nikmat dan menyenangkan. Karena kematian itu sesungguhnya
menyatunya kembali jiwa
kita pada dzat sebelumnya. Bukankah ketika kita belum lahir ke dunia ini,
apalagi belum beranjak menjadi
manusia dewasa yang mengerti baik dan buruk, ilmu dan akal, miskin dan kaya,
senang dan duka, bukankah hal
itu tidak pernah kita rasakan sebelumnya? Itulah karena kita berada dalam
dzatnya, yang teramat tentram dan
tidak terusik oleh sesuatu dan apa pun.” urainya.
“Bukankah kematian itu banyak orang yang tidak mengharapkannya?” ujar Ki
Pringgoboyo.
“Ya,” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak, “Karena mereka tidak paham dan
mengerti akan kematian.”
“Mungkin mereka takut mati karena terlalu sayang pada istri, anak‐anak, dan jabatannya?” Ki Bisono angkat
bicara, “Sehingga dirinya diliputi rasa takut akan meninggalkan orang‐orang yang dicintainya, serta harta benda
dan kedudukannya. Akhirnya mati itu dibuatnya menjadi sesuatu yang menakutkan
dan menyakitkan, Syekh.”
“Andika tidak salah, Ki Bisono.” Syekh Siti Jenar menyapa wajah Ki Bisono
dengan sorot matanya yang teduh dan
tenang. “Terlalu mencintai kehidupan duniawi, yang bersifat fana dan sejenak.
Lalu mereka lupa pada kehidupan
hakiki, kehidupan yang sesungguhnya, setelah melewati pintu mati. Padahal
kematian itu hanyalah sebuah pintu
menuju keabadian yang didalamnya bisa berbalut dengan kenikmatan, penderitaan,
kesedihan, tawa, duka,
nestapa, itu semua tergantung kita menanamnya pada kehidupan sebelumnya, yaitu
di dunia ini. Hasil pekerjaan
apa pun yang pernah kita perbuat di dunia fana ini akan kembali kita tuai dan
nikmati di alam sana. Bisa
bermacam‐macam. Namun bagi kita yang mempelajari hamamayu hayuning
bawana tidaklah seperti itu. Apalagi
kematian itu bukanlah suatu hal yang menakutkan apalagi menyakitkan, tetapi
kematian itu sesuatu yang teramat
indah dan menyenangkan. Jika mereka tidak bisa menemui ajal kapan pun dan
dimana pun, tetapi kita
sebaliknya.”
“Bisakah kita menentukan ajal sendiri? Setidaknya mengetahui datangnya ajal?”
tanya Ki Bisono.
“Tentu saja. Karena kita berbeda dengan orang kebanyakan yang tidak mengetahui
sama sekali akan ilmu
hamamayu hayuning bawana.” Syekh Siti Jenar menghela napas sejenak, “Bukankah
telah saya katakan bahwa
ketika kita berada pada tahapan ma’rifat semuanya menjadi tampak. Lalu kita
berada dalam akrab. Setelah itu
barulah manunggaling kawula gusti.”
“Ya, saya telah merasakannya pada tahapan ma’rifat. Semuanya jadi tampak,
tetapi saya kesulitan menuju
tahapan akrab dan manunggaling kawula gusti.” Kebo Kenongo berucap, “Meski pun
demikian saya sedang
berupaya menuju ke tahap yang ingin saya capai.”
“Itu pasti akan tercapai, Ki Ageng Pengging. Selama kita tidak berhenti
berusaha.” terang Syekh Siti Jenar.
“Syekh, saya ingin kembali menanyakan tentang sabda alam tadi.”
“Silahkan, Ki Chantulo!”
“Maksud dari berita kematian itu seperti apa? Bukankah kita semua pasti akan
mati?””Benar, Ki Chantulo. Namun
maksudnya disini ada keterkaitan dengan Kerajaan Demak. Kematian yang dimaksud
disini terkait dengan para
penguasa negeri Demak Bintoro.” Syekh Siti Jenar menghentikan bicaranya, seraya
jari‐jemari tangannya
memainkan untaian mata tasbih, dari mulutnya meluncur dzikir, istigfar, tahmid,
tahlil dan tasbih. “Terkait pula
dengan persoalan keyakinan, terkait pula dengan kekacauan yang mengancam
keamanan dan ketentraman
negara, terkait pula dengan banyak persoalan.”
“Kenapa mesti beritanya sampai kepada kita? Seakan‐akan itu semua akan kita alami?”
“Ya,”
“Jadi?”
“Tidak perlu takut, bukankah saya sudah membekali andika semua dengan ilmu
sehingga tidak menjadikannya
aneh dan menakutkan. Sebaliknya kenikmatanlah yang akan kita sambut.”
“Mengapa hal itu mesti harus menimpa kita, Syekh? Bukankah kita tidak melakukan
kesalahan?”
“Lupakah andika pada uraian saya tadi. Disini tidak lagi berbicara siapa yang
benar dan salah? Karena ini semua
sudah menjadi kehendak alam, sunatullah. Karena kehendak alam, makanya ilmu
hamamayu hayuning bawana
sebagai penyempurnanya.”
“Saya kurang paham?” Ki Biosono memijit keningnya yang dikerutkan, lalu menatap
tikar pandan yang
didudukinya.
“Rasanya, tidak perlu dipahami untuk saat ini. Pemahaman tentang hal tadi akan
andika genggam menjelang
peristiwa itu mendekat.” terang Syekh Siti Jenar tenang. “Meski andika tahu
akan hal tadi, amalkanlah hamamayu
hayuning bawana. Bertebaranlah seperti sebelumnya andika di atas tanah jawa
dwipa ini untuk menyebarluaskan
ajaran agama Islam.”
“Baiklah, Syekh. Saya tetap akan menebar rahmat bagi sekalian alam. Rahmatan
lil alamin, hamamayu hayuning
bawana.” ujar Ki Bisono. “Karena apa pun yang saya lakukan dalam penyebaran
agama Islam ini bukan untuk
mencari popularitas, bayaran, apalagi jabatan atau kekuasaan, serta pengaruh,
namun itu semua saya dasari
dengan keikhlasan dan keridlaannya. Semoga pula Allah SWT. meridloinya.”
“Amin.”
***
“Malam ini cuaca cerah. Lihatlah bintang‐gemintang
berkedap‐kedip di langit!” Joyo Dento mengangkat kepalanya
mendongak ke langit, ” Persiapkanlah diri kalian, senjata, kuda, dan akal.”
lalu menatap pasukan berpakaian serba
hitam yang berbaris rapih.
Mereka sejumlah pasukan pemberontak yang telah mendapat gemblengan olah
kanuragan dari para pendekar
berlatar rampok, Kebo Benowo dan kawan‐kawan.
Disamping ilmu keprajuritan dari Joyo Dento.
“Bagaimana kesiapan andika semua?” Kebo Benowo keluar dari sebuah pendopo yang
dijadikan markas. Tempat
yang mereka diami terpencil dari penduduk, karena berada tepat di pinggiran
hutan.
“Saya kira mereka suda siap, Ki Benowo.” ujar Joyo Dento mendekat.
“Baguslah jika telah siap.” Kebo Benowo mengangguk‐angukan kepala. “Sasaran pertama?”
“Tentu saja sesuai dengan rencana.” Joyo Dento setengah berbisik, “Malam ini
kita harus bisa melumpuhkan
Kademangan Bintoro. Jika sudah berhasil, langsung kita duduki dan kuasai.
Disanalah selanjutnya pusatkan
sebagian kekuatan kita, lalu perlebar sayap.”
“Hahaha….andika memang cerdas, Dento.” raut wajah Kebo Benowo berseri, “Namun
sudah memungkinkankah
kita menggempur Kademangan Bintoro?”
“Saya kira mungkin, Ki Benowo. Sebab kekuatan Kademangan Bintoro sudah melemah.
Daya pikir rakyatnya sudah
terpengaruh dengan ajaran hidup untuk mati. Yang andika ajarkan dari Syekh Siti
Jenar itu, sehingga mereka
banyak yang bunuh diri dan tidak semangat hidup.” terang Joyo Dento, “Apalagi
membela negerinya dari
serangan kita, memikirkan diri sendiri pun sudah tidak tenang.”
“Benar, Dento.” seringai Kebo Benowo, “Hebat juga pengaruh ilmu Syekh Siti
Jenar jika demikian…terutama untuk
membuat kekacauan.”
“Kapan kita akan berangkat?” Loro Gempol menyilangkan golok di dadanya,
“Rasanya saya sudah tidak sabar ingin
memenggal leher penguasa Kademangan Bintoro!”
“Kita akan melakukan penyerangan jelang tengah malam.” jawab Joyo Dento.
“Ketika mereka lengah dan baru
saja menuju tempat tidur untuk bercengkrama dengan mimpi‐mimpinya.”
“Ya, saya setuju!” ujar Loro Gempol diiringi tawanya yang berderai. “Hai, para
pasukan gelap sewu! Andika dalam
penyerangan nanti jangan ragu‐ragu untuk membunuh. Tidak perlu
kalian mengasihani musuh sebelum mereka
bertekuk lutut!”
“Siap!” jawab pasukan gelap sewu serempak.
“Hahaha…bagus jika andika semua sudah siap! Kita akan bergerak dan bertindak
sesuai rencana yang telah
disusun Joyo Dento.” terang Loro Gempol. Mereka percaya sepenuhnya pada setiap
nasehat Joyo Dento.
Malam semakin larut, udara terasa semakin dingin, mengusik pori‐pori kulit meski berpakaian tebal tetap terasa.
Meski berada dalam ruangan tetap angin malam menyelinap melalui lubang‐lubang angin yang membentengi
pendopo Kademangan Bintoro.
Di ruang pendopo Kademangan Bintoro tampak Ki Demang, Ki Sakawarki, ulama yang
dianggap berilmu paling
tinggi di Kademangan, juga beberapa santrinya, dan ditambah beberapa prajurit
senior.
“Itulah hasil perundingan saya dengan para wali dan ulama di masjid Demak, Ki
Sakawarki.” ujar Ki Demang
Bintoro.
“Jika memang demikian keputusan sidang para wali, insya Allah saya mulai besok
akan melakukan penyelidikan
yang lebih mendalam tentang ajaran Syekh Siti Jenar.” ujar Ki Sakawarki.
“Mohon maaf, Guru.” ujar Santri penuh hormat, “Menurut yang saya ketahui,
sesungguhnya bukan hanya rumor.
Namun benar bahwa ajaran Syekh Siti Jenar yang menyesatkan telah tersebar di
Kademangan Bintoro.”
“Benarkah?”
“Benar, Guru. Kemarin saya melewati pasar, di sana banyak orang miskin yang
berbicara ngelantur. Serta dari
mulutnya komat‐kamit menyebut nama syekh Siti Jenar.”
“Apa yang dibicarakannya?” Ki Sakarwaki menyapu wajah santri dengan tatapan
matanya, “Ngelanturnya seperti
apa sehingga andika menyimpulkan sesat?”
“Mereka berbicara bahwa hidup itu lebih indah dari pada mati. Tidak ada artinya
kita hidup jika hak kita dirampas
oleh penguasa Demak. Hidup untuk mati, mati itu indah, hidup Syekh Siti Jenar!”
ki santri berhenti sejenak, “Itulah
yang saya dengar dan lihat, Guru.”
“Mati itu indah? Celaka!” Ki Sakawarki terperanjat.
“Yang paling celaka, mereka telah berani mengatakan bahwa hak hidup mereka
dirampas oleh penguasa Demak.”
Ki Demang tersentak, mukanya berubah angker, “Beraninya Syekh Siti Jenar
mengajari rakyat Kademangan
Bintoro untuk berkata lancang! Jelas selain menyesatkan juga punya tujuan makar
terhadap pemerintahan yang
syah.”
“Benar pendapat, Ki Demang!” Ki Sakawarki menganggukkan kepala, tangannya
terkepal giginya gemeretak.
“Sudah sepantasnya kita mengadakan tindakan dengan segera!”
“Ya, Ki Sakawarki. Saya kira alasan seperti itu sudah cukup untuk melakukan
penangkapan terhadap Syekh Siti
Jenar dan pengikutnya.” Ki Demang Bintoro bangkit dari duduknya, tangannya
dikepalkan sekuat tenaga. “Karena
mereka telah melakukan dua kesalahan. Pertama menyampaikan ajaran sesat, kedua
telah berani mempengaruhi
rakyat untuk berbuat makar.”
“Apakah kita akan langsung menangkap Syekh Siti Jenar? Atau segera melaporkan
hal ini pada Para Wali dan
Raden Patah?”
“Sebelum melaporkan ke kerajan Demak dan para Wali sebaiknya kita melakukan
penangkapan terlebih dahulu
pada pengikutnya. Agar pelaporan kita disertai oleh bukti yang meyakinkan.”
ujar Ki Demang. “Besok pagi saya
akan memerintahkan beberapa orang prajurit untuk melakukan penangkapan! Saya
minta agar Ki Sakawarki
beserta para santri menyertainya!”
“Baiklah, Ki Demang. Besok pagi akan saya kerahkan para santri menyertai para
prajurit kademangan untuk
melakukan penangkapan.”
“Bagus.”
“Serbuuuuuuu!!!!” tiba‐tiba terdengar teriakan di halaman kademangan, dibarengi
suara benturan senjata.
“Ada apa diluar sana?” Ki Demang Bintora tersentak kaget, belum juga mulutnya
terkatup sudah diusik oleh suara
yang menganggetkan.
“Sepertinya ada peretempuran, Ki Demang?” Ki Sakawarki bangkitdari duduknya
seraya menghunus keris, begitu
juga para santrinya.
“Ke….” belum juga Ki Demang melanjutkan perkataannya, dengan tergesa masuklah
seorang prajurit penjaga.
Langsung merunduk di hadapan Ki Demang seraya menghaturkan sembah.
“Mohon ampun, Ki Demang.”
“Apa yang terjadi diluar sana?”
“Celaka, Ki Demang. Kademangn kita telah diserbu para murid Syekh Siti Jenar….”
“Murid Siti Jenar?” Ki Sakawarki tercengang.
“Itulah yang mereka sebut‐sebut ketika melakukan penyerangan di luar sana.” terang
prajurit.
“Berarti itu bukan hanya dugaan, Ki Sakawarki. Tetapi benar yang kita simpulkan
tadi. Mau tidak mau sekarang
juga harus bertindak dan mengadakan perlawanan.” Ki Demang segera memasuki kamarnya,
seraya kembali
menghunus pedang dan mengenakan pakaian perang. “Seluruh prajurit harus
berperang dan menumpas antekantek
Syekh Siti Jenar. Jangan segan‐segan untuk bertindak tegas!”
selanjutnya keluar dari ruangan, diikuti Ki
Sakawarki beserta para santrinya dan pasukan prajurit.
Dalam keremangan malam yang diterangi kerlap‐kerlipnya
bintang di langit. Bulan belum lagi menjadi purnama, di
pelataran kademangan Bintoro tampak berkelebatannya bayangan prajurit dan
pasukan Gelap Sewu yang sedang
bertarung.
“Hahaha…..jangan sisakan yang tidak mau menyerah. Ilmu Syekh Siti Jenar
menyertai kita!” teriak Loro Gempol
yang berada di atas punggung kuda, menerobos pasukan lawan sambil membabatkan
goloknya.
“Tobaattttt….!” teriak seorang prajurit yang terkena sabetan golok Loro Gempol,
terhuyung dan roboh dengan
luka parah di lambungnya.
“Hahaha….perlihatkanlah kehebatan kalian para prajurit dan petinggi negeri
Demak! Saya yakin ilmu para wali
tidak akan bisa mengalahkan ilmu guru kita, Syekh Siti Jenar yang agung.” Loro
Gempol terus mengamuk,
menerjang gelombang pasukan prajurit Kademangan Bintoro yang berlapis‐lapis.
“Ki Demang, dengarlah teriakan lelaki yang sedang mengamuk dan berusaha
menerobos lapisan prajurit kita!”
bisik Ki Sakawarki.
“Benar, ternyata dia murid Syekh Siti Jenar.” Ki Demang Bintoro menggeleng‐gelengkan kepala. “Betapa
angkuhnya dengan kesaktian yang dimilikinya, Ki Sakawarki?”
“Mengagunggkan Syekh Siti Jenar dan merendahkan para wali terhormat, Ki
Demang.”
“Sanggupkah kiranya kita mengalahkan mereka?”
“Tidak perlu ragu, Ki Demang. Saya punya keyakinan Allah SWT. akan melindungi
kita. Lihatlah jumlah pasukan
kita lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan pasukan musuh yang berpakaian
serba hitam.”
“Saya kira pasukan mereka harus ditutup ruang geraknya. Lalu robohkan
pimpinannya yang sedang mencoba
menembus lapisan pertahanan para prajurit. Jika pimpinannya roboh mereka akan
mundur.” ujar Ki Demang
Bintoro.
“Biar saya yang akan loncat dan merobohkannya!” ujar Ki Sakawarki seraya
bersiap‐siap untuk loncat.
“Kelihatannya dia bukanlah orang yang mudah dikalahkan. Karena tebasan senjata
para prajurit seakan‐akan tidak
bisa melukai tubuhnya.”
“Ki Demang, saya kira di dunia ini tidak ada orang yang hebat kecuali Allah.
Tidak ada salahnya jika saya mencoba
menghadapinya demi mempertahankan tanah tercinta dari kedzaliman. Maka jihadlah
jalan keluarnya.” Ki
Sakawarki tanpa menunggu ucapan Ki Demang berikutnya, seraya dirinya menghunus
keris dan melesat ke
angkasa melewati barisan prajurit yang berlapis‐lapis.
“Hiaaaaattttt…….!!!!”
“Pasukan pemanah bersiaplah kalian di belakangku! Jika pasukan terdesak,
bertindaklah kalian!”
“Siap, Ki Demang!” pasukan pemanah bersiap, untuk melepas anak panah. Busurnya
sudah dipegang dengan kuat,
talinya ditarik, anak panahnya dipasangkan, tinggal melepas sesuai perintah.
Tubuh Ki Sakawarki yang melayang di angkasa terlihat sangat enteng dan ringan,
bagaikan burung elang dengan
sorot matanya yang tajam. Lalu menukik ke bawah, berbarengan dengan tendangan
kaki kanannya yang
menghantam dada Loro Gempol.
“Aduhhhh….!!!” betapa terperanjatnya Loro Gempol, ketika ada lelaki berjubah
putih yang turun dari langit dan
mengirimkan tendangan keras ke arah dadanya, hingga dirinya terpental dan jatuh
dari punggung kuda. “Makhluk
apakah yang menendang dadaku hingga terasa sesak dan panas….membakar sekujur
tubuhku….”
“Bukankah andika murid Syekh Siti Jenar yang sakti?” Ki Sakawarki melayang dan
berdiri dihadapan Loro Gempol
yang terhuyung, seraya tangan kirinya memegang dada.
“Siapa andika? Mengapa bisa terbang seperti Syekh Siti Jenar guru saya?”
“Saya Sakawarki, muridnya Sunan Kalijaga. Andika mengaku muridnya Syekh Siti
Jenar dan menganggap remeh
para wali. Ternyata ilmu yang andika pelajari dari Syekh Siti Jenar tidak
seberapa?” Ki Sakawarki mendekat,
“Andika harus ditangkap karena telah berani melakukan pemberontakan dan……”
Hiatttt….belum juga Ki Sakawarki selesai berbicara, Kebo Benowo dengan cepat
menyambar tubuh Loro Gempol
yang terhunyung‐huyung. Dinaikan ke atas kuda dan melarikan diri dari pertempuran.
“Mundurrrrrrr!!!!” teriak Kebo Benowo, seraya memacu kudanya dengan cepat.
“Jangan lari keparat!” Ki Sakawarki bersiap untuk mengejar, namun Lego Benongo
menghadangnya.
“Kematian itu indah, kehidupan ini adalah penderitaan. Karena kematian lebih
baik dari hidup miskin dan terjajah,
hamamayu hayuning bawana.” ujar Lego Benongo, seraya menyilangkan golok di
dadanya.
“Tidak salah yang andika ucapkan, Ki Sanak?” Ki Sakawarki mengurungkan gerakan
silatnya, sejenak berdiri dan
mencerna ucapan Lego Benongo. “Mungkin inikah yang dinamakan sesat?”
“Siapa yang sesat? Andikalah dan para wali, juga penguasa negeri Demak Bintoro
yang sesat?” lalu Lego Benongo
menyelinap di antara lautan prajurit yang merangsek, setelah itu melarikan
diri.
“Aku jadi kehilangan kejaran.” Ki Sakawarki mengincar salah seorang pasukan
gelap sewu untuk ditangkap.
Mereka terlihat berlarian dari medan tempur setelah pimpinannya menghilang
ditelan gelapnya malam. “Sulit
juga menangkapnya. Mereka pintar menyelinap!”
“Kademangan Bintoro telah terbebas dari pemberontak!” teriak para prajurit.
Sebagian berjaga‐jaga, yang lainnya
menolong yang terluka, serta mengangkut korban tewas.
“Ki Sakawarki, benar bukan mereka muridnya Syekh Siti Jenar?” Ki Demang Bintoro
berdiri di samping Ki
Sakawarki.
“Ya, namun mungkinkah beliau mengajarkan ajaran seperti ini?”
“Mengapa tidak mungkin?” ujar Ki Demang, “Bukankah kita sudah berhasil
menangkap hidup‐hidup salah seorang
muridnya yang mengaku anggota pasukan gelap sewu. Orang ini kita bawa ke pusat
kota Demak untuk memasuki
persidangan para wali sebagai saksi dan bukti.”
“Dimana dia?”
“Dia berada dalam penjagaan para prajurit.” Ki Demang menunjuk ke utara, seraya
kakinya melangkah pelan.
“Mari kita tanyai!”
“Baiklah, mudah‐mudahan bisa memperkuat dugaan kita dalam persidangan di
majelis para wali.” Ki Sakawarki
melangkah pelan disamping Ki Demang Bintoro. Ketika langkah keduanya hampir
mendekat, para prajurit penjaga
berteriak. Menyampaikan kabar bahwa, murid Syekh Siti Jenar bunuh diri dengan
membenturkan kepalanya ke
dinding hingga kepalanya pecah.
Mendengar kabar demikian, Ki Sakawarki dan Ki Demang terkejut. Keduanya saling
tatap seraya mengurut dada
dan menarik napas dalam‐dalam.
“Sangat kuat pengaruh ajaran Syekh Siti Jenar, Ki Sakawarki.” Ki Demang Bintoro
menggeleng‐gelengkan kepala
saat melihat jasad anggota pasukan Gelap Sewu yang terbujur kaku dengan kepala
pecah, berlumuran darah.
“Ajaran hidup mati, mati hidup.”
“Ki Demang, kita sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa benar ajaran Syekh Siti
Jenar itu sesat dan
menyesatkan.” Ki Sakawarki berjongkok disamping jasad.
“Cukup bukti kita untuk kembali melaporkan hal ini ke hadapan para wali, Ki
Sakawarki.”
“Benar, kita harus segera melapor ke pusat kota Demak!” Demang Bintoro
menganggukan kepala. “Sebagai bukti
tidak ada salahnya jika jasad ini dibawa.”
“Menurut hemat saya sebaiknya jasad ini kuburkan saja di sini selayaknya.
Kasihan jika harus dibawa ke Demak,
sebab perjalanan kita memakan waktu hampir seharian. Setelah itu baru keesokan
harinya kita bisa menguburkan
setelah diperiksa para wali.” terang Ki Sakawarki. “Tidak ada salahnya jika
jasad ini dikuburkan berbarengan
dengan korban lainnya.”
“Tapi dia beraliran sesat, Guru?” ujar seorang santri yang berjongkok
disampingnya.
“Ajarannya yang kita anggap sesat. Bukankah jasadnya tetap perlu kita hormati
dengan penguburan yang
selayaknnya.” terang Ki Sakawarki.
“Saya setuju,” Demang Bintoro menganggukan kepala, “Prajurit kuburkanlah mereka
dengan layak, begitu juga
para korban tewas lainnya.” lalu memerintah.
***
Padepokan Syekh Siti Jenar yang berada di kaki bukit Desa Khendarsawa, tampak
hening. Matahari pagi mulai
meninggi, kirimkan sinar terang dan kehangatannya. Cahayanya menerobos setiap
celah dan ruang yang berada di
atas bumi, tidak ada kecuali, tidak pula membeda‐bedakan,
seluruhnya terbagi sesuai dengan ketinggian matahari
berada.
Nun jauh di atas jalan yang terbentang panjang dan penuh kelokan, dua orang
penunggang kuda bergerak cepat.
Jalan yang membelah Desa Khendarsawa akan melintas ke arah padepokan Syekh Siti
Jenar.
Penunggang kuda yang berada disampingkanannya tampak tegap dan kuat, tangan
kirinya menuntun kuda
disebelahnya, tampak terhuyung. Meringis kesakitan, tangannya berkali‐kali memijit dadanya.
“Aduhhhhh…..sakit…sesak….” keluhnya.
“Tenang, Gempol. Padepokan Syekh Siti Jenar telah dekat.” ujar Kebo Benowo,
mempercepat langkah kuda yang
ditungganginya.
“Saya sudah tidak kuat lagi, Ki Benowo.” keluh Loro Gempol, “Punya ajian apa
sesungguhnya Kiai Kademangan
Demak itu?”
“Saya juga tidak tahu, Gempol.” terang Kebo Benowo, “Kita tanyakan semua ini
pada guru kita di padepokan
nanti. Hussss…hiahhh!”
Kuda yang ditunggangi Kebo Benowo dan Loro Gempol, berhenti di kaki bukit,
persis di depan jalan menanjak.
Tanah bukit yang dipapas menyerupai anak tangga bertingkat itu tepat berada di
bawah padepokan Syekh Siti
Jenar.
Kebo Benowo loncat dari atas kuda, perlahan menurunkan Loro gempol yang
terhuyung. Keduanya menaiki
tangga dengan berat, setelah mengikat kedua kuda tunggangannya di bawah pohon rindang.
“Keparat!” geram Loro Gempol, “Keterlaluan Syekh Siti Jenar ini, tinggal di
dataran tinggi…..” keningnya
meneteskan keringat dingin, tangannya memijat dada, langkahpun tidak seimbang.
“Tidak perlu bicara seperti itu, Gempol.” bisik Kebo Benowo. “Adikan masih
tidak menyadari juga kalau guru kita
ini memiliki kesaktian tinggi? Apa pun yang kita bicarakan meskipun jauh beliau
bisa mendengarnya.”
“Omong kosong! Jika memang demikian tentu dia tahu ketika kita berada dalam
kesulitan….” gerutu Loro Gempol.
“Sssssssttttttt…” Kebo Benowo meletakan telunjuk dimulutnya.
“Andika belum paham juga dengan ajaran hamamayu hayuning bawana.” terdengar
suara Syekh Siti Jenar tepat
ditelinga keduanya, “….bukankah kalian tidak boleh menebar kerusakan dimuka
bumi ini, justru harus sebaliknya.”
“Syekh?” Kebo Benowo terperanjat, begitu juga Loro Gempol. “Tuh, benar yang
saya katakan, Gempol?”
“Ya,…..” wajah Loro Gempol mendadak pucat dan cemas. “Maafkan saya, Syekh.
Tidak ada maksud untuk
menjelekan…” lalu memutar kepalanya, mencari wujud yang memiliki suara.
“Andika tidak akan bisa melihat saya di sana. Karena wujud saya tidak di sana.”
suara Syekh Siti Jenar semakin
menempel di dalam gendang telinga keduanya.
“Dimanakah, Syekh?” teriak Kebo Benowo, tidak menghentikan langkahnya. Hingga
keduanya telah berada di atas
tangga terakhir, dalam jarak beberapa depa dari gerbang padepokan. “Itu beliau,
sedang berbincang‐bincang
dengan Ki Ageng Pengging.” matanya terbelalak.
“Lalu suara tadi?” Loro Gempol menggeleng‐gelengkan
kepala. “Bukankah yang berada di halaman padepokan itu
Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng pengging? Sedang bercakap‐cakap. Mengapa suaranya…..”
“Syekh, ketika saya sudah berada dalam tahapan ma’rifat, sangatlah sulit untuk
mengungkapkannya dengan
kalimat.” Kebo Kenongo berdiri dihadapan Syekh Siti Jenar. “Tadinya saya ragu,
tidak bisa mencapainya.”
“Ya, itulah ma’rifat.” Syekh Siti Jenar menganggukan kepala, “Terasa lebih
nikmat dibanding berada pada tahapan
thariqat.”
“Benar, Syekh.” Kebo Kenongo menganggukan kepala, “Kenikmatan dalam ma’rifat
sepertinya sangat indah.
Dunia ini terasa sangatlah kecil dan tidak berarti….”
“Ma’rifat itu berada dalam alam jiwa, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar
mengibaskan jubah hitam yang berlapis
kain merah di dalamnya. “Sedangkan kita sekarang berada dalam alam jiwa dan
jasad. Jasad tetap harus
terbungkus pakaian dan jubah, meski bukan kepuasan, tetapi hanyalah syarat yang
dinamakan kehidupan bagi
orang kebanyakan. Satukanlah jiwa dan jasad itu, maka disitulah ma’rifat
seutuhnya akan terwujud.”
“Jadi ma’rifat yang saya alami belum utuh, Syekh?”
“Tentu.” Syekh Siti Jenar menganggukan kepala. “Kita sebelum mengenal Gusti dan
menuju akrab, hendaklah
mengenali dulu diri sendiri. Ki Ageng Pengging, saat ini sudah masuk pada
tahapan yang saya maksud.”
“Jadi saya baru mengenal diri?”
“Setelah itu kenalilah Gustimu, barulah akrab. Sebelum akrab ma’rifatlah
seutuhnya.” terang Syekh Siti Jenar,
“Satukanlah yang tercabik, genapkanlah yang ganjil, dekatkanlah yang jauh,
rapatkanlah yang renggang. Hingga
manunggaling kawula wujud.”
“Manunggaling kawula wujud?”
“Maunggaling kawula wujud, ma’rifat seutuhnya. Tahapan orang yang mengenal
dirinya, hingga berikutnya
manunggaling kawula gusti. Wujud adalah jiwa, jiwa adalah jasad, jasad maujud
jiwa, jiwa maujud jasad.” Syekh
Siti Jenar berhenti sejenak, perlahan tubuhnya menembus pohon, lalu
mengeluarkan sebelah tanganya dari
dalam. “Saya berada dalam pohon, setelah itu kembali.”
“Ya, Allah.” Kebo Kenongo terkagum‐kagum,
matanya seakan‐akan tidak bisa berkedip, menyaksikan Syekh Siti
Jenar yang telah keluar dari dalam batang pohon. “Betapa hebatnya ilmu yang
Syekh miliki.”
“Ilmu itu milik Allah. Saya adalah manusia biasa, itu hanya menjelaskan
manunggaling kawula wujud. Hingga
wujud ini bisa menjadi halus seperti jiwa, jiwa pun bisa keras seperti wujud.”
lalu Syekh Siti Jenar duduk bersila di
atas rumput hijau, tidak bergerak. Perlahan keluar satu sosok Syekh Siti Jenar
lain, lalu melangkah mengitari yang
sedang bersila. “Inilah jiwa, inilah jasad, maka menyatu, manunggaling kawula
wujud.”
“Subhanallah…..” Kebo Kenongo terbelalak untuk kesekian kalinya, kedipun seakan‐akan hilang dari kelopak
matanya.
“Itulah manunggaling kawula wujud. Dalam tahapan ma’rifat seutuhnya manusia
bisa memisahkan jiwa dengan
jasad, menyatukannya kembali. Namun itu bukanlah mati, sebab jasad yang saya
lepas dalam keadaan hangat.
Hanya gerak dan geriknya berada di luar.”
“Lantas orang yang bisa meringankan tubuh dan mengeluarkan tenaga dalam,
membuat musuh terpental, berada
pada tahapan apa?”
“Dalam tahapan syariat.” Syekh Siti Jenar lalu memukul batu padas seukuran
kelapa, diremasnya hingga
bertebaran laksana debu. Jasadiah yang dilatih akan menghasilkan kanuragan,
dipadukan dengan batin keluar
tenaga dalam.” lalu membuka telapak tangan dan dihentakan pada batang pohon.
Krak, patah, dan jatuh di samping Kebo Kenongo. Kebo Benowo dan Loro Gempol
sama sekali tertahan
menyaksikan Syekh Siti Jenar dengan ilmunya yang tinggi sangat sulit mencari
bandingannya.
“Harus selalukah mengeluarkan tenaga dalam dengan batin?”
“Maksud batin disini bukanlah ada pada tingkatan ma’rifat, tetapi pikiran dan
hati yang terfokuskan. Konsentrasi.”
terang Syekh Siti Jenar, “Untuk mencapai ilmu kanuragan dan sebangsanya yang
meliputi kekuatan jasadyah, tidak
perlu mencapai ma’rifat.”
“Termasuk hakikat dan thariqatnya?”
“Benar, karena kanuragan masih berada dalam lingkar jasadyah, keangkuhan,
kesombongan, emosional,
semangat untuk mencari lawan, memukul, dan amarah.”
“Saya paham, Syekh.” Kebo Kenongo mengangguk‐anggukan
kepalanya, “Meskipun sangat hebat dan sakti orang
yang berada dalam tahapan ma’rifat tidak akan sewenang‐wenang mempertontonkan kesaktiannya,
karena segala hal dalam dirinya telah terkendali termasuk nafsunya.”
“Ki Ageng Pengging, jangan melupakan kebutuhan jasad! Meski kita berasa pada
tahap ma’rifat seutuhnya.” ujar
Syekh Siti Jenar, “Kebutuhan jasad adalah syarat hidup, meski sebetulnya tidak
makan pun tidak akan merasa
lapar. Namun kita makluk yang memiliki jasad, janganlah menyiksa dan memenjarakan
kebutuhannya.”
“Saya paham, Syekh.” Kebo Kenongo mengangguk. “Ma’rifat itu seakan kita berada
di atas ketinggian dan bisa
mencapai ke segala arah, menyentuhnya, merubahnya, menikmatinya,
merasakannya….”
“Lanjutkanlah, sempurnakanlah ma’rifat itu…..” Syekh Siti Jenar melangkah
pelan.
“Syekh,” rintih Loro Gempol, baru berani mendekat. “Sembuhkanlah dada saya yang
terasa sakit dan sesak.”
“Andika mendapat tendangan petir geni dari Ki Sakawarki. Tentu saja akan terasa
sesak dan panas….” Syekh Siti
Jenar hanya dengan tatapan matanya, mengobati rasa sakit yang di derita Loro
Gempol.
“Terimakasih, Syekh.” Loro Gempol dengan penuh hormat mencium kaki Syekh Siti
Jenar. “Saya sudah kembali
pulih. Syekh, benar‐benar sakti. Bisakah semua ilmu yang Syekh miliki diturunkan
pada saya?”
“Jika andika mau,” Syekh Siti Jenar mengangkat bahu Loro Gempol agar tidak lagi
mencium kakinya. “….dan
sanggup menjalaninya.”
“Tidak bisakah jika ilmu kesaktian Syekh langsung diturunkan pada saya?”
“Ilmu kanuragan sangat mudah diturunkan! Namun untuk mencapai tahapan ma’rifat
perdalamlah sendiri, saya
hanya memberi petunjuk.”
“Baiklah, kalau ilmu ma’rifat lain kali saja. Sekarang turunkanlah ilmu
menendang yang lebih hebat dari Ki
Sakawarki.”
“Pulanglah! Ilmu itu sudah andika miliki.”
“Benarkah itu, Syekh?”
“Tendanglah batu padas itu!” Syekh Siti Jenar mengarahkan telunjuknya pada batu
padas yang seukuran tubuh
kerbau. Terletak di halaman padepokan.
“Hiattttt!” Loro Gempol loncat, tendangannya menghantam batu. Tidak pelak lagi,
hancurlah berkeping‐keping.
“Terimaksih, Syekh. Akhirnya saya bisa mebalas Ki Sakawarki. Sekarang juga saya
mohon pamit.”
“Gempol….Gempol…” Kebo Kenongo hanya menggelengkan kepala menyaksikan Loro
Gempol dan Kebo Benowo,
yang sudah turun dari padepokan Syekh Siti Jenar. Hingga lenyap ditelan
ketinggian. “Masih ada orang seperti
dia? Kenapa pula Syekh memberikan ilmu dengan mudah kepada mereka?”
“Tidak sepantasnya kita sebagai makhluk Allah menyembunyikan ilmu.” Syekh Siti
Jenar menyapu wajah Kebo
Kenongo dengan tatapan matanya. “Jika itu dilakukan maka kita bertentangan
dengan sipat Allah yang Maha
Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Kikir itu adalah sipat Syetan,
menyembunyikan pun demikian.
Bergerak luruslah dengan sipat‐sipat Allah, menyatulah didalamnya.
Karena sipat‐sipat Allah itu bukan untuk
dibicarakan dan dibahas secara panjang lebar, tetapi harus diamalkan.”
“Mengamalkan itulah yang berat, Syekh.” ujar Kebo Kenongo. “Kebanyakan manusia
terkadang sangat keberatan
jika orang lain menginginkan ilmu yang dimilikinya?”
“Tentu saja. Karena masih menyatu dengan kebalikan sipat‐sipat Allah, yang saya ungkap tadi.” Syekh Siti Jenar
berhenti sejenak, “Terkadang manusia berpikir, betapa susah untuk meraih ilmu,
betapa berat untuk
mendapatkannya, betapa harus berkorban tenaga dan harta untuk meraihnya, maka
jika demikian haruskah
diberikandengan cuma‐cuma?”
“Syekh sendiri?”
“Itulah saya seperti Ki Ageng Pengging lihat. Mengapa lagi harus menentang
sipat‐sipat Allah jika kita sudah
berada dalam lingkarnya, bukankah kita berada dalam manunggalnya.”ujar Syekh
Siti Jenar. “Apalagi yang saya
inginkan?”
“Meski saya kurang begitu paham maksudnya, sedikit‐demi sedikit akan berusaha mencernanya.”Kebo Kenongo
menempelkan telunjuk dikeningnya. “Pantas saja sangat jarang orang pemurah
semacam, Syekh. Karena mereka
masih berada dalam tahap syariat, kebutuhan jasadyahlah yang paling utama.
Hingga saya berpendapat apalagi
yang tidak bisa Syekh dapatkan? Semuanya berada dalam genggaman.”
“Nafsu duniawi itu akan sirna, seperti saya uraikan sebelumnya.”
“Kenapa Sunan Kalijaga dan para wali yang setarap ilmunya dengan Syekh lebih
menyukai berada dalam lingkar
kekuasaan?”
“Itu bukan tujuan mereka untuk meraih kekuasaan. Terutama Sunan Kalijaga, jika
dia ingin berkuasa tentu sudah
menjadi raja. Karena dia seperti halnya Ki Ageng Pengging keturuan darah biru.”
terang Syekh Siti Jenar, “Sunan
Kalijaga setelah memperdalam ajaran Islam, melepas kekuasaan dan keduniawian,
terutama sekali setelah berada
dalam tahapan seperti saya. Dia berada dalam lingkar kekuasaan Demak, semata
untuk menyebarluaskan syariat
Islam. Bukan berarti gila kekuasaan atau membuntuti penguasa untuk mendapatkan
keuntungan. Dia lebih
cenderung untuk menterjemahkan, menyampaikan, mengamalkan, ajaran tadi dalam
tahapan syariat, juga ilmu
politik, sosial, dan budaya.”
“Apakah dia mengajarkan pula ilmu ma’rifat?”
“Tentu saja.” terang Syekh Siti Jenar, “Namun Sunan Kalijaga tidak seperti saya
cara mengajarkannya. Lihatlah
tentang gamelan dan wayangnya, lihatlah tentang shalat yang lima waktu…..”
“Saya paham, Syekh.” Kebo Kenongo mengangguk‐anggukan
kepala. “Dia tidak mudah memberikan ilmu yang
lebih tinggi tahapannya….”
“Lihatlah tangga yang menuju padepokan saya, Ki Ageng Pengging!”
“Bertahap?” gumam Kebo Kenongo, “Mengapa Syekh memberikan apa saja yang diminta
orang tanpa melalui
tahapan?”
“Bukankah tadi telah saya uraikan? Kenapa tidak jika saya telah berada dalam
lingkar dzat Maha Pemurah, Maha
Pengasih, dan Maha Penyayang. Manunggaling Kawula Gusti.”
“Hhhhhmmmmmm….” Kebo Kenongo menarik napas dalam‐dalam,
pikirannya mencoba mencerna segala uraian
yang telah disampaikan Syekh Siti Jenar. Terkadang gampang dicerna, kadang pula
sangat berat untuk dipahami.
“Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapainya. Namun yang dimaksud
Manunggaling Kawula Gusti
menurut Syekh?”
“Manunggaling Kawula Gusti?” Syekh Siti Jenar lantas berdiri di atas satu kaki,
“Saya berikan dua arti; pertama
manunggaling sifat, kedua manunggaling dzat.”
“Maksudnya?”
“Manunggaling sifat,” Syekh Siti Jenar kembali berdiri di atas dua kakinya,
lalu melangkah perlahan. “Sebelumnya
saya akan bertanya pada, Ki Ageng Pengging. Apa rasanya gula? Apa pula rasanya
garam?”
“Tentu saja gula manis, dan garam asin.”
“Berikan pula gula dan garam ini pada seratus orang. Biarkan mereka mengecap
dengan lidahnya, lalu tanya oleh
Ki Ageng Pengging.”
“Semuanya akan mengatakan sama, Syekh. Manis dan Asin. Meski dikasihkan pada
seribu orang.”
“Itulah yang dikatakan manunggaling sifat.”
“O…ya…” Kebo Kenongo mengangguk‐anggukan kepalanya.
***
“Selamat datang di Masjid Demak, Pangeran Bayat.” ujar Sunan Giri, lalu duduk
bersila di samping Sunan Kudus,
Sunan Muria, tidak ketinggalan Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. “Saya kembali
kedatangan Ki Sakawarki dan Ki
Demang Bintoro.” tatapan matanya menyapu wajah kedua orang yang disebutnya,
duduk berhadapan.
“Terimakasih, saya mendengar kabar burung tentang ajaran sesat yang
disebarluaskan Syekh Siti Jenar.” Pangeran
Bayat menatap Demang Bintoro, “Ajaran sesat macam apa?”
“Sampaikanlah kabar terbaru tentang ajaran Syekh Siti Jenar dan pengikutnya, Ki
Demang!” ujar Sunan Giri.
“Gusti Pangeran, juga Kanjeng Sunan yang saya hormati, ajaran itu benar‐benar menyesatkan. Hidup itu untuk
mati, mati itu untuk hidup, akhirnya banyak rakyat Kademangan Bintoro yang
bunuh diri.” Ki Demang berhenti
sejenak, “Saya selanjutnya melakukan penyelidikan bersama Ki Sakawarki.
Ternyata bukan hanya isapan
jempol belaka tentang kesesatan ajaran Syekh Siti Jenar itu.”
“Saya semula tidak percaya tentang ajaran sesat Syekh Siti Jenar.” tambah Ki
Sakawarki, “Tapi ketika mendengar
langsung dan menyaksikan barulah percaya.”
“Adakah penyimpangan lain dari ajaran Islam yang berkaitan dengan aqidah?”
tanya Sunan Giri.
“Tentu saja, Kanjeng.” Ki Sakawarki menganggukan kepala, “Mereka tidak
mesyariatkan shalat lima waktu, begitu
pula kewajiban lainnya.”
“Menyimpang dan sesat secara aqidah!” Sunan Giri geram.
“Benarkah mereka juga melakukan tindakan makar? Selain menyebarluaskan ajaran
sesatnya?” tanya Pangeran
Bayat.
“Itulah yang kami saksikan.” jawab Demang Bintoro. “Dengan bukti melakukan penyerangan
terhadap
Kademangan.”
“Keparat!” muka Pangeran Bayat merah padam, “Saya kira dibelakang semua ini Ki
Ageng Pengging juga punya
kepentingan?”
“Mungkin? Karena merasa masih keturunan Majapahit, Gusti?” tambah Demang
Bintoro. “Yang paling mencolok
mereka menyebut nama pimpinan pemberontak Kebo Ben….”
“Jika itu Kebo Kenongo, maka dugaan saya benar.” potong Pangeran Bayat. “Karena
Kebo Kenongo nama lain dari
Ki Ageng Pengging….”
“Disini telah berbaur antara aqidah islam dan politik…..”
“Benar, Kanjeng Sunan Kalijaga!” potong Pangeran Bayat, “Untuk itu kita tidak
bisa membiarkan hal ini terjadi.
Sebab jika dibiarkan akan mengancam keutuhan negeri Demak Bintoro.”
‘Padahal maksud saya tidak seperti itu, Kanjeng?’ Sunan Kalijaga beradu tatap
dengan Sunan Bonang, memulai
percakapan dengan batinnya.
‘Saya kira tidak perlu mencampuri persoalan ini terlalu jauh, Kanjeng.’ tatap
Sunan Bonang. ‘Jika itu dilakukan
sangatlah berlebihan, seakan‐akan kitalah yang memiliki ilmu
terlalu tinggi. Sehingga tanpa beranjak dari tempat
duduk mengetahui yang sesungguhnya telah terjadi.’
‘Betapa sombong dan angkuhnya kita, Kanjeng.’ Sunan Kalijaga mengaggukan
kepala. ‘Namun tidak ada salahnya
jika kita dimintai pendapat…’
“Politik macam apa yang terjadi dibalik tersebarnya ajaran sesat ini?” tanya
Demang Bintoro.
“Mereka akan menciptakan dulu keresahan dikalangan umat beragama, Ki Demang.
Dalam keadaan umat resah
dan bingung, politik untuk melakukan makar pun berjalan.” terang Pangeran
Bayat.
“Itulah yang terjadi di Kademangan Bintoro, Gusti Pangeran.” Demang Bintoro
menganggukan kepala, “Pantas
mereka mempengaruhi rakyat kademangan dengan ajaran yang menyesatkan, hingga
pada suatu malam terjadi
penyerbuan. Namun yang paling aneh, ketika salah satu diantara mereka
tertangkap, membenturkan kepalanya
pada batu hingga tewas.”
“Itulah yang mereka anggap jihad!” ujar Pangeran Bayat, “Tentu saja mereka akan
memilih mati ketimbang
tertangkap, karena mati telah memenuhi panggilan jihad.” berusaha menyimpulkan.
“Pantas saja?” Demang Bintoro menggeleng‐gelengkan
kepala.
“Jika demikian kesimpulannya sudahlah jelas persoalan ini, Gusti Pangeran.” Ki
Sakawarki penuh hormat, “Syekh
Siti Jenar beserta pengikutnya harus ditangkap. Mereka telah berani merusak
ajaran Islam yang sesungguhnya.
Selain telah berani‐berani mencampurbaurkan kepentingan politik dengan agama.
Sehingga agama dijadikan alat
politik dan kekuasaan.”
“Itulah yang terjadi Ki Sakawarki, jika boleh saya berksimpulan.” Pangeran
Bayat mengaggukan kepala. “Namun
sebelum bertindak saya akan meminta dulu pendapat para wali agung tentang
batasan sesat yang disebarluaskan
Syekh Siti Jenar. Bagaimana menurut pendapat, Kanjeng Sunan?” tatapan mata
Pangeran Bayat menyapu wajah
para wali, berhenti pada Sunan Giri, selaku ketua Dewan Wali.
“Pengertian sesat?” Sunan Giri memutar tatapannya, “Saya menyimpulkan, jika
Syekh Siti Jenar sudah
menganggap shalat lima waktu tidak wajib, puasa bulan ramadan tidak wajib.
Hidup untuk mati, mati untuk hidup.
Jelas sesat! Sudah keluar dari esensi Islam yang sesungguhnya.”
“Tidakah kita menelisiknya terlebih dahulu, Kanjeng Sunan Giri?” Sunan Kalijaga
beradu tatap.
“Apa lagi yang mesti kita selidiki, Kanjeng Sunan Kalijaga?” ujar Sunan Giri,
“Penyebaran ajaran sesat harus segera
dihentikan. Jika tidak maka umat akan resah, kesetabilan negeri Demak Bintoro
akan terancam.”
“Tidakkah kita ingin memastikan sekali lagi tentang sesatnya ajaran Syekh Siti
Jenar dengan mengutus seorang
wali?” tatap Sunan Kalijaga.
“Bukankha Ki Sakawarki saja sudah cukup sebagai seorang Kiai membuktikan
kesesatan tadi?”
“Apakah Ki Sakawarki sudah secara langsung mendengar dan melihat jika ajaran
Syekh Siti Jenat itu sesat?”
“Maafkan Kanjeng Sunan Kalijaga, saya belum bertemu dengan Syekh Siti Jenar.
Namun saya hanya melihat dan
mendengar dari para muridnya, ketika beberapa malam lalu melakukan
pemberontakan.”
“Bisakah itu dijadikan sebagai bukti?” Sunan Kalijaga memutar tatapannya ke
arah Pangeran Bayat dan Sunan Giri.
“Dari Segi politik, yakin tujuan utamanya ingin makar. Bukan semata menyebarkan
ajaran sesat, Kanjeng.”
Pangeran Bayat mengerutkan dahinya, “Yang memperkuat tuduhan saya dengan adanya
nama Kebo Kenongo.
Jelas‐jelas dia masih keturunan Majapahit dan memiliki pengaruh
sama dengan Gusti Raden Patah. Hanya dia
tidak seberuntung junjungan kita.”
“Pangeran, bagaimana jika kita pisahkan dulu masalah politik dan agama?”
“Maaf, Kanjeng. Saya rasa persoalan politik dan agama dalam hal ini sudah
menyatu.” tukas Pangeran Bayat.
“Saya menduga jika kepentingan politik yang ditebarkan Kebo Kenongo dibungkus
rapih dengan agama. Dengan
tujuan orang terfokus pada persoalan agama, padahal politis.”
“Makanya saya tadi berpendapat, untuk menjernihkan persoalan ini dan menangkap
makna yang sesungguhnya,
kita pisahkan dulu…”
“Kanjeng Sunan Kalijaga, sebaiknya perdebatan ini dihentikan. Saya takut di
antara para wali terjadi perbedaan
paham yang runcing, begitu pula dengan kalangan pemerintah.” potong Sunan Giri.
“Selanjutnya kita renungkan
sejenak sebelum mengambil keputusan. Bagaimana jika kita memperbincangkannya
dengan Raden Patah, semoga
dari hasil persidangan nanti ada keputusan. Jika Syekh Siti Jenar perlu
ditangkap, kita tangkap!”
“Saya setuju!” ujar Pangeran Bayat. “Apa pun yang terjadi jika itu keputusan
raja, sudah semestinya kita taati.”
“Baiklah.” Sunan Kalijaga menganggukan kepala, tatapan matanya tertuju pada
Sunan Bonang, mata hatinya
mulai bersentuhan dan bercakap‐cakap. ‘Kanjeng Sunan Bonang, saya
secara syariat tidak bisa melawan kehendak
Allah.’
‘Ya, karena itu sudah menjadi sebuah taqdir dan ketentuan yang mesti dijalani.
Kita lihat dan ikuti saja…meski
secara lahiryah tetap harus berikhtiar. Saya kira Syekh Siti Jenar juga paham
perjalanan hidupnya…’ batin Sunan
Bonang, tatapan matanya menerbar sinar kemerah‐merahan
beradu dengan sorot mata pancaran jingga Sunan
Kalijaga.
“Ada apa?” Sunan Drajat tersentak dari duduknya, “Mengapa ada pancaran sinar
dari…”
“Disini tidak ada yang aneh, Kanjeng Sunan Drajat.” tegur Sunan Giri, “Kenapa
Kanjeng tersentak?” tatapan
matanya mengikuti sudut pandang Sunan Drajat, tetapi tidak menemukan hal yang
perlu dikejutkan.
“Tidakkah Kanjeng me…”
“Benar, Kanjeng Sunan Drajat.” tatap Sunan Bonang. Seakan‐akan menembus batin hingga tidak berdaya.
“Kanjeng Sunan Bonang?” Sunan Drajat mengangukan kepala, meski tidak mengerti.
Hatinya seakan‐akan
disusupi nasihat yang sebelumnya tidak pernah diketahui. “Saya harus
menafsirkannya…”
“Apa yang telah terjadi? Kenapa saling memberi isyarah?” Pangeran Bayat
kebingungan. “Kanjeng Sunan Giri?”
“Saya juga tidak terlalu paham, Pangeran.” bisiknya, lalu menatap Sunan Bonang.
“Kanjeng Sunan Bonang?”
“Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, Kanjeng Sunan Giri.” ujar Sunan
Bonang, “Putusan terbaik dalam
menyikapi Syekh Siti Jenar dan pengikutnya, kita mesti menunggu keputusan Raden
Patah, sesuai dengan
pendapat Kanjeng. Kami berisyarah setuju pada perkataan Kanjeng Sunan Giri
tadi.”
“Baiklah jika demikian. Kita bersidang dengan pihak pemerintahan demi mengambil
keputusan.” Sunan Giri
mengaggukan kepala, lalu perlahan bangkit dari duduknya.
“Kanjeng, jika demikian saya mohon pamit.” ujar Demang Bintoro. “Karena tugas
saya sudah selesai, sedangkan
persidangan merupakan wewenang para wali dan pemerintah.”
“Baiklah, Ki Demang.” Sunan Giri menerima kedua telapak tangan Demang Bintoro
yang mengajak bersalaman.
“Semoga kalian selamat diperjalanan. Persoalan tadi akan kami tindaklanjuti,
agar tidak terlanjur dan terluntalunta
hingga mengakibatkan kesesatan bagi umat.”
***
Matahari mulai merayap, perlahan meredup seakan‐akan
terlihat lelah dan ngantuk. Seharian memelototi bumi
beserta isinya, menatap setiap tingkah dan laku manusia yang beragam. Matahari
sudah waktunya kembali dan
beristirahat di peraduannya, seiring dengan datangnya gelap malam.
Namun penghuni jagat raya seakan tidak peduli meski matahari tidak lagi
memelototi dan menerangi, biar kerlip
gemintang sebagai pengganti, saksi mereka bertingkahlaku. Malam hanya
perpindahan dari terang pada gelap,
dari benderang pada kremangan. Hingga tidak pernah menghalangi dan menyurutkan
niat dan langkah manusia
dengan segenap tekad dan keinginannya untuk berbuat.
Pinggir hutan di halaman pendopo milik Kebo Benowo dan pengikutnya,
berkelebatan bayangan tubuh yang
sedang berlatih silat. Joyo Dento dan Kebo Benongo bergantian mengajarkan
setiap jurus dan strategi perang.
Tidak lama berselang terdengar suara kuda yang bergerak ke arah mereka. Dua
ekor kuda yang ditunggangi Kebo
Benowo dan Loro Gembol telah berada di tengah‐tengah
pengikutnya.
“Ki Gempol,” ujar Joyo Dento mendekat, “Terlihat segar malam ini….”
“Benar, Dento.” Loro Gempol turun dari punggung kuda, “Syekh Siti Jenar benar‐benar hebat. Hanya dengan
tatapan mata beliau menyembuhkan luka dalam akibat tendangan Ki Sakawarki.”
“Hebat!” Joyo Dento menggelengkan kepala. “Artinya Ki Gempol sudah siap
memimpin kembali pemberontakan?”
“Tentu saja, Dento.” Loro Gempol menepuk‐nepuk
dadanya, “Bahkan ilmuku sudah mulai bertambah meski dalam
waktu sangat singkat. Saya sudah memiliki tendangan yang lebih hebat dari Ki
Sakawarki.” lalu memutar lehernya
mengikuti sudut pandangnya yang tertuju pada sebongkah batu.
“Seperti apa tendangan itu, Ki?” tanya Kebo Benongo.
“Lihatlah! Saya akan menghancurkan batu sebesar perut kerbau itu hanya dengan
satu kali tendangan.” Loro
Gempol lalu mengambil ancang‐ancang, seraya loncat dan
mengarahkan tendangannya pada batu.
Dragkkkk….tendangan kaki Loro Gempol menghantam sasaran, tidak pelak lagi
hancur lebur berkeping‐keping.
Prilakunya disambut dengan tepukan pasukan gelap sewu, serta Joyo Dento dan
Kebo Benongo.
“Bisa seperti itu Syekh Siti Jenar mengajarkan ilmu kanuragan, Ki Gempol?” Joyo
Dento mengerutkan keningnya.
“Bukankah dia orang sakti, Dento?” Loro Gempol tersenyum.
“Sayang, Ki Gempol?”
“Kenapa, Dento?”
“Seandainya beliau bersedia mendukung perjuangan kita dengan kesaktiannya,
sudah barang tentu sangat
mudahlah menghancurkan Kademangan Bintoro.” ujar Joyo Dento, seraya duduk di
atas bangku yang terbuat dari
kayu. “Sungguh sayang, begitu juga Ki Ageng Pengging, sangatlah sulit untuk
diajak serta.”
“Jangankan Kademangan, Demak pun jika beliau mau tentu bisa dihancur leburkan!”
timpal Loro Gempol.
“Sangat aneh?” Joyo Dento menggelengkan kepala, “Semakin tinggi ilmunya,
semakin digjaya kesaktiannya, malah
semakin tidak tertarik pada kekuasaan?” lalu menghela napas dalam‐dalam.
“Itulah keanehan mereka, Dento.” Kebo Benowo ikut nimbrung, “Bukankah menurut
andika tidak perlu lagi
memikirkan mereka yang sudah tidak memiliki keinginan untuk berkuasa.”
“Ya, lupakan saja semuanya!” Joyo Dento bangkit dari duduknya, “Sebaiknya kita
tidak terpengaruh….”
“Bagus,” ujar Loro Gempol, “Sekarang kesaktian saya telah bertambah. Mengapa
tidak digunakan untuk kembali
mengadakan penyerangan terhadap Kademangan Bintoro?”
“Haruskah malam ini?” tanya Kebo Benongo. “Tidakah merasa lelah sepulang dari
padepokan?”
“Tidak!”
“Gempol, bukannya saya tidak percaya pada tendangan maut yang baru saja andika
miliki.” Kebo Benowo
mendekat, “Cukupkah jumlah prajurit kita untuk menggempur Kademangan Bintoro?”
“Benar!” Joyo Dento meletakan kedua tangannya di belakang, “Meski pun Ki Gempol
bisa mengalahkan Ki
Sakawarki, tidak ada salahnya kmemperhitungkan jumlah kekuatan yang kita
miliki. Sebenarnya ada taktik perang
gelap…”
“Maksud andika?” Loro Gempol menatap tajam.
“Harus menghindari perang terbuka. Mengingat jumlah pasukan kita lebih sedikit
di banding musuh.” dahinya
dikerutkan, “Serangan kita harus bersifat memecah konsentrasi musuh, lantas
menyerang, lalu menghilang.”
terang Joyo Dento.
“Berhasilkah dengan cara demikian?” tanya Kebo Benowo, “Tidak lebih baikah jika
kita menambah jumlah
pasukan?”
“Bisa saja, menambah pasukan. Artinya untuk sementara kita menghentikan
penyerangan….”
“Jadi saya tidak bisa mencoba ilmu baru dalam waktu dekat?” Loro Gempol garuk‐garuk kepala.
***
Dewan wali yang di pimpin Sunan Giri mulai memasuki istana kerajaan Demak
Bintoro. Mereka menginjakan
kakinya di atas karpet berwarna hijau, kiriman dari Bagdad. Di setiap sudut
istana berdiri para prajurit dengan
tombak dan tameng di tangannya.
Raden Patah sudah berada di atas singgasananya, perlahan bangkit menyambut
kedatangan para wali. Pangeran
Bayat, serta para abdi kerajaan lainnya berdiri, menyalami.
Hari itu tampaknya ada pertemuan penting antara Raden Patah dan Walisongo.
“Selamat datang di keraton, Kanjeng Sunan.” Raden Patah menyalami dan memeluk
Sunan Giri, lalu yang lainnya.
“Silahkan…”
“Terimakasih atas sambutannya, Raden.” Sunan Giri lalu duduk di atas kursi yang
telah disediakan. Diikuti para
wali lain menempati kursi yang telah disediakan.
“Rasanya sangat bahagia hati ini, batin pun terasa tentram jika sudah bertemu
dengan para wali yang terhormat.”
Raden Patah perlahan duduk kembali di atas singgasana kerajaannya, para abdi
pun mengikuti. “Sudah sekian
lama Kanjeng Sunan tidak menyempatkan diri memasuki istana yang megah ini.”
“Tidaklah harus terlena dengan kemegahan istana, Raden.” ujar Sunan Giri
tersenyum tipis, “Singgasana berlapis
emas, serta empuk, terkadang menyebabkan kita untuk bermalas‐malas. Saking nikmatnya kita dalam sehat dan
istirahat, terkadang lupa pada tugas yang sesungguhnya. Bukankah kita
mendapatkan kepercayaan dari rakyat
demi kesejahteraannya, demi ketentramannya, demi ketenangannya, demi
melayaninya?”
“Alhamdulillah, Kanjeng.” Raden Patah sekilas menyapu wajah Sunan Giri dengan
tatapan matanya, “Saya sudah
berupaya menjalankannya sesuai dengan amanah dan ajaran Islam. Namun saya
sebagai manusia terkadang
terlena dibuatnya…..”
“Jika Raden terlena dengan kekuasaan dan kemegahan, hendaklah istigfar.” Sunan
Giri mengacungkan
telunjuknya, “Karena singgasana ini tidak abadi, kekuasaan akan berakhir dengan
ketidakuasaan, kenikmatan dan
kemewahan hanya bisa dikecap dalam sekejap. Semua itu diingatkan ketika diri
kita tidak sempat untuk istirahat
dan menikmati, bahkan saat sakit mengusik kita. Disitu tidak ada nikmat yang
bisa dirasakan meski sekejap. Itu
semua mengingatkan pada diri kita, semua yang kita miliki akan ditinggalkan,
semua yang kita kuasai pada suatu
saat akan menjauh. Bukankah kehidupan di dunia ini telah ditentukan batasnya?
Seindah apa pun dunia tetaplah
fana, semegah apa pun dunia akan berkesudahan. Tidak ada bedanya saat kita
merasakan lapar bergegas mencari
makanan, setelah rasa lapar tergantikan dengan kekenyaang nikmat pun tidak ada
lagi.”
“Jika perut sudah terlalu kenyang tidak mungkin meneruskan makan, meski masih
terhidang beraneka kelezatan
di atas meja.” Raden Patah mengangguk‐anggukan
kepala, “Hanya sekejap….dan ada akhirnya…bukankah
datangnya rasa nikmat ketika kita merasakan lapar?”
“Andai lapar itu berada pada tahapan Raden. Tentu akan terobati, tinggal
memanggil pelayan kerajaan. Tetapi jika
rasa lapar menimpa rakyat miskin, bisakah terobati dalam sekejap?” tatap Sunan
Giri.
“Ya, saya paham, Kanjeng.” Raden Patah menundukan kepalanya, “Dimas Bayat,
masihkah di negeri ini ada rakyat
yang kelaparan?” lalu tatapan matanya tertuju pada Pangeran Bayat.
“Menurut hamba negeri ini sangatlah makmur, Gusti.” Pangeran Bayat mengacungkan
sembahnya, “Sangat tidak
mungkin di negeri semakmur Demak Bintoro ada rakyat yang kelaparan?”
“Benarkah, Dimas?”
“Hamba yakin, Gusti.”
“Baguslah jika tidak ada yang kelaparan,” Raden Patah menundukan kepala
dihadapan Sunan Giri.
“Seandainya masih ada rakyat yang miskin dan kelaparan? Sementara kita serba
berkecukupan? Tidakah di akhirat
nanti akan menuai kecaman dari Allah SWT.? Mungkin rakyat negeri Demak Bintoro,
meski pun lapar tidak akan
banyak berbuat selain mengganjal perutnya dengan kesedihan, bisa juga
menangis?” desak Sunan Giri.
“Maafkan saya, Kanjeng.” Raden Patah perlahan mengangkat kepalanya, “Jika itu
terjadi dan menimpa rakyat
negeri Demak Bintoro, mungkin saya sebagai pemimpin akan menerima hukumannya di
akhirat. Mudah‐mudahan
yang dilaporkan Dimas Bayat benar. Hal itu tidak terjadi di negeri ini….”
“Yakinkah, Raden?”
“Saya percaya pada Dimas Bayat, Kanjeng Sunan.”
“Hamba melaporkan dengan sesungguhnya. Berdasarkan pendengaran dan penglihatan
hamba.” ujar Pangeran
Bayat.
“Baguslah jika yakin sebatas laporan, Raden.” Sunan Giri perlahan bangkit dari
duduknya, lalu mengitari
singgasana Raden Patah. “Tahukah Raden tujuan utama kedatangan kami, dewan wali
ke istana ini?”
“Tentu saja, Kanjeng.” Raden Patah perlahan memicingkan sudut matanya, menatap
langkah kaki Sunan Giri.
“Bukankah di negeri ini telah muncul persoalan yang terkait dengan Syekh Siti
Jenar dan pengikutnya, Kanjeng?”
“Benar,” Sunan Giri menghentikan langkahnya, lalu kembali duduk di atas
kursinya. “Ada kabar jika Syekh Siti
Jenar menyebarkan ajaran sesat. Pengikutnya terutama rakyat miskin dan
kelaparan banyak yang mengakhiri
hidupnya.”
“Mereka bunuh diri, Kanjeng?” ujar Raden Patah, “Mereka mengaggap bahwa mati
lebih nikmat dari pada hidup
dalam kemiskinan. Syekh Siti Jenar pada pengikutnya menghembuskan ajaran hidup
untuk mati, mati untuk
hidup.”
“Pisahkan dulu persoalan mati untuk hidup, hidup untuk mati, tentang ajaran
Syekh Siti Jenar!”
“Kenapa, Kanjeng?”
“Lihat dan perhatikan, jika yang bunuh diri itu si miskin dan menderita…”
“Mengapa harus dipisahkan persoalan ini? Rakyat Demak Bintoro yang miskin tentu
saja mudah dihasut akhirnya
nekat bunuh diri. Apalagi mendengar ajaran yang menyesatkan ini.”
“Persoalannya karena miskin, Raden. Bukankah tadi dikatakan, jika di negeri
makmur ini sudah tidak ada lagi yang
miskin dan kelaparan?”
“Astagfirullah!” Raden Patah lalu mengusapkan kedua telapak tangannya pada
wajah, “Ya, Allah maafkan
hambamu ini. Hamba telah berbuat hilap….” dari sela‐sela jemarinya menetes buliran air mata, semakin lama
semakin banyak.
Suasana istana yang hening terusik dengan isak tangisnya Raden Patah, seakan‐akan mengubah dan memecah
suasana. Pangeran Bayat semakin menundukan kepalanya, dagunya seakan‐akan menyentuh lutut, hatinya mulai
ketar‐ketir, jika seandainya Raden Patah marah.
Sunan Giri hanya berbagi tatap dengan para wali, termasuk Sunan Kalijaga, Sunan
Bonang, Sunan Muria, Sunan
Kudus, Sunan Drajat, dan Sunan Gunung Jati. Mereka memahami setiap maksud
perkataan Sunan Giri, namun
tidak ada yang mengusik isak tangis Raden Patah meski hanya sepatah kata
penghibur.
“Mereka mudah dihasut karena miskin…” isak Raden Patah, “…bukankah menurut
laporan yang saya dengar tidak
ada lagi rakyat miskin dan menderita…seandainya itu masih ada artinya…telah
berdosa dan menyia‐nyiakan
amanah…”
***
Matahari mulai menyelinap di balik bukit Desa Kendharsawa, awan tipis berlapis‐lapis laksana serpihan sutra
merah. Angin senja bertiup sepoi‐sepoi
mengusik setiap daun dan ranting kering, selanjutnya jatuh di atas tanah,
tanpa daya.
Sorot mata Ki Chantulo tidak beranjak dari jatuhnya daun dan ranting kering di
hadapannya. Lalu duduk dan
memungutnya.
“Ranting dan daun kering, rupanya usiamu telah berakhir senja ini.” perlahan
bangkit, seraya mengangkat
kepalanya, tatapan mata menyapu awan jingga berlapis dan berarak laksana kereta
kencana. “Betapa indah,
taqdir kepergianmu diiringi warna keemasan….”
“Ya, sangat indah kematian daun dan ranting kering ini…” bisik Ki Donoboyo yang
berdiri disampingnya. Tatapan
matanya tidak beranjak dari tingkah laku teman seperguruannya. “Mungkin itulah
yang dikatakan menyatunya
kembali dengan dzat yang maha kuasa?”
“Mungkin?” tatap Ki Chantulo. Lalu melangkah pelan menuju padepokan Syekh Siti
Jenar, Ki Donoboyo
mengiringi.
Di halaman padepokan Syekh Siti Jenar sedang bercakap‐cakap dengan Kebo Kenongo. Kebo Kenongo seakanakan
larut pada setiap perkataan dan nasehat gurunya, terkadang berkali‐kali mengangguk‐anggukan
kepalanya.
“Syekh, manunggaling sifat Allah ternyata bisa dibuktikan. Hingga saya mengerti
dan memahami…” ujar Kebo
Kenongo, “…bahkan ma’rifat pun kini mulai bisa saya capai. Ternyata dalam
pencapaian ini tidak harus melalui
tahapan yang dulu pernah Syekh ungkapkan.”
“Bukankah saya pernah mengatakan, menuju ma’rifat tidak perlu melalui tahapan
syariat, hakikat, thariqat, lantas
ma’rifat. Jika demikian berarti hanya orang yang beragama Islam saja yang bisa.
Mungkin dalam agama hindu atau
budha yang sebelumnya Ki Ageng Pengging ketahui tidak akan menemukan tahapan
itu. Bisa saja namanya
berbeda, tetapi tujuannya sama.” Syekh Siti Jenar menyapu wajah Kebo Kenongo
dengan tatapan matanya. “Saya
kira semua agama memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mencapai dan menggapai
dzat Yang Maha Kuasa. Yang
membedakan semuanya hanyalah tata caranya, jalan, dan nama‐nama proses pencapainya.”
“Ya,” Kebo Kenongo tersenyum, “Pencapaian itulah yang memerlukan proses yang
cukup lama dan panjang.
Hingga terkadang orang merasa putus asa…”
“Putus asa, penyebab petaka. Itu tidak perlu terjadi,” terang Syekh Siti Jenar,
“Untuk menghindari keputusasaan
dalam hal pencapaian diperlukannya guru yang selalu membimbing dan
mengarahkan.”
“Benar, supaya tidak kesasar dan gila?”
“Ya, mungkin kata lain sesat. Orang akan menyatakan sesat atau kesasar pada
orang lain, karena menurut ilmu
dan pengetahuan yang dia milki bahwa jalan menuju Desa Kendharsawa hanya satu.
Jalan yang biasa Ki Ageng
Pengging lalui beserta orang kebanyakan. Padahal setahu saya ada banyak jalan
menuju Desa Kendharsawa, bisa
memutar dulu ke Utara, bisa berbelok dulu ke Selatan, bisa juga mengambil jalan
pintas.” urai Syekh Siti Jenar,
“Salahkah jika orang yang berpendapat harus berlok ke Utara atau ke Selatan,
bahkan mengambil jalan pintas?
Jelasnya tidak pernah mengambil jalan yang biasa dan diketahui umum. Salahkah?”
“Saya kira tidak,”
“Mengapa?”
“Karena sudah tentu semuanya akan sampai ke Desa Kendharsawa. Hanya waktu
sampainya yang berbeda, ada
yang cepat, lambat, dan alon‐alon.”
“Itulah maksud saya, Ki Ageng Pengging.” ujar Syekh Siti Jenar. “Nah, yang
diributkan orang kebanyakan soal
perbedaan jalan itulah. Sehingga memicu pertengkaran, demi mempertahankan ilmu
dan pengetahuan yang
dimilikinya agar diikuti orang lain. Padahal setiap orang memiliki pemahaman
dan pendalaman, juga maksud yang
berbeda, meski sebenarnya punya tujuan sama.”
“Maksudnya?”
“Bukan tidak tahu jalan umum menuju Desa Kendharsawa, tetapi berbelok ke
Selatan karena punya maksud
menemui dulu kerabat. Jalan yang di tempuh lewat Utara, karena ingin membeli
dulu hadiah untuk teman di
Kendharsawa. Sampaikah mereka semua pada tujuan? Desa Kendharsawa?”
“Sampai?”
“Mengapa harus bertengkar dan saling menyalahkan?”
“Karena jalannya tidak diketahui umum,”
“Haruskah umum selalu tahu? Haruskah umum memberikan kesimpulan bahwa jalan
Utara dan Selatan sesat?”
“Tidak,”
“Mengapa?”
“Karena pasti sampai.”
“Kenapa pula dipertengkarkan?”
“Bertengkar karena tidak saling memahami akan persoalan yang sesungguhnya.”
“Nah, itulah Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar melangkah pelan, “Makanya
Islam mengajarkan jika di antara
kita terjadi perbedaan paham sebaiknya dikembalikan pada alquran dan assunnah.
Semua perbedaan pendapat
dan pemahaman bisa diselesaikan dengan cara musyawarah. Tidak semestinya
melakukan tindakan yang tidak
diridhoi Allah, apalagi menciptakan laknat. Bukankah Islam mengajarkan bahwa
kita harus selalu menebar
rakhmat, hamamayu hayuning bawanna? Seandainya orang tadi belum mengenal Desa
Kendharsawa, maka bisa
dikatakan tersesat. Salah jalan. Jika salah jalan karena ketidaktahuan itulah
yang sesat.” urainya.
“Ya, karena tidak akan mungkin sampai pada tujuan.” Kebo Kenongo mengangguk‐anggukan kepala, “Jadi makna
“sesat” disini bisa diartikan berbeda?”
“Tentu,” Syekh Siti Jenar mengiyakan, “Bisa saja kita yang salah karena
keterbatasan ilmu dan pengetahuan. Bisa
juga orang yang kita anggap sesat benar‐benar
sesat. Atau bahkan sebaliknya.”
“Syekh,” Ki Chantulo mendekat, dibelakangnya berdiri Ki Donoboyo. “Kita telah
jauh memperdalam ilmu
hamamayu hayuning bawanna, ma’rifat mungkin hampir saya capai. Namun saya
khawatir ada akibat….lihatlah
daun dan ranting kering ini, sangat mudah terlepas dari batang pohon meski
hanya tertiup angin sepoi‐sepoi.”
“Jika kita sebagai manusia tentu saja harus punya rasa khawatir.” Syekh Siti
Jenar membalikan tubuhnya, tatapan
matanya menyapu wajah Ki Chantulo. “Kekhawatiran muncul karena keterbatasan
ilmu dan ketidaktahuan
perjalanan hidup. Ketidaktahuan akan ketidakjelasan kabar.”
“Maksudnya?”
“Saat orang bilang, awas jangan lewat jalan Kendharsawa karena ada rampok
kejam, apa yang akan andika
lakukan?”
“Saya akan menertawakan orang tadi, karena setahu saya jalan menuju Desa
Kendharsawa aman.”
“Karena andika tahu betul.” ujar Syekh Siti Jenar, “Tapi sebaliknya bagi orang
yang belum mengenal Kendharsawa
tentu akan merasa khawatir. Mengenai kabar yang tidak jelas tadi, bahkan akan
menimbulkan rasa was‐was.”
“Ya,” Ki Chantulo mengangguk, “Mungkin karena keterbatasan ilmu saya yang
menyebabkan khawatir dan takut.”
“Sebenarnya apa yang menjadi kekhawatiran andika, Ki Chantulo?” tanya Kebo
Kenongo.
“Saya mendengar kabar ditangkapinya orang‐orang
yang menganut ajaran Syekh Siti Jenar. Jika tidak salah dewan
wali menganggap ajaran kita sesat.” Ki Chantulo menundukan kepala.
“Syekh?” Kebo Kenongo menatap Syekh Siti Jenar, belum juga kering mulutnya
ketika berbincang tentang sesat.
“Tidak perlu khawatir, Ki Angeng Pengging.” lalu Syekh Siti Jenar memutar
tatapan matanya, “Lihatlah, daun
kering dan ranting yang Ki Chantulo genggam. Jasad manusia tak ubahnya ranting
dan daun kering, jika sampai
pada waktunya akan jatuh di atas tanah. Penyebabnya bisa karena tertiup angin
sepoi‐sepoi, mungkin saja ditebas
pemilik kebun, bisa juga dimakan ulat atau binatang ternak lainnya. Itulah
sebuah taqdir. Kekhawatiran akan
muncul, karena tadi itu.” sejenak menghentikan perbincangannya.
Senja hening di padepokan Syekh Siti Jenar, para muridnya seakan‐akan tenggelam dan hanyut dalam keadaan.
Angin semilir mengusik dedaunan dan jubah yang dikenakan Syekh Siti Jenar,
berkelebat.
“Saya ingat sabda alam yang pernah Syekh sampaikan.” Ki Donoboyo mengerutkan
dahinya, “Mungkinkah pesan
yang disampaikannya berlaku pada kita…..”
“Jika ya? Meskikah kita mengambil tindakan?” tatap Ki Chantulo.
“Tentu saja, Ki Chantulo.” Ki Donoboyo mendekat, “Bukankah kita harus berusaha
membela diri. Mungkin caranya
berbeda dengan orang kebanyakan. Bukankah kita tidak mungkin menyerahkan diri
pada hukuman sebelum
melakukan pembelaan?”
“Begitukah, Syekh?” Ki Chantulo menyapu wajah Syekh Siti Jenar dengan tatapan
matanya.
“Saya tidak mengharuskan melawan taqdir.” ujar Syekh Siti Jenar, “Berlakulah
andika sebagai manusia dengan
keterbatasan ilmu dan ketidaktahuan.”
“Maksudnya?” Ki Chantulo, Ki Donoboyo, dan Kebo Kenongo mengerutkan dahinya.
“Sejauhmana andika paham pada kejadian yang akan datang? Sebatas mana rasa
khawatir yang muncul dalam
jiwa? Berlakulah dalam keterbatasan dan yang membatasi semuanya.” sejenak
berhenti, “Bukankah tidak semua
manusia memahami perjalanan hidupnya? Apa yang akan terjadi hari ini? Lantas
hal apa besok hari yang akan
menimpa kita? Akan bersedihkah? Bahagiakah? Manusia tidak bisa mempercepat, memperlambat,
bahkan
mundur dari kehendakNya. Hanya orang tertentu saja yang memahami akan
perjalanan hidup, mengenai hal yang
sebelumnya atau akan didapati.” urai Syekh Siti Jenar.
“Saya belum terlalu paham maksudnya?” Ki Donoboyo memijit‐mijit keningnya.
***
“Saya menyadari akan keteledoran dan ketidaktahuan, Kanjeng.” Raden Patah
menyeka air mata, “Sehingga
timbul penyesalan yang teramat dalam….”
“Tidak cukup dengan sebuah kata dan kalimat penyesalan, Raden.” ujar Sunan
Giri, “Seandainya itu berdosa
kepada Allah, maka bisa ditebus dengan taubatan nashuha. Setelah itu
memperbaiki diri dan tidak berbuat
kembali. Tetapi bersalah pada rakyat, meminta maaf pun harus pada mereka…”
“Bukankah rakyat negri Demak Bintoro ini sangat banyak, Kanjeng?”
“Meminta maaf pada rakyat tidak cukup dengan perkataan dan ucapan, berkeliling
menemui penduduk negeri.”
Sunan Giri berhenti sejenak, “…rubahlah keadaan negara hingga tidak ada lagi
rakyat kelaparan. Meski miskin itu
ada, karena sunnatullah. Berupayalah Raden sebagai seorang pemimpin mengubah
keadaan negara. Seorang
pemimpin tidak saja bertanggungjawab di dunia, tetapi di akhirat juga. Di dunia
bisa jumawa, di dunia bisa
sewenang‐wenang, di dunia bisa teledor, khilaf. Sudah menjadi
kewajiban kami para wali mengingatkan umara
agar tidak terjerumus di dunia dan akhirat.”
“Saya sangat menyadari semuanya, Kanjeng.” Raden Patah semakin menunduk,
“Haruskah saya mundur untuk
menebus semua kesalahan ini?”
“Mana mungkin bisa merubah keadaan jika mundur? Balikan telapak tangan,
berbuatlah yang terbaik untuk
rakyat.” terang Sunan Giri, “Berbuat untuk rakyat, berati berbuat untuk diri
sendiri, negara, agama, dan keluarga.”
“Baiklah, Kanjeng. Saya akan berupaya sekuat tenaga seperti yang Kanjeng Sunan
Giri sarankan. Meski saya harus
jatuh miskin, itu hanyalah ukuran dunia dan bentuk tanggungjawab pada rakyat.”
Raden Patah menatap Pangeran
Bayat, “Dimas bantulah mereka yang kelaparan. Berbuatlah untuk mensejahterakan
rakyat, tebuslah kesalahan
kita. Kakang tidak ingin mendengar kabar ada rakyat yang masih kelaparan, bunuh
diri karena miskin. Berbuatlah!
Kakang pun akan berbuat dengan tangan ini yang telah berlumur dosa karena bodoh
dan khilaf.”
***
“Raden,” Sunan Giri perlahan duduk di atas kursi. “Ada persoalan yang lebih
penting ketimbang rasa lapar dan
kemiskinan.”
“Persoalan apa, Kanjeng?” tatap Raden Patah, “Bukankah miskin dan lapar yang
bisa memicu orang berbuat
nekad? Merampas hak orang lain? Merampok? Mungkin juga bunuh diri?”
“Benar Raden, seakan‐akan persoalan perutlah yang terpenting dalam kehidupan
ini.” Sunan Giri tersenyum,
“Jarang sekali orang melakukan penyelidikan lebih mendalam.”
“Maksud, Kanjeng?”
“Mengapa orang miskin bunuh diri, mengapa yang kelaparan nekad?” Sunan Giri
berhenti sejenak, tatapan
matanya menyapu wajah Raden Patah, terkadang Pangeran Bayat.
“Karena hanya jalan itulah yang dianggap penyelesaian, Kanjeng.” ujar Pangeran
Bayat, “Bayangkan seandainya
mereka kenyang dan serba berkecukupan. Tidak akan mungkin berbuat demikian.”
“Orang miskin merampok hanya butuh makan untuk satu hari, Pangeran. Sedangkan
yang kaya disebabkan sifat
serakah.” tukas Sunan Drajat, “Bukankah hartanya sudah melimpah ruah, tetapi
masih saja ingin menumpuk
kekayaan. Menghalalkan segala cara.”
“Ya, saya mengerti, Kanjeng.” Raden Patah tersenyum, “Terlepas dari urusan
miskin dan kaya, yang jelas
penyelesaian dari sebuah perbuatan buruk tadi. Mereka hanya menyantap makanan
jasmani, sedangkan
rohaninya kosong.”
“Terkait dengan hal itulah kami para wali ingin berbincang.” ujar Sunan Giri,
“Bukankah para sahabat nabi juga
menafkahkan seluruh hartanya demi agama. Lihatlah khalifah Umar bin Khatab,
jubah dan pakaiannya penuh
dengan tambalan. Meski secara lahiryah terlihat miskin namun hatinya sangat
kaya, jiwanya tersisi penuh. Tidak
pernah berkhianat, selalu bertaqwa pada Allah.”
“Benar, Kanjeng.”
“Kemiskinan dan kelaparan yang melanda negeri Demak Bintoro dimanfaatkan
pengikut ajaran Syekh Siti Jenar,
untuk menyimpang dari agama. Sehingga memicu persoalan baru.” Sunan Giri
menghela napas, “Banyak rakyat
miskin dan kelaparan bunuh diri, keadaan dibuat kalangkabut dan kacau balau.
Selain aqidah mereka masih
lemah, pengaruh ajaran sesat dan menyesatkan semakin kuat. Sehingga mereka
dengan ajarannya telah mencoba
menodai perjuangan para wali.”
“Gusti, menurut hemat hamba. Tersebarnya ajaran sesat Syekh Siti Jenar terkait
pula dengan persoalan politik.”
timpal Pangeran Bayat, “Bukankah Ki Ageng Pengging selain murid, juga sangat
dekat dengan Syekh Siti Jenar,
disamping masih keturunan Majapahit. Mungkin dia punya anggapan memiliki hak
yang sama untuk meraih
tahta.”
“Tidakkah sebaiknya persoalan politik dipisahkan dulu…”
“Maaf Kanjeng Sunan Kalijaga, rasanya ini telah sulit untuk dipilah. Ditebarnya
kekacauan dengan isu agama,
sangat sarat dengan muatan politik.”
“Dimas Bayat, untuk menjernihkan persoalan ini saya sependapat dengan Kanjeng
Sunan Kalijaga.” tatap Raden
Patah, “Tetapi seandainya belum atau tidak pernah terjadi pemberontakan di
Kademangan Bintoro?”
“Bukankah dugaan saya telah terjadi, Gusti?”
“Dalam hal ini tetap harus ada keputusan, Raden, terkait dengan ajaran sesat
Syekh Siti Jenar.” ujar Sunan Giri,
“Pemerintah harus segera mengambil tindakan. Sebelum pengaruh ajaran sesat ini
semakin meluas….”
“Keputusan?” Raden Patah menundukan kepala, pikirannya berputar, sejenak
mulutnya terkatup.
“Haruskah saya seret Syekh Siti Jenar dan pengikutnya ke hadapan, Gusti?” ujar
Pangeran Bayat.
“Mudah saja menyeret orang, Pangeran.” timpal Sunan Kalijaga, “Apakah tidak alangkah
lebih baiknya mengutus
orang dulu ke padepokan Syekh Siti Jenar di Desa Kendharsawa?”
“Untuk apa, Kanjeng?” tanya Sunan Giri.
“Membenarkan apa yang kita tuduhkan pada mereka.” jawab Sunan Kalijaga.
“Bukankah sudah terbukti? Jika Syekh Siti Jenar mengajarkan dan menyebarluaskan
ajaran sesat dan
menyesatkan?”
“Maaf, Kanjeng Sunan Giri. Saya setuju dengan pendapat Kanjeng Sunan Kalijaga.”
Raden Patah perlahan bangkit,
“Dimas Bayat dan Pangeran Modang, saya utus untuk menemui Syekh Siti Jenar. Itu
dari pihak pemerintah,
Kanjeng. Alangkah lebih baiknya Kanjeng Sunan Giri pun mengutus beberapa orang
wali. Saya yakin dengan
hadirnya para wali dalam rombongan akan sanggup menilai sesat atau tidaknya
ajaran Syekh Siti Jenar.”
“Baiklah, Raden. Jika itu harus dilakukan.” tatapan mata Sunan Giri menyapu
para wali yang duduk dibelakangnya,
“Saya akan mengutus Kanjeng Sunan Kudus, Kanjeng Sunan Muria, Kanjeng Sunan
Drajat, dan Kanjeng Sunan
Geseng.”
“Gusti, tindakan apa yang harus dilakukan seandainya dugaan tadi benar?” tanya
Pangeran Bayat.
“Kanjeng Sunan Giri?” Raden Patah melirik ke arah Sunan Giri.
“Hukuman yang pantas dan setimpal bagi penyebar ajaran sesat. Bentuknya hanya
raja yang berhak
menentukan.” ujar Sunan Giri.
“Baiklah,” Raden Patah mengerutkan keningnya.
“Hamba kira hukuman mati sangat pantas….” timpal Pangeran Bayat.
“Hukuman apa pun layak diberikan pada orang yang bersalah, sesuai dengan kadar
kesalahannya.” sela Sunan
Kalijaga, “Saya kira belumlah saatnya kali ini untuk membahas dan memutuskan
sebuah bentuk hukuman,
sebelum ada kejelasan serta pembuktian.”
“Ya, Kanjeng.” Raden Patah menganggukan kepala, “Datangilah dulu! Jika terbukti
bawa ke Pusat Kota Demak
Bintoro. Barulah kita menjatuhkan hukuman.” lalu menatap pada para utusan yang
ditugaskan ke Desa
Khendarsawa.
***
Sore itu matahari tertutup mega hitam, berlapis‐lapis.
Seakan‐akan tatapan matanya yang bersinar sengaja
dihalangi untuk menatap padepokan Syekh Siti Jenar. Angin bertiup sangat
kencang, mega pekat membumbung
dan berputar‐putar, semakin cepat.
“Lihat, pertanda alam?” Ki Donoboyo yang berada di halaman padepokan bangkit
dari duduknya, kepalanya
mendongak ke atas.
“Apa yang akan terjadi?” Ki Ageng Tingkir mengerutkan keningnya, “Angin puting
beliungkah, Syekh?” matanya
tertuju pada Syekh Siti Jenar yang berdiri di samping Kebo Kenongo.
“Pernahkah kita merusak alam? Menebang pohon sembarangan, membabad batu padas
seenaknya?” tatap Syekh
Siti Jenar.
“Tidak,”
“Bahkan sebaliknya kita memakmurkan bumi, Syekh?” tatap Ki Donoboyo, “Sesuai
dengan ajaran hamamayu
hayuning bawanna…”
“Jika demikian kita tidak perlu takut dimurkai alam…” Syekh Siti Jenar
tersenyum, “Puting beliung biasanya
menghancurleburkan rumah, dan bangunan. Mungkin saja padepokan yang kita
diami….”
“Saya kurang paham?” tanya Ki Chantulo, “Apa kaitannya dengan memakmurkan
bumi?”
“Bukankah beberapa waktu lalu saya pernah menjelaskan hamamayu hayuning
bawana?”
“Yang kita bicarakan pada waktu itu pertautan jiwa dengan alam, Syekh.” kerut
Ki Chantulo, “Sabda alam. Tetapi
tadi Syekh mengatakan mungkin saja puting beliung bisa menghancurkan padepokan
kita? Mengapa?”
“Mungkin disini, bukan berarti akan terjadi, atau tidak sama sekali, bahkan
bisa saja terjadi.” ujar Syekh Siti Jenar,
“Namun mungkin disini saya tegaskan, kemarahan alam sedahsyat apa pun tidak
akan pernah menyentuh
padepokan kita.”
“Termasuk puting beliung?” tanya Ki Chantulo. “Meskipun rumah penduduk
disekitar Desa Khendarsawa porakporanda?”
“Benar, justru akan saya usahakan agar enyah dari Desa Khendarsawa.”
“Mengapa, Syekh?”
“Bukankah saya sedang menjelaskan hal yang terkait dengan ilmu hamamayu
hayuning bawana….”
“….” Ki Chantulo dan yang lainnya hanya mengerutkan kening, “Rasanya saya belum
paham…”
“Memakmurkan bumi?” Kebo Kenongo berujar pelan, “Saya kira bencana akan datang
jika bumi dirusak.
Penduduk Desa Khendarsawa akan kekeringan dan kekurangan air pada musim panas,
seandainya pohon‐pohon
besar yang berada disekitar hutannya ditebang habis. Mungkin saja akan terjadi
longsor, bahkan bencana
lainnya.” lalu menatap gurunya.
“Ya, itu sebuah contoh kecil.” ujar Syekh Siti Jenar, “Seandainya kita telah
mengamalkan ilmu hamamayu
hayuning bawanna, memakmurkan bumi. Tidak akan pernah kita dimurkai alam atau
hidup dalam kesusahan.”
“Maksudnya?” Ki Donoboyo mengerutkan dahinya.
“Alam sebenarnya akan memberikan imbalan pada kita. Seandainya kita ikut
memakmurkan dan
memeliharanya…” Syekh Siti Jenar perlahan melangkah, “Lihatlah pohon jambu batu
yang di tanam Ki Chantulo
itu. Bukankah Ki Chantulo memelihara jambu ini sejak kecil, menanamnya, merawatnya,
hingga menghasilkan
buah?”
“Ya, saya baru mengerti, Syekh.” Ki Chantulo mengagguk‐anggukan kepala, “Benar, sekali dengan perawatan dan
pemeliharaan saya hingga jambu ini memberikan imbalan pada saya berupa makanan,
buah jambu. Saya bisa
menikmatinya dan memakannya, saya baru ingat ketika jambu ini berupa bibit. Ya,
mengerti.”
“Itu salah satu contoh, dimana kita memakmurkan alam…maka alam akan memberi
imbalan. Lihatlah para petani
dengan jerihpayah menamam padi, lihat pula para petani membuat pematang sawah,
menciptakan saluran air
dengan teratur, dan memeliharanya. Sebaliknya rusaklah pohon jambu tadi, tebas
dan biarkan merana, biarkan
pula padi disawah tidak harus dirawat dan diberi pupuk, biarkan pula saluran
air dipenuhi sampah. Apa yang akan
terjadi? Memeliharakah pada kita? Murkakah mereka?”
“Tentu saja murka, Syekh. Saya paham,” Ki Chantulo mengagguk‐anggukan kepala. “Namun selain itu, tadi Syekh
bisa mengenyahkan angin puting beliung agar enyah dari Khendarswa?”
“Bukankah andika pernah mendengar Kanjeng Nabi Musa membelah lautan. Lantas
menjinakkan air laut,
sehingga dengan sebilah tongkat kayunya bisa menyebrangi lautan yang terbelah.
Lantas Kanjeng Nabi Sulaiman
menundukan angin kencang?”
“Bukankah itu mukjijat, Syekh?” tatap Ki Chantulo.
“Ya, tetapi manusia semacam kita apakah tidak berhak mendapatkannya seandainya
Allah menghendaki. Hanya
namanya saja bukan mukjijat.”
“Tentu saja,”
“Bersandarlah kita pada ke Maha Besaran, ke Maha Gagahan, ke Maha Kuasaannya,
ke Maha
Perkasaannya….agar hal itu bisa terjadi.”
“Bukankah mukjijat tidak bisa kita pelajari?”
“Saya tidak mengajarkan untuk mempelajari mukjijat, karena bukan sunnah rassul.
Tidak ada perintah untuk
mempelajarinya, karena bukan untuk dipelajari. Mukjijat hanya pertolongan Allah
semata untuk para Nabi dan
Rassul. Mungkin bagi manusia semacam kita ada nama lain, ulama terkadang
menyebutnya Kharamah?”
“Mengapa bisa muncul Kharamah?”
“Ya, karena kita telah aqrab. Juga telah berada dalam tahapan ma’rifat.”
“Jika tidak sampai pada tahapan tadi? Masih mungkinkah, Syekh?”
“Tentu, asalkan hati kita ikhlas dan berada dalam kasih sayangNya. Meskipun
orang tadi tidak sepintar Ki
Chantulo. Membaca basmallah pun tidak terlalu lancar, tetapi karena hatinya
bening, bisa terjadi pertolongan
Allah datang tanpa diduga. Sebab hancurnya setiap amalan dan hasil ibadah kita
akibat tercemarinya hati.” urai
Syekh Siti Jenar.
“Maksudnya?” tanya Ki Donoboyo.
“Bukankah ketika kita telah berbuat baik, menjadi sebuah catatan amal. Lalu
catatan amal tadi bisa tercoreng
karena dalam hati timbul ria dan ta’kabur?” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak,
“Bukankah dalam hadistnya
Kanjeng Nabi menjelaskan, pada suatu ketika Islam itu hanya tinggal namanya,
Alquran tinggal tulisannya……..”
“Keberkahannya yang lenyap, Syekh?” potong Kebo Kenongo, “Banyak orang memahami
ajaran Islam bahkan
pasih membaca alquran, tetapi prilakunya menyimpang. Kadangkala Alquran dan
agama hanya dijadikan alat…”
“Ya, dijadikan alat untuk berkuasa dan menguasai serta membodohi rakyat.
Seperti halnya para penguasa negeri
Demak Bintoro…”
“Hentikan, Ki Chantulo! Saya tidak mengharuskan menuduh orang lain seperti yang
diuraikan di atas. Jika
demikian berarti jiwa dan hati kita pun sudah tercemari dengan rasa benci dan
berburuk sangka. Biarlah Allah
yang menilai baik dan buruknya seseorang. Bukankah dalam setiap diri manusia
ada malaikat pencatat amal
kebaikan dan kejelekan?” tatap Syekh Siti Jenar, “Mana mungkin orang bisa
menapaki ma’rifat, jika hati belumlah
bening.”
“O…” Ki Donoboyo mengangguk, “…pantas saya belumlah sampai pada tahapan
ma’rifat. Jiwa saya terkadang
terusik keadaan dan situasi, yang menurut penilaian saya jelek. Padahal jelek
itu bukan menurut pribadi, juga
berdasarkan aturan agama yang saya anut.”
“Menurunkan penilaian jelek pada orang lain, karena jiwa kita sedang disisipi
perasaan merasa paling benar.” ujar
Syekh Siti Jenar, “Karena kita sedang merasa paling benar, akan selalu
menganggap orang lain salah. Selalu saja
ingin mencela, mencercerca, memaki, dan melontarkan ejekan. Padahal kebenaran
yang ada dalam diri manusia
bersipat nisbi. Kebenaran mutlak hanyalah milik Allah. Seandainya kita selalu
menganggap diri paling benar, maka
akan lupa introspeksi diri, meski prilaku kita sudah jelas sangat salah menurut
banyak orang.”
“Ya,” Ki Donoboyo mengangguk, begitu juga yang lainnya, “Justru yang sulit itu
mengintrospeksi diri, Syekh?”
“Benar, sehingga hal itu jika diperturutkan akan membunuh kehormatan sendiri.
Kita akan dibuatnya tidak
berdaya. Karena merasa selalu benar, saat orang lain meluruskan dan
mengingatkan sangat sulit diterima.
Perlahan orang akan menjauh. Jika dia berkuasa dan memiliki pengaruh maka akan
digunjingnya dibelakang, jadi
bahan obrolan.”
“Itulah para pejabat negeri Demak Bintoro….”
“Sssssssttttttt, ingat Ki Chantulo?” Syekh Siti Jenar menempelkan telunjuk
dibirnya, “Bukankah andika ingin
mencapai ma’rifat?”
“Maafkan, Syekh.” Ki Chantulo merunduk, “Mengapa saya sulit menahan dan
mengendalikan jiwa yang bergolak.
Ketika tidak setuju dan benci akan penyimpangan, terutama dari…..”
“Sudahlah, bukankah tadi saya telah mengurainya?”
“Jika andika berupaya, insya Allah akan sampai pada tujuan.” terang Syekh Siti
Jenar.
“Sampurasun…” terdengar suara dari kaki bukit, menggema.
“Syekh, rupanya kita kedatangan tamu yang memiliki tenaga dalam hebat.” ujar Ki
Donoboyo.
“Tahukah andika siapa yang datang?” tanya Syekh Siti Jenar.
“Belum terlihat, sama sekali tidak tahu.” jawab Ki Donoboyo, meninggikan
kakinya, matanya tertuju ke arah jalan
yang akan dilewati tamu.
“Tidaklah perlu meninggikan kaki, apalagi menajamkan penglihatan…”
“Siapakah dia, Syekh?” tanya Ki Donoboyo, begitu juga yang lainnya.
“Mereka utusan dari negeri Demak Bintoro.”
“Artinya mereka akan menangkapi kita?” Ki Chantulo menepi.
Belum juga Ki Chantulo meneruskan perkataannya, utusan Demak Bintoro telah
terlihat menaiki anak tangga
padepokan Syekh Siti Jenar. Paling Depan Pangeran Bayat berdampingan dengan
Sunan Kudus, diikuti Pangeran
Modang, Sunan Muria dan yang lainnya.
“Selamat datang para petinggi Demak Bintoro dan para Wali Agung di padepokan
saya, Desa Khendarsawa.”
Syekh Siti Jenar dengan senyum ramah menyambut para tamunya, “Maafkan
seandainya andika dipaksa harus
turun dari punggung kuda dan berjalan menaiki anak tangga padepokan yang tidak
sedikit. Mungkin langkah
andika tersita dan melelahkan?”
“Alhamdulillah, Syekh.” ujar Sunan Kudus, “Meski pun kami dipaksa harus berjalan
kaki bukanlah soal. Karena
sesulit apa pun menuju padepokan ini akan kami lakukan, yang jelas bisa menemui
andika.”
“Bukankah setelah kesulitan ada kemudahan? Mungkin saja bagi andika semua
belumlah bisa bertemu
kemudahan dengan segera. Bisa jadi kesulitan yang berikutnya….”
“Apa maksud andika, Syekh?” Pangeran Modang geram, lalu mendekat dengan sorot
mata beringas, “Hargailah,
kami ini utusan Agung dari Kasultanan Demak Bintoro!”
“Apakah sikap saya tidak ramah? Bukankah dari tadi sudah mempersilahkan?
Butakah Pangeran pada tujuan
sesungguhnya bertemu kami di padepokan? Sehingga membentak saya yang berkata
seadanya?” Syekh Siti Jenar
tetap tenang, selalu tersungging senyuman tipis dari bibirnya, serta air
mukanya yang memancarkan cahaya.
“Perkataan andika tadi, Syekh!” Pangeran Modang semakin beringas, tangan
kanannya menggenggam gagang
keris.
“Pangeran, tenanglah!” sela Sunan Kudus, “Izinkanlah saya dulu beramah‐tamah dengan Syekh Siti Jenar.” tatapan
matanya menyapu wajah Pangeran Modang yang geram.
“Maaf, Kanjeng.” Pangeran Modang mundur, kembali pada tempatnya. “Habis
penghuni padepokan ini tidak tahu
ramah tamah. Bagaimana menyambut tamu terhormat, kami ini para pejabat.”
gerutunya.
“Dimas Modang, sudahlah!” lirik Pangeran Bayat.
“Baiklah, Kakang.” lalu menundukan kepala, setelah beradu tatap dengan Pangeran
Bayat dengan sorot mata
tajam.
Keadaan hening sejenak, tidak ada percakapan dalam beberapa saat. Angin kencang
dan mega yang tadinya
bergulung‐gulung telah kembali tenang. Matahari sore yang tampak
terhalang mega tipis mulai bisa menatap
padepokan milik Syekh Siti Jenar, seakan‐akan
ingin menyaksikan sebuah peristiwa yang akan terjadi. Sehingga
dengan berani matahari mengusir penghalang dari pandangannya, untuk menyaksikan
kejadian penting di Desa
Khendarsawa.
Mulailah Sunan Kudus beramah‐tamah setelah terganggu dan terusik
bentakan Pangeran Modang. Meski
Pangeran Bayat dan yang lainnya tampak tegang, seperti halnya Ki Chantulo dan
Ki Donoboyo, sangat berbeda
dengan Syekh Siti Jenar, yang selalu tenang dan menebar senyum.
Para murid Syekh Siti Jenar berdatangan dan berada dibelakang Kebo Kenongo,
mereka menilai dan
memperhatikan pertemuan itu dengan tahapan ilmu yang berbeda. Tentu saja dalam
mencerna dan
memahaminya pun akan beragam.
“Syekh, saya mendengar kabar jika andika dan pengikut telah menyebarluaskan
ajaran sesat dan menyesatkan.”
tatap Sunan Kudus.
“Ajaran sesat dan menyesatkan?” Syekh Siti Jenar menyapu wajah Sunan Kudus dan
para pengikutnya dengan
sorot mata tenang, “Jika seandainya telah melakukan hal tadi, artinya saya
telah keluar dari ajaran Islam yang
sesungguhnya.”
“Nah, itulah, Syekh.” ujar Sunan Kudus, “Alangkah lebih baiknya andika bertobat
dan kembali pada jalan lurus.
Ajaran Islam yang sesungguhnya, tidak lagi mengajarkan kesesatan. Mumpung masih
diberi sisa umur oleh Allah
SWT….”
“Tapi meskipun andika telah menyadari bahwa itu ajaran sesat, tetap saja proses
hukum harus dilalui!” sela
Pangeran Modang. “Meskipun andika sudah punya niat untuk bertobat…”
“Bicara apa andika, Pangeran?” tatap Syekh Siti Jenar.
“E..eeh..” Pangeran Modang melangkah, “Syekh, andika selalu saja membantah dan
melawan pada pejabat
negara! Yang saya katakan aturan hukum dan negara!” geramnya seraya menghunus
keris dan mendekat.
“Kenapa andika tidak bisa tenang, Pangeran?” Syekh Siti Jenar mengangkat
tangannya ke atas, “Maafkan, Kanjeng
Sunan. Juga Pangeran Bayat haruskah saya mendiamkannya?”
“Keparat! Memang andika ini apa?” Pangeran Modang menorehkan keris ke dada
Syekh Siti Jenar, yang
diserangnya tidak menghindar meski sejengkal tanah.
“Diamlah andika!” ujar Syekh Siti Jenar.
Langkah Pangeran Modang terhenti, berdiri sambil mengayunkan keris dihadapan
Syekh Siti Jenar, bergeming
laksana patung. Meski seribu kali geram, namun tubuh tidak lagi memiliki daya
dan upaya untuk bergerak.
“Kanjeng Sunan Kudus?” bisik Pangeran Bayat, “Apa yang dilakukannya terhadap
Dimas Modang?”
“Jangan khawatir, Pangeran.” lirik Sunan Kudus, “Mungkin agar perbincangan saya
tidak terusik dengan tindakan
Pangeran Modang, yang sebenarnya membahayakan dirinya sendiri.”
“Ya, saya paham, Kanjeng.” Pangeran Bayat menganggukan kepala.
“Kabar, Kanjeng Sunan Kudus?” tatap Syekh Siti Jenar.
“Ya, Syekh.”
“Bukankah kabar itu sesuatu yang belum pasti?”
“Hari inilah saya datang ke padepokan andika untuk membuktikan kabar tadi.”
“Bahwa saya telah mengajarkan dan menyebarluaskan ajaran sesat dan
menyesatkan?” Syekh Siti Jenar perlahan
mengangkat wajahnya ke langit, lalu kembali menatap Sunan Kudus.
“Bukankah andika tadi sudah menyadari, Syekh?” tatap Sunan Kudus, “Jika andika
menyebarkan kesesatan artinya
telah keluar dari ajaran Islam yang sesungguhnya….”
“Benar, Kanjeng.” tampak tersenyum, “Seandainya saya melakukan kesesatan dan
menyebarluaskannya. Artinya
saya telah murtad, kafir, mungkin juga musyrik. Tetapi benarkah tuduhan itu?
Bahwa saya telah sesat dan
menyesatkan dengan ajaran yang saya sebarkan. Bukankah saya menyebarkan ajaran
Islam? Meskipun kita hanya
memiliki satu ayat menurut Kanjeng Nabi, maka sampaikanlah. Tidak bolehkah
menyampaikan sesuatu tentang
ajaran Islam yang saya anggap benar dan harus disebarluaskan?”
“Memang itu tidak salah! Sudah seharusnya karena mengajarkan dan menyebarluaskan
agama merupakan
kewajiban kita sebagai umatnya.” Sunan Kudus berhati‐hati, “Tetapi andika sudah dianggap melenceng, bahkan
sesat.”
“Mengapa saya dianggap melenceng dan sesat? Karena saya bukan seorang wali
seperti andika? Mungkinkah
karena saya hanya seorang rakyat jelata?”
“Tidak,”
“Lantas?”
“Ya, ajaran itulah yang mengkhawatirkan? Jika andika terus menyebarkan ajaran
sesat saya khawatir rakyat yang
menerimanya keluar dari esensi Islam yang sesungguhnya.”
“Andika dari tadi menuduh saya telah menyebarkan kesesatan, Kanjeng.” Syekh
Siti Jenar menyapu wajah Sunan
Kudus dengan tatapannya. “Dimanakah letak kesesatan ajaran Islam yang saya
sebarkan?”
“Baiklah,” Sunan Kudus berhenti sejenak, lalu mengerutkan keningnya. Seakan‐akan ada sesuatu yang sedang
dicerna dalam pemikirannya. “Andika tidak mengajarkan syariat Islam?”
“Syariat Islam?”
“Andika tidak mewajibkan salat lima waktu, puasa pada bulan Ramadhan….seakan‐akan rukun Islam tiada…”
“Tidak,”
“Mengapa? Bukankah itu hukumnya wajib?”
“Tentu saja.”
“Disitulah salah satu kesesatan yang andika ajarkan, Syekh!”
“Kanjeng Sunan, mengapa hal tadi merupakan salah satu kesesatan yang saya ajarkan?”
“Dimana ukuran sesatnya?”
“Ya, itu tadi. Mestinya andika mewajibkan salat lima waktu dan puasa di bulan
Ramadhan!”
“Jika saya harus mewajibkan salat lima waktu dan puasa pada bulan Ramadhan,
tidakkah salah?”
“Justru andika telah salah dan sesat, Syekh!”
“Maaf, andika keliru, Kanjeng. Bukankah saya sebagai manusia biasa tidak punya
kewenangan untuk membuat
suatu hukum atau aturan, apalagi berkaitan dengan syariat.” Syekh Siti Jenar
tersenyum, “Tidak seharusnya saya
memerintahkan wajib pada murid saya tentang salat lima waktu dan puasa di Bulan
Ramadhan. Sebab hal itu
sudah menjadi ketetapan Allah dalam Alquran, haruskah saya menciptakan hukum
baru?”
“Andika ini melantur, Syekh. Memutarbalikan kata?”
“Saya tidak sedang melantur, Kanjeng. Wajib itu menurut Allah dalam kalimat
yang tersurat. Saya sebagai manusia
biasa tidak bisa menyebutkan bahwa itu wajib. Jika demikian artinya telah
melebihi Allah….”
“Bagamaina andika ini, Syekh? Pembicaraan itu seperti anak kecil! Mengada‐ngada. Mereka‐reka
kata, memutarmutar
kalimat!”
“Bukankah manusia dalam kehidupannya hanya memainkan kata dan kalimat? Tebaklah
permainan kata dan
kalimat tadi. Telusurilah tuduhan pertama tentang hal tadi yang andika anggap
sesat dan menyesatkan umat….”
“Apa yang mereka bicarakan?” gumam Pangeran Bayat mengerutkan keningnya.
“Islam itu agama syariat!” ujar Sunan Kudus, “Nampaknya seseorang menganut
ajaran Islam karena ada syariat
yang dijalankan. Iman itu adanya didalam hati. Rukun Islam itu melibatkan fisik,
lahiryah. Misalkan syahadat,
shalat, puasa, zakat, dan ibadah haji, tentu terlihat dalam bentuk
pengamalannya.”
“Tidak bolehkah di dalam Islam mempelajari hakikat, thariqat, dan ma’rifat?”
“Boleh saja. Sebelum mempelajari yang tiga tadi perlajari dulu ajaran
syariatnya.” tukas Sunan Kudus, “Sehingga
tidak seharusnya andika mentidakwajibkan melaksanakan syariat. Jelas itu
sesat!”
“Bukankah saya sebagai manusia, Kanjeng?” ujar Syekh Siti Jenar, “Secara
syariat dan lahiryah, manusia tidak
punya keharusan, bahkan mewajibkan, tentang sebuah perintah terkait syariat…”
“Sudah, Syekh!” Sunan Kudus menghela napas dalam‐dalam,
“Andika malah kembali memutar balikan kalimat.
Islam ini agama yang berdasarkan dalil dalam Alquran, bukan berdasarkan
pemikiran, pentafsiran, dan hasil
proses penelaahan andika semata…”
“Baiklah jika ini tetap dianggap memutarbalikan kata menurut andika.” Syekh
Siti Jenar berhenti sejenak, “Artinya
perbincangan ini telah selesai…”
“Tidak semudah itu, Syekh!” Sunan Kudus mendekat, “Andika tidak bisa menghindar
dari hukum…”
“Hukum?”
“Ya, hukum negara Demak Bintoro. Andika telah dianggap sesat dan menyesatkan.
Persoalan yang pertama tidak
menganggap salat lima waktu, puasa serta syariat lain wajib.” Sunan Kudus
berhenti sejenak, “Kedua andika telah
mengajarkan manunggaling kawula gusti.”
“Salahkah ajaran manunggaling kawula gusti, Kanjeng?”
“Jelas, artinya andika telah menganggap manunggal dengan Gusti Allah. Musrik,
sesat, serta menyamakan derajat
andika dengan Allah SWT….”
“O…demikiankah?” Syekh Siti Jenar, menggunakan tatapan batinnya menembus jiwa
Sunan Kudus. “Rasanya tidak
tersentuh…”
“Apa?”
“Kanjeng, tidak perlu panjang lebar. Jika yang andika inginkan menangkap saya.
Maka tangkaplah!” lalu menoleh
ke belakang, tampak para muridnya berdiri. “Menghilanglah kalian….”
“E..eeh…” Pangeran Bayat tercengang, “Murid Syekh Siti Jenar semuanya lenyap.
Kemana mereka?”
“Tangkap dan bawalah saya ke pusat kota Demak Bintoro…..” tubuh Syekh Siti
Jenar perlahan samar, tembus
pandang, menyerupai kabut, tertiup angin sepoi berhamburan.
“Kemana dia?” Pangeran Modang baru bisa bergerak, “E…ee..saya telah kembali,
Kakang!” dengan girang serta
memegang kepala, dada, dan bahunya. “Hebat juga ilmu sihirnya. Bisa menyihir
saya hingga tidak bisa beranjak
dari berdiri. Sekarang dia menghilang tertiup angin.”
“Kanjeng?” tatap Pangeran Bayat, “Bagaimana menurut pendapat, Kanjeng Sunan
Kudus?”
“Kita kembali ke Demak!” Sunan Kudus membalikan tubuh.
“Bukankah kita harus membawanya, Kanjeng?” tatap Pangeran Modang.
“Seandainya Pangeran sanggup menangkapnya? Silahkan! Saya menunggu di sini.”
“Dia sangat sakti, Kanjeng.” Pangeran Modang mengerutkan keningnya serta
menggeleng‐gelengkan kepala,
terkadang menatap Pangeran Bayat.
“Dimas Modang, kita kembali ke Demak!” ujar Pangeran Bayat, “Saya setuju dengan
Kanjeng Sunan Kudus.”
“Lho…?” Pangeran Modang, menggerutu dalam hatinya, terkadang memijit‐mijit keningnya.
Sunan Kudus, Pangeran Bayat, dan yang lainnya beranjak dari padepokan Syekh
Siti Jenar. Tidak ada satupun yang
berbicara, termasuk Pangeran Modang, semuanya seakan‐akan hanyut dan tenggelam dalam persoalan.
Meninggalkan Desa Kendharsawa menyisakan beragam pemikiran, penalaran, dengan
analisis beragam sesuai
dengan kemapuan dan ilmu yang dimiliki mereka.
“Mereka kembali, Syekh.” ucap Ki Ageng Tingkir, “Padahal kita tidak kemana‐mana…”
“Ya, hanya tabir tipis saja yang menghalangi pandangan mata lahiryah mereka.”
Syekh Siti Jenar melangkah pelan.
“Mengapa mereka demikian, Syekh?” Ki Donoboyo mendekat, “Tidakkah mereka
memiliki ilmu yang setarap
dengan, Syekh?”
“Jika andika bertanya tingkatan, artinya ada yang tinggi dan rendah.” Syekh
Siti Jenar menghentikan langkahnya,
“Padahal tidak semestinya kita menilai manusia dengan tingkatan. Semua manusia
dihadapan Allah sama. Yang
membedakan hanyalah cara mensyukuri segala hal yang diberikanNya.”
“Maksudnya?”
“Menggunakan sesuatu sesuai dengan yang seharusnya….”
“Masih bingung, Syekh?” Ki Donoboyo garuk‐garuk
kepala.
“Sang Pencipta telah menciptakan tangan untuk apa? Kaki sesuai fungsinya,
tentunya untuk berjalan…” Kebo
Kenongo mencoba menjelaskan, “Mata untuk melihat, akal untuk berpikir…”
“Itulah artinya mensyukuri nikmat, secara singkat.” tambah Syekh Siti Jenar.
“Seandainya mereka mengasah mata
batin, tentu bisa memandang keberadaan kita. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi
meski sebesar zarah, atom,
lebih kecil dari debu, seandainya mata hati kita telah terbuka.”
“Kenapa saya juga belum bisa?” tanya Ki Donoboyo.
“Sebetulnya mereka pun, atau ki Donoboyo sudah bisa, tetapi tidak secantik saya
melakukannya.” Syekh Siti Jenar
tersenyum, “Orang lain akan mengatakan mungkin saya yang telah lebih dulu, dia
belakangan.”
“O, Syekh tahapan lebih tinggi mereka lebih rendah. Pantas tingkat ketinggian
pun bisa mempengaruhi sudut
pandang dan jangkauan mata kita.” ujar Ki Chantulo, “Di atas ketinggian apalagi
dipuncak gunung semuanya akan
terlihat, berbeda dengan mereka yang masih di kaki gunung…”
“Hahahaha….” Ki Donoboyo tertawa jika demikian saya paham, “Pantas mereka cepat
pergi karena merasa kalah
dan tidak mampu menangkap kita.”
“Tidaklah perlu terlalu gembira.” tatap Syekh Siti Jenar, “Mereka tidak akan
berhenti sampai disitu. Suatu ketika
akan kembali dan menjemput saya…”
“Siapakah yang mampu mengalahkan kesaktian, Syekh?” tanya Ki Donoboyo.
“Rasanya saya tidak perlu mendahului kehendakNya. Di antara para wali tentu
saja….” Syekh Siti Jenar mendadak
menghentikan kalimatnya, wajahnya mendongak ke langit. “Hampir gelap. Andika
sebaiknya turunlah dari
padepokan ini, keluarlah dari Khendarsawa. Sebarluaskan ajaran kita! Meski
jasad kita telah terkubur, ruh, dan
ajaran tidak akan pernah mati. Kecuali sebagian saja yang tinggal di padepokan
ini….”
Tiba‐tiba kilat membelah langit, diikuti suara guntur menggelar
memekakan gendang telinga. Perkataan Syekh Siti
Jenar seakan‐akan mendapat restu dan kesaksian dari langit.
“Hamamayu hayuning bawanna…” gumam Ki Chantulo ternganga.
***
“Gusti, maafkan kami tidak berhasil membawa serta Syekh Siti Jenar.” Pangeran
Bayat merunduk di depan Raden
Patah.
Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Gresik, Sunan Drajat, Sunan
Kudus, Sunan Ngudung, Sunan
Geseng, Sunan Gunung Jati, Sunan Muria, Pangeran Modang dan para adipati telah
lama berada di atas tempat
duduknya. Dalam batinnya masing‐masing memikirkan dan mencerna,
sesuai dengan kadar ilmu yang dimilikinya,
tentang ketidakberhasilan memboyong Syekh Siti Jenar.
“Kami tidak sanggup melawan ilmu sihirnya, Gusti.” Pangeran Modang mengacungkan
sembah.
“Haram! Islam tidak boleh menguasai ilmu sihir apalagi mengamalkannya….”
“Maaf, Kanjeng Sunan Giri.” Sunan Kudus angkat bicara, “Saya rasa Syekh Siti
Jenar tidak memiliki ilmu sihir…”
“Tapi, Kanjeng. Bukankah dia bisa menghilang? Saya sendiri dibuatnya mematung
bagaikan arca.” timpal
Pangeran Modang.
“Itu bukanlah ilmu sihir setahu saya…” Sunan Kalijaga menatap Raden Patah,
“Merupakan salah satu ilmu yang
diajarkan pada murid‐muridnya, terkadang kita menganggapnya sesat. Mungkin karena
tidak pernah ditemui
dalam syariat Islam. Umat Islam tidak disyariatkan untuk bisa menghilang…”
“Benar,” Sunan Kudus melirik, “…mungkin itulah ajaran thariqatnya.”
“Disitulah letak kesalahannya, Kanjeng.” Sunan Giri perlahan bangkit, “Islam
itu seakan‐akan ilmu yang terkait
dengan hal‐hal mistis. Sehingga ajaran yang disebarluaskannya bisa
menodai perjuangan kita. Padahal selama ini
kita berusaha membasmi ajaran‐ajaran yang berbau bid’ah, kharafat,
tahayul, dan musrik. Toh…dia malah
mengajarkan hal‐hal aneh. Tidaklah sebaiknya mengajarkan bagaimana…cara
shalat yang benar…”
“Ya, padahal keimanan rakyat Demak Bintoro pada saat ini masih rapuh.” ujar
Raden Patah, “Belum juga
memahami bag‐bagan fikih…malah loncat ke hal‐hal yang berbau mistis.”
“Bagi orang awam sudah barang tentu, akan mengulang perbuatan menyimpang dari
syariat Islam.” Sunan
Kalijaga berhenti sejenak, “Ya, mungkin inilah warna kehidupan. Saya kira
sepenuhnya kebijakan milik negara dan
dewan wali…”
“Untuk itu tetap, Syekh Siti Jenar harus ditangkap!” ujar Sunan Giri, “Kali ini
sebaiknya Sunan Kalijaga saja yang
berangkat?”
“Saya setuju,” ujar Raden Patah, “Namun tidaklah sendiri…”
“Seandainya ini tugas negara dan perintah dari ketua Dewan Wali…insya allah.”
Sunan Kalijaga menatap Sunan
Bonang, mata hatinya mulai berbincang, ‘Kanjeng, meski bagaimanapun juga tetap
hal ini akan terjadi.’
‘Saya kira guratan taqdir berkata demikian. Terpaksa atau tidak terpaksa
Kanjeng Sunan Kalijaga harus
melakukannya.’ tatap Sunan Bonang.
“Ada apa Kanjeng Sunan Bonang, Kanjeng Sunan Kalijaga?” tatap Sunan Giri,
“Adakah hal penting terkait dengan
persoalan ini perlu diperbincangkan?”
“Rasanya tidak ada, Kanjeng.” ujar Sunan Bonang, “Mungkin saya akan turut serta
bersama Kanjeng Sunan
Kalijaga…dan beberapa wali lainnya.”
“Baiklah,” Sunan Giri Menganggukan kepala.
“Saya akan mengutus Dimas Bayat, Pangeran Modang, dan beberapa prajurit
tangguh. Seandainya mereka sulit
ditangkap!” ujar Raden Patah.
“Saya rasa tidak perlu melibatkan banyak prajurit, Raden.” ujar Sunan Bonang,
“Sebab kita tidak sedang
berperang melawan pasukan musuh. Tetapi kita hanya ingin menangkap sosok Syekh
Siti Jenar yang dianggap
sesat dan memiliki ilmu cukup tinggi. Bukan lawan prajurit, dia tidak bisa
dikalahkan dengan pasukan. Percayalah
pada Kanjeng Sunan Kalijaga…”
“Mudah‐mudahan berhasil,” ujar Sunan Giri, “Kita harus segera
menjatuhkan hukuman. Jika dibiarkan terlalu
lama, saya takut ajarannya semakin meluas. Sebab apa yang diajarkannya sangat
kental dengan kehidupan
masyarakat Demak sebelumnya.”
“Mudah‐mudahan,” ujar Sunan Bonang.
“Pertama ajarannya benar‐benar sesat. Masa tuhan bisa manunggal dengan dirinya,
manunggaling kawula gusti.”
ujar Pangeran Bayat, “Kedua saya melihat dengan mata kepala sendiri, hadirnya
Ki Ageng Pengging alias Ki Kebo
Kenongo disampingnya. Jadi tuduhan makar dan isu politik melatar belakangi
disebarnya ajaran sesat dan
menyesatkan. Jika hal ini dibiarkan, sangat jelas akan merongrong wibawa dan
keutuhan negeri Demak Bintoro.
Padahal selama ini kita berusaha membangun, mempertahankan, dan membelanya.”
“Ya, saya pun meyakini hal itu, Gusti.” tambah Pangeran Modang, “Selain ingin
menodai perjuangan para wali,
padahal tujuan utamanya politik. Ingin mendudukan Ki Ageng Pengging sebagai
Raja Demak Bintoro. Ditebarnya
isu penyebaran ajaran sesat semata untuk mengalihkan perhatian pemerintah,
dimana lengah gerakan makar pun
berjalan.”
“Sejauh itukah pengamatan, Pangeran?” tatap Sunan Geseng, “Padahal saya lebih
sependapat dengan Kanjeng
Sunan Kalijaga. Hendaklah persoalan politik dipisahkan dulu dengan persoalan
agama.”
“Maaf, Kanjeng. Justru agama lebih mudah ditunggangi kepentingan politik,
mengingat masyarakat Demak
Bintoro mayoritas muslim.” ujar Pangeran Modang, “Saya berkesimpulan demikian
berdasarkan hasil
penyelidikan, lihat pula latar belakang Ki Ageng Pengging?”
“Masuk akal juga,” Sunan Giri menyapu wajah Raden Patah dengan tatapan matanya.
“Jika itu terbukti, artinya Syekh Siti Jenar jelas memiliki dua kesalahan.
Pertama mengajarkan ajaran sesat, kedua
mendukung Ki Ageng Pengging melakukan makar.” ujar Raden Patah.
“Untuk membuktikan semuanya, biarlah hari ini juga saya akan menjemput Syekh
Siti Jenar.” tatap Sunan Kalijaga,
“Hingga kita tidak larut dalam bayang‐bayang
dugaan…”
***
Langit mendung, awan hitam bergulung‐gulung
bergerak cepat kerumuni angkasa. Petir berkilatan, diikuti guntur
menggelegar memekakan gendang telinga. Angin bertiup sangat kencang memisahkan
daun dan ranting kering
dari cabang pepohonan.
Bergerak di atas langit Desa Khendarsawa. Petir menyabar batang pohon, terbakar
serta jadi arang dalam sekejap.
Abunya berhamburan di halaman padepok Syekh Siti Jenar.
Para murid Syekh Siti Jenar tersentak, seraya bangkit dari duduknya, puluhan
pasang mata tertuju pada batang
pohon yang berubah jadi abu dalam sekejap.
“Pertanda alam apa lagi?” gumam Ki Chantulo, tatapannya menyapu wajah Syekh
Siti Jenar yang tampak tenang.
“Kematian…”
“Maksud, Syekh?”
“Lihat saja nanti.” melangkah pelan keluar dari ruang padepokan, seakan‐akan menyambut tamu yang akan
datang.
Para muridnya yang berada di dalam ruangan belum juga keluar, mereka hanya
mengantar langkah gurunya
dengan tatapan mata penuh pertanyaan.
Matahari semakin ketakutan, menyelinap di antara gelapnya mega yang bergulung‐gulung. Angin semakin
kencang dibarengi petir dan kilat, seakan menjadi‐jadi.
Utusan Negeri Demak Bintoro telah berada di gerbang Desa Khendarsawa. Sunan
Kalijaga berdampingan dengan
Pangeran Bayat duduk di atas pelana kuda hitam, di belakangnya Pangeran Modang,
Sunan Bonang, Sunan Kudus,
Sunan Gunung Jati, dan Sunan Geseng.
“Lihatlah, Kanjeng!” Pangeran Modang menunjuk langit, “Sihir Syekh Siti Jenar
hebat sekali. Dia bisa menciptakan
petir, angin kencang, dan guntur. Padahal sebelum memasuki Desa Khendarsawa
tidak ada.”
“Mungkinkah dia telah mengetahui kedatangan kita, Kanjeng?” lirik Pangeran
Bayat.
“Ya,” jawab Sunan Kalijaga, matanya tertuju ke depan.
“Apakah gejala alam ini sengaja dia ciptakan untuk menyambut kedatangan kita?”
“Tidak, Pangeran.”
“Tapi…bukankah…”
“Pertanda alam ini lahir dengan sendirinya.” Sunan Kalijaga memperlambat
langkah kudanya, “Ingatkah Pangeran
pada ilmu hamamayu hayuning bawanna yang dimilikinya?”
“Ya, namun saya kurang paham?”
“Inilah bukti kemanunggalan Syekh Siti Jenar dengan alam…”
“Maksudnya?” Pangeran Modang ikut bertanya, keningnya berkerut‐kerut.
“Jika kaki Pangeran terantuk batu, yang berteriak mengaduh kesakitan apakah
kaki atau mulut?”
“Tentu saja mulut, Kanjeng. Mana mungkin kaki bisa berteriak kesakitan.”
Pangeran Modang memijit‐mijit kening,
“Apa hubungannya ilmu sihir yang ditebarkan Syekh Siti Jenar dengan pertanyaan
Kanjeng Sunan Kalijaga?”
“Rayi Modang itu ibaratnya?” timpal Pangeran Bayat.
“Ah…bingung saya kakang…” Pangeran Modang garuk‐garuk
kepala.
“Kita telah sampai di wilayah Desa Khendarsawa.” Sunan Bonang mengangkat
wajahnya ke atas, menatap langit
yang tiba‐tiba terang benderang. Tidak ada angin kencang, petir,
bahkan guntur.
“Aneh?” Pangeran Modang memijit‐mijit keningnya, “Lihatlah Syekh
Siti Jenar sudah tidak lagi menyihir Desa
Khendarsawa. Hebat juga!”
Matahari kembali bisa menunaikan sisa tugasnya menatap Desa Khendarsawa, tanpa
terhalang mega tebal yang
menggumpal. Hanya lapisan, serta lembaran awan putih tipis menyertainya.
Laksana lembaran kertas yang akan
ikut serta mencatat sejarah kehidupan manusia yang terjadi di bawah tatapan
matahari.
Utusan dari Demak Bintoro menambat kudanya di bawah pohon rindang. Sunan
Kalijaga melangkah pelan dikuti
yang lainnya, matanya menyapu kaki bukit tempat Syekh Siti Jenar bersemayam.
Anak tangga berbaris hingga
menyentuh ketinggian bukit, untuk mengantar siapa saja yang hendak menemui
penghuninya.
“Kanjeng, itulah tangga susun menuju padepokannya.” lirik Pangeran Bayat.
“Sangat banyak anak tangganya!” gerutu Pangeran Modang, “Hampir tidak terhitung
jumlahnya…saking
banyaknya…” tangannya menyeka keringat yang menetes dikeningnya.
“Ya, itulah tangga kehidupan….” terdengar suara Syekh Siti Jenar menggema.
“Lha, dimana orangnya?” Pangeran Modang memutar tatapan matanya, “Mulai lagi
menggunakan ilmu sihir…”
“Saya kira Syekh Siti Jenar sudah tahu kedatangan kita, Kanjeng?” lirik
Pangeran Bayat, “Padahal keberadaan kita
masih jauh dari padepokannya…”
“Bukan Syekh Siti Jenar jika gelap mata hatinya, Pangeran.” Sunan Kalijaga
tersenyum.
“Kanjeng Sunan bisa saja…” gema suara Syekh Siti Jenar. “Selamat datang di
padepokan saya saudaraku Kanjeng
Sunan Kalijaga, Kanjeng Sunan Bonang dan lainnya.”
“Terimakasih, Syekh.” Sunan Bonang beradu tatap dengan Sunan Kalijaga.
“Orangnya dimana?” Pangeran Modang berusaha mencari jejak Syekh Siti Jenar
dengan tatapan matanya.
“Kanjeng, dimanakah dia?” tatapnya pada Sunan Bonang.
“Tentu saja di padepokannya, Pangeran.”
“Aneh….?” tangannya memijit‐mijit kening, “Padahal masih harus
melewati beberapa tangga dan bentangan jalan.
Mengapa suaranya sangat dekat, seakan‐akan
berada dihadapan kita? Tidakah sedang menghilang menggunakan
ilmu sihirnya?”
“Tidak,”
“Heran?” tatap Pangeran Modang pada Sunan Bonang, “Sangat tinggi ilmu
sihirnya…”
Setahap demi setahap Sunan Kalijaga dan rombongan menginjak tangga yang terbuat
dari pahatan batu padas.
Berkali‐kali Pangeran Modang menghela napas, seraya menyeka
keringat. Seperti yang lainnya, terkecuali Sunan
Bonang dan Sunan Kalijaga tidak tampak lelah apalagi menyeka keringat, tubuhnya
seakan‐akan tidak memiliki
bobot.
“Mengapa Kanjeng Sunan mesti menapaki tangga? Tidak sebaiknya langsung saja
berdiri dihadapan saya?” gema
suara Syekh Siti Jenar.
“Tidak semestinya saya meninggalkan rombongan.” Sunan Kalijaga melirik ke arah
Sunan Bonang yang tersenyum.
“Juga sangat tidak menghargai Syekh Siti Jenar yang telah susah payah
menciptakan tangga, jika kaki saya tidak
menyentuhnya….”
“Kanjeng, apa maksud ucapan Syekh Siti Jenar?” Pangeran Modang melongo.
“Aneh…kenapa Kanjeng berdua
tidak tampak lelah apa lagi berkeringat…kelihatannya enteng. Apakah Kanjeng
juga punya ilmu sihir?”
“Mengapa pangeran bertanya demikian?” tatap Sunan Kalijaga, “Padahal kaki saya
seperti halnya Pangeran
menyentuh tangga. Saya tidak merasa berat dan mungkin sering latihan….”
“O…pantas…” Pangeran Modang geleng‐gelengkan
kepala. “Memang saya malas berolah raga…apalagi memanjat
gunung…”
Matahari semakin nampak, panasnya terik menguliti tubuh. Seakan‐akan ingin puas menyinari para penghuni
bumi. Itu semua terseka dengan tiupan angin sepoi‐sepoi,
mengusir sengat dan keringat panas.
“Inilah padepokan saya, Kanjeng.” Syekh Siti Jenar menyambut Sunan Kalijaga
beserta rombongan dari Negeri
Demak Bintoro. Dibelakangnya berdiri beberapa muridnya, dengan sorot mata
tenang.
“Syekh, saya telah kembali!” Pangeran Modang geram, “Kali ini andika tidak akan
bisa lolos…”
“Tenang, Pangeran.” Sunan Kudus meletakan jari telunjuk dibibirnya.
“Saya akan berujar secara lahiryah…” tatap Sunan Kalijaga, “Kali ini saya
datang selaku utusan dari negeri Demak
Bintoro.”
“Tentu saja harus secara lahiryah, Kanjeng.” Syekh Siti Jenar tersenyum,
tatapan matanya menyapu wajah para
utusan dari negeri Demak Bintoro. “Jika hal itu merupakan keharusan, apalagi
sebagai utusan. Hanya untuk
menghindari fitnah bagi andika, Kanjeng.”
“Ya, saya kira demikian.”
“Baiklah,”
“Saya kali ini ditunjuk sebagai pimpinan rombongan. Tentu saja agar tidak gagal
memboyong Syekh ke negeri
Demak Bintoro. Itu kepercayaan Raden Patah dan Kanjeng Sunan Giri selaku ketua
Dewan Wali yang
memutuskan.” Sunan Kalijaga berhenti sejenak, “Ada pun alasannya saya menangkap
Syekh, karena diduga telah
menyebarluaskan ajaran sesat dan menyesatkan. Betulkan demikian?”
“Mengapa tuduhan seperti itu selalu datang bertubi‐tubi memojokan saya dan para pengikut? Padahal saya tidak
merasa sedang berada dalam kesesatan.”
“Tentu saja, sebab yang menilai orang lain sesat bukanlah diri si pelaku. Namun
dalam hal ini orang kebanyakan
dan umum. Artinya andika dihadapan umum sudah berbuat sesuatu yang tidak lazim,
serta tidak semestinya.”
Sunan Kalijaga perlahan melangkah, “Andika telah melanggar kesepakatan yang
telah umum ketahui dan diakui
kebenaran, ketepatan, serta lelakunya. Bukankah ketika saya sedang berada di
atas panggung dan mementaskan
gamelan, alat musik gong itu mestinya dipukul. Jika saya memperlakukan gong
seperti gendang tentu saja akan
ditertawakan orang yang sudah tahu, namun sebaliknya bagi yang awam hal itu
akan di anggap benar. Sehingga
lelaku itu benar menurut pengikut awam, padahal yang salah adalah yang
mengajarkannya.”
“Seperti itukah lelaku saya saat ini?”
“Ya, dari sudut pandang umum.”
“Tidakkah disadari meski gendang pun bisa dipukul menggunakan batang kecil yang
seukuran. Lihatlah bedug,
bukankah itu pun gendang besar yang menggunakan alat pukul seperti halnya
gong?”
“Benar,”
“Seandainya benar mengapa saya dianggap bersalah dan sesat?”
“Karena saya memandang dari sudut pandang umum dan kepentingan negara.”
“Jika demikian Kanjeng telah terikat dengan kekuasaan dan melupakan esensi
kebenaran, yang bersifat mutlak.”
“Mungkin menurut pandangan khusus demikian, Syekh.” Sunan Kalijaga berhenti
sejenak. “Pada intinya
hendaklah Syekh menahan diri untuk menyebarkan ajaran yang dianggap sesat
secara umum.” lalu mata batinnya
menembus jiwa Syekh Siti Jenar.
“Mengapa mereka saling adu tatap? Tidak terdengar lagi bicara?” gumam Pangeran
Modang.
‘Saya sangat memahami tugas Kanjeng secara lahiryah dan kenegaraan. Bukankah
esensi ajaran Islam yang
sesungguhnya berada dalam jiwa, ketika kita telah berada dalam tahapan
ma’rifat, akrab, serta manunggaling
kawula gusti.’
‘Hanya sayang kesalahan Syekh menganggap sama setiap orang. Padahal tidak
seharusnya mengajarkan ilmu yang
Syekh pahami pada orang yang bukan padanannya. Hingga menyeret orang untuk
melukar syariat….’
“Kanjeng Sunan Bonang, mengapa mereka saling tatap?” Pangeran Modang mendekat,
lalu berdiri disamping
Sunan Bonang.
“Mereka berbicara melalui mata hati. Orang kebanyakan menyebutnya batin atau
kebatinan.”
“Apa yang dibicarakannya, Kanjeng?” tatap Pangeran Bayat.
“Ya, tidak jauh dari persoalan yang kita bawa, Pangeran.” lalu tatapan mata
Sunan Bonang menyambangi batin
Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar. ‘Benar, Syekh. Hingga dengan ajaran tadi
orang yang baru mengenal dan
belajar Islam menganggap syariat itu tidak penting. Mestinya manusia itu
berjalan melewati tangga tahap
pertama, tidak semestinya loncat pada tangga yang lebih atas…’
“Lha, sekarang ketiga‐tiganya jadi saling tatap. Jadi bingung apa itu batin?”
Pangeran Modang garuk‐garuk kepala,
“Lalu kita semua hanya menyaksikan orang yang meneng‐menengan…”
“Kanjeng Sunan Kudus?” tatap Pangeran Bayat.
“Baiklah,” Sunan Kudus menyentuh tangan Sunan Bonang, “Kanjeng, alangkah lebih
baiknya jika pembicaraan
andika bertiga terdengar secara lahiryah.”
“Hehhhhmmmm…” Sunan Bonang menarik napas dalam‐dalam,
seraya mencerna permintaan Sunan Kudus. “Ya,
tentu harus terdengar. Kanjeng Sunan Kalijaga, Syekh, lahirkanlah pembicaraan
andika berdua!”
Keduanya masih belum melahirkan setiap ucapannya, seakan‐akan sedang berdebat dengan tatapan matanya
masing‐masing. Tanpa ada gerak, bahkan komat‐kamit mulut yang meluncurkan setiap kalimat sanggahan dan
pernyataan. Yang terdengar hanyalah suara jubah mereka masing‐masing yang berkelebatan tertiup angin
pegunungan.
“Kanjeng Sunan,” ujar Pangeran Bayat, tatapan matanya tertuju pada Sunan
Kalijaga.
“Saya paham, Pangeran.” Sunan Kalijaga tersenyum, kembali beradu tatap dengan
Syekh Siti Jenar. ‘Syekh, tidak
setiap ajaran Islam yang andika tafsirkan dan pahami bisa disebarkan secara
merata. Pemahaman dan pencernaan
tentang hal yang tidak tersirat dan tersurat dalam alquran, hendaklah pilih‐pilih, untuk siapa itu? Dimana? Lalu
tahapan aqidahnya? Sebab ilmu itu ada yang bisa disampaikan melalui dakwah
secara umum, terbuka, juga ada
yang semestinya harus dikonsumsi dan ditelaah berdasarkan tingkatan tertentu.’
“Mengapa mereka masih saling tatap?” Pangeran Modang masih kebingungan.
“Baiklah, Kanjeng.” Syekh Siti Jenar menganggukan kepala, “Bagi saya setiap
orang adalah sama. Sama sekali tidak
ada tingkatan yang lebih rendah dan lebih tinggi. Masa mereka tidak sanggup
mencerna dan menelaah setiap
pemikiran saya?”
“Sekarang sudah terdengar…” Pangeran Modang tersentak, “…tapi apa yang
dibicarakannya…memekakan
gendang telinga dan tidak nyambung…” lalu menghela napas dalam‐dalam.
“Andika berkata demikian, Syekh. Karena pembicaraan ini terdengar oleh umum.
Tidak semestinya mengharuskan
orang lain berada dalam tahapan yang sama dengan andika.”
“Bukan salah saya, merekalah yang tidak mau mengerti dan memahami. Sehingga
muncul kalimat bodoh yang
menduga‐duga, serta merta memojokan dan menyudutkan semisal saya dan
para murid.”
“Apa yang andika bicarakan, Syekh?” tanya Pangeran Modang, “Dari tadi saya
perhatikan terus ngelantur. Tidakah
sadar jika andika ini telah menyebarluaskan ajaran sesat dan menyesatkan?”
“Perlukah saya bicara panjang lebar dengan andika, Pangeran?”
“Tidak perlu!” tatap Pangeran Modang, “Apa lagi yang mesti kita bicarakan?
Kecuali menangkap dan
memenjarakannya, kalau perlu dihukum sekalian. Mesti berdebat pun tentu saja
pembicaraan andika akan lebih
melantur kemana‐mana. Memutar balikan fakta, serta membolak‐balikan kalimat. Mana mungkin orang yang
sudah dituduh bersalah mengakui kesalahannya, selain mengelak dan berusaha
mencari alasan agar terlepas dari
hal yang dituduhkan.”
“Baiklah, saya terima tantangan itu.” Syekh Siti Jenar tersenyum, “Meski saya
seribu kali membuat penjelasan dan
pembelaan rasanya bukan itu yang andika semua tuju. Karena tujuan para utusan
agung dari negeri Demak
Bintoro ingin menangkap saya dan menjatuhkan hukuman. Untuk itu tangkaplah
saya!”
“Tentu!” Pangheran Modang maju, lantas mengikat lengan dan sekujur tubuh Syekh
Siti Jenar, lalu disered.
“Selesai, Kanjeng! Kakang Bayat! Betapa mudahnya menangkap orang ini tidak
seperti hari sebelumnya
menghilang segala. Mari kita kembali ke negeri Demak Bintoro.” tangannya
menggenggam pesakitan seraya
memaksanya untuk turun dari padepokan.
“Lha, kenapa amat mudah?” gumam Sunan Geseng. Lalu membalikan tubuhnya
mengikuti langkah Pangeran
Modang, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, dan Pangeran Bayat.
***
Awan berlayar rendah di atas bahu puncak Gunung Lawu. Matahari berbinar kemerah‐merahan, mungkin marah
atau terusik dengan suara bising di tepi hutan. Teriak lantang, dentingan
senjata begitu nyaring.
Nun jauh dari keramaian rakyat negeri Demak Bintoro, berdiri pendopo megah
terbuat dari kayu jati tidak
berukir. Halamnnya yang luas dipagari pepohonan sebesar tubuh kerbau, daun
rimbunnya menutup langit, pagar
hidup dan tumbuh.
Loro Gempol berdiri di depan para lelaki telanjang dada, tubuh kekar serta
berotot. Setiap tangan
menggenggam pedang, lalu berpasangan saling serang.
Di sudut lain Kebo Benowo berdampingan dengan Joyo Dento, dihadapannya berdiri
pasukan berbaju serba
hitam. Tangannya menghunus keris, menggenggam tombak pasukan sebelahnya, paling
samping dengan busur
di tangan dan anak panah.
“Inilah pasukan gelap sewu!” gumam Kebo Benowo.
“Hanya saja kita kekurang satu pasukan lagi?” dahi Joyo Dento mengkerut.
“Maksud andika?”
“Kita perlu pasukan berkuda.”
“Kenapa tidak?”
“Persoalannya kita harus mengeluarkan modal yang lebih besar? Selain membeli
kuda juga merekrut lagi
warga Demak yang siap berjuang bersama kita.”
“Bukankah itu soal mudah, Dento?”
“Maksud aki?”
“Taklukan lagi para rampok dan paksa orang‐orang
kampung, terutama para pemudanya agar mengikuti kita.
Perlu kuda kita melakukan perampasan…”
“Saya kurang setuju dengan cara demikian, Ki.” Joyo Dento meninggikan alisnya.
“Meski dulu pernah melakukan
cara itu. Namun itu hanya berlaku bagi para perampok. Bagi penduduk kampung
tidak lagi dengan cara kasar.”
“Takutkah andika, Dento?”
“Sama sekali tidak, Ki.”
“Lantas?”
“Tidakkah aki pikirkan seandainya kita menempuh cara lama dalam mengumpulkan
orang tidak akan pernah
menumbuhkan rasa simpati. Apalagi mendukung langkah kita,”
“Haruskah membeli?” tatap Kebo Benowo, “Bukankah kita tidak cukup modal untuk
biaya makan mereka saja
mengandalkan uang dan emas cipataan?”
“Tidak,”
“Lantas?” Kebo Benowo menggeleng. “Ide apa kali ini yang bersemayam di benak
andika, Dento?”
“Doktrin!”
“Maksudnya?” dahi Kebo Benowo mengkerut.
“Bukankah siasat ini berhasil?” sungging Joyo Dento. ”Keadaan rakyat Demak
Bintoro terpengaruh dan kacau…”
“Ajaran hidup untuk mati itukah?”
“Itulah!”
“Bukankah mereka sudah menganggap mati itu indah? Mana mungkin mereka menginkan
kedudukan dan
memiliki niat bergabung dengan kita?”
“Hahahaha…Ki Benowo! Jangan khawatir, bukankah orang‐orang yang akan kita pengaruhi tidak lain hanyalah
masyarakat miskin dan bodoh?”
“Benar,”
“Mudah.”
***
“Syekh Siti Jenar yang memiliki ilmu sihir itu ternyata teramat mudah untuk
saya seret ke hadapan Gusti
Sultan.” tawa renyah Pangeran Modang mengurai gemerisiknya dedaunan tertiup
angin.
“Dimas, Modang!” kerut Pangeran Bayat. “Tidak mungkin ini terjadi teramat
mudah?” matanya tidak beranjak
dari wujud Syekh Siti Jenar yang terikat dan disered‐sered Pangeran Modang.
“Tentu saja, Kakang. Mungkin ilmu sihirnya pada hilang gara‐gara berhadapan dengan Kanjeng Sunan Kalijaga
yang memiliki ilmu tinggi.”
“Bukankah tempo hari juga yang menghadapi Kanjeng Sunan Kudus?”
“Entahlah…bukankah ketika berhadapan dengan Kanjeng Sunan Kudus masih sempat
menghilang dengan sihirnya
ketika akan ditangkap?”
“Benar juga?”
“Kenapa andika malah berdebat?” lirik Syekh Siti Jenar. “Bukankah tujuan andika
berdua menangkap saya.
Setelah diberi kemudahan malah diperdebatkan. Bawalah saya dan hadapkanlah pada
Gustimu!”
“Andika menantang!” geram Pangeran Modang.
“Mengapa saya harus menantang? Andai benar itu tujuan andika?”
“Baiklah!” dorong Pangeran Modang, “Andika akan diadili, serta mendapatkan
hukuman yang setimpal.”
“Saya kira tidak melalui pengadilan dulu?”
“Bicara apa?”
“Masa kisanak tidak dengar?”
“Itu penghinaan, Syekh!” geram Pangeran Modang, “Jangan sekali‐kali andika bicara ngelantur. Untung saja
belum berada dihadapan Gusti Sultan. Dosa dan kesalahan andika akan bertambah,
akibat menghina
pengadilan. Hukuman pun akan lebih berat! Itu mesti andika pahami!”
“Apa artinya hukum manusia?”
“Tidak takutkah andika, Syekh?”
“Mengapa mesti takut, Pangeran. Tidakkah kehidupan manusia ini di dunia hanya
sekejap.” desahnya pelan,
“Tidakkah kisanak perhatikan indahnya matahari di upuk senja? Jika hari sudah
senja, artinya tiada lama lagi
malam akan tiba. Terpaksa atau tidak terpaksa indahnya senja akan terseret
gelapnya malam. Bukankah
teramat singkat dan cepat. Begitu pula kehidupan kita di dunia ini.”
Pangeran Modang diam sejenak, Pangeran Modang, Sunan Geseng, dan yang lainnya
hanya menghela napas
dalam‐dalam. Tiada salahnya yang diucapkan Syekh Siti Jenar. Meski
demikian mereka tidak boleh hanyut
terbawa arus pembicaraannya. Apa pun yang terjadi, Syekh Siti Jenar tetap
merupakan musuh Negara dan
Agama yang perlu mendapatkan hukuman.
“Cukup, Syekh!” sentak Pangeran Modang memecah keheningan sejenak.
“Andika diseret ke Demak bukan untuk berbicara tentang kehidupan. Semua orang
tahu itu! Perlu andika ketahui!
Andika digiring ke Demak Bintoro tiada lain untuk dipenggal!”
“Pangeran?” sela Sunan Geseng pelan.
“O…” hela Syekh Siti Jenar, “…teramat mudah menghilangkan nyawa orang dengan
jalan dipenggal. Mestikah
hukum penggal dilakukan demi menghilangkan nyawa orang?”
”Jangan salah arti, Syekh!” ujar Pangeran Modang, “Hukum penggal dilakukan bukan
untuk menghilangkan
nyawa orang! Ingatlah, pemenggalan dilakukan demi tegaknya hukum!”
“Bukankah pada akhirnya tetap untuk menghilangkan nyawa orang? Yang kisanak
anggap sebagai musuh
Negara?”
“…tidak…”
“Mengapa tidak? Bukankah setelah orang dipenggal dan lehernya putus akan mati?
Itu sebuah pembunuhan,
yang tidak memiliki rasa kemanusian sama sekali. Apa bedanya kisanak dengan
menghargai binatang ternak
yang disembelih?”
”Apa bedanya seorang penjahat seperti andika dengan hewan sembelihan? Bukankah
tidak lebih rendah
perbuatan andika dari binatang sembelihan?”
“Kisanakkah yang menentukan rendah dan terhormatnya derajat manusia?”
“Ini sudah menjadi ketentuan hukum…” Pangeran Modang mengerutkan keningnya,
lalu lengan bajunya
mengusap keringat yang mulai meleleh dari dahinya. “…hingga derajat andika
dianggap setingkat dengan
binatang sembelihan. Maka hukum penggal sugah semestinya…”
“Pangeran,” desis Sunan Geseng. ”Tidakkah perkataan Pangeran terlalu
berlebihan? Bukankah pengadilan
nanti yang akan menentukan di depan sidang para wali dan Gusti Sinuhun?”
”Ah, tapi…” Pangeran Modang tampak pucat. “Bukankah sepantasnya, Kanjeng Sunan.
Jika Syekh Siti Jenar
diberi sedikit penjelasan…maksud saya supaya tersadar akan kesalahan dan dosa‐dosanya. Sebelum hukum
dijatuhkan dia mau bertobat…”
“Hahahaha….” Syekh Siti Jenar terkekeh, “….Pangeran perkataan kisanak
berlebihan…”
“Diam, Syekh!” Pangeran Modang merah padam, lalu memukul pundak Syekh Siti
Jenar hingga terhuyung.
”E…eh,” Syekh Siti Jenar menjaga keseimbangan.
“Dimas, mengapa berlaku demikian padanya?” tatap Pangeran Bayat.
“Maaf, Kakang. Dia terlalu angkuh dan selalu mencela kita. Arti nya melawan
Pejabat Negara. Tidak sepantasnya
bagi rakyat jelata melawan Pejabat.”
“Ternyata kisanak telah dilenakan dengan pakaian kebesaran, Pangeran.” sungging
Syekh Siti Jenar. “Tidakkah
antara si miskin dan si kaya, pejabat atau pun rakyat semuanya sama di depan
hukum?”
“Siapa bilang?” geram Pangeran Modang. “Andika selain penghianat Agama dan
Negara juga berani mencela
setiap ucapan saya. Tidak sadarkah derajat andika dan saya berbeda. Andika
hanya rakyat jelata, saya pejabat
Negara. Mestikah saya hormat terhadap andika?”
“Benar…benar kisanak telah dibutakan gemerlapnya pakaian kebesaran dan
singgasana jabatan.” sungging Syekh
Siti Jenar, ”Kisanak telah lupa tentang asal muasal sendiri, apalagi hakikat
hidup. Lantas tidakkah ingat
bahwa Allah menilai manusia bukan karena parasnya yang cantik, bukan karena
jabatannya, bukan karena
miskinnya, tetapi orang yang paling mulia dihadapanNya hanyalah nilai
ketakwaannya? Dunia, jabatan,
kekuasaan, serta segala yang kisanak miliki tidak akan pernah menolong dan
membantu ketika kita ber…”
“Diam!” bungkam Pageran Modang, “Tidak..semestinya andika menggurui saya.”
mukanya merah padam,
matanya menyala terbakar marah. Kepalan tangannya menghantam lambung.
“Akhhh…” jerit lirih Syek Siti Jenar, merunduk.
“Rupanya andika harus mendapat pelajaran!” ketusnya.
“Dimas,” Pangeran Bayat menghentikan gerakan tangan Pangeran Modang berikutnya.
“Kenapa, Kakang?”
“Sadarlah, Dimas? Tidak semestinya kita memperlakukan Syekh Siti Jenar secara
kasar. Bukankah dia juga punya
hak untuk mendapatkan keadilan yang wajar?”
“Tapi,”
“Hehe…andaikan pejabat negara seperti kisanak semua tidak mungkin keadilan akan
tercapai. Tidak mampu
mengendalikan amarah…alamat berantakan sistem hukum di negara ini.”
“Diam, andika, pesakitan!” bentak Pangeran Modang. “Jika buka mulut sekali lagi
akan ku sumpal mulut andika…”
“Pangeran, tindakan kisanak tidak mencerminkan sebagai seorang terpelajar dan
sosok pejabat…”
“Mulai lagi andika! Bukannya diam dan merasa takut pada saya. Bukankah sudah
tahu bahwa saya ini seorang
terpelajar, juga pejabat negara. Beraninya bersikap tidak diam, malah membantah
terus…”
“Mengapa saya mesti takut pada kisanak selaku pejabat negara dan terpelajar,
bukan sebaliknya sosok kisanak
mencerminkan prilaku yang sesuai dengan jabatan serta ilmu yang dimiliki?”
“Keparat!” Pangeran Modang semakin terpancing, hingga kembali mengayunkan
kepalan tangannya ke perut.
“Aduhhh…” Syekh Siti Jenar terhuyung.
“Mau lagi?” memamerkan kepalannya, dengan tatap mata beringas. “Bukannya andika
ini orang sakti Syekh
mengapa saya pukul sekali saja sudah nampak kesakitan?”
“Jika Pangeran masih mau memukul saya silahkan. Saya merasakan sakit saat
dipukul kisanak hanyalah untuk
menghormati kesombongan dan keadigungan adiguna….”
“Brengsek! Menantang rupanya andika, Syekh?!” Pangeran Modang kembala
mengayunkan kepalan tangannya ke
arah perut.
Drek, terasa kepalan tangannya menghantam baja.Mulutnya menyeringai menahan
sakit. Tetapi yang dipukulnya
untuk kali ini tidak bergeming. Hati Pangeran Bayat mulai ciut.
”Eeh…sihir apalagi yang andika gunakan, Syekh?”
”Pangeran, tidak semestinya seorang terpelajar dan memiliki jabatan menduga‐duga dan menuduh. Padahal
tuduhan tadi menunjukan ketidakpercayaan diri kisanak.”
“Andika yang menduga‐duga?”
”Katakanlah dengan nurani, Pangeran. Tidak sepantasnya memutarbalikan kata
andai itu hanya untuk melipur
lara karna takut.” berdiri tegak, tatapan matanya yang tajam seakan‐akan menembus kelopak mata Pangeran
Modang dengan seringainya menahan sakit.
‘Keparat, benarkah dia itu bisa membaca isi hati saya? Ah…mana mungkin manusia
sanggup menyelami hati orang
lain?’ sejenak termangu, telapak tanganya mengelus punggung tangan yang terasa
sakit. ‘Jika tidak, mengapa dia
tahu saya merasa ciut…’
“Benarkan apa yang saya katakan, Pangeran?”
”Diam!” geramnya, jari‐jemarinya dengan kasar menjabak leher baju Syekh Siti Jenar.
“Mana mungkin orang sekasar kisanak bisa mendalami agama dengan baik. Apalagi
mendakwahkannya pada
orang lain. Prilaku saja sudah tidak sanggup menarik simpati. Tidak salahkah
para wali memungut kisanak sebagai
abdi negara? Bukankah rakyat semacam saya ini perlu diayomi…”
“Tidak, karna andika bukanlah rakyat Demak Kebanyakan. Andika tiada lain
pesakitan yang sudah semestinya
mendapat perlakuan seperti ini.”
”Bukankah kesalahan saya ini belum terbukti, Pangeran?”
“Nanti akan kita buktikan dalam persidangan…”
”Haruskah yang belum jelas kesalahannya diperlakukan sebagai pesakitan?”
“Andika ini memang pesakitan!” bentaknya dengan muka memerah.
“Tidakkah kisanak dalam keadaan gusar? Setiap ujaran berbenturan dengan
lainnya.”
”Diam!” Pangeran Modang merenung sejenak. Disisi lain rasa gengsi sangat kuat
untuk memperlakukan Syekh Siti
Jenar dengan cara yang kurang hormat, dipihak lain membenarkan ucapan musuhnya.
“Sudah!” lalu menyeret
lagi.
“Sebaiknya Pangeran istirahat dulu…”
“Diam!” lalu membalikan tubuh ke belakang ternyata Pangeran Bayat menjauhi
dirinya seakan berlari kembali ke
Padepokan menghampiri para Sunan yang tidak mengikuti langkahnya. “Ada apa
ini?” dahinya dikerutkan.
“Kenapa Kakang Bayat meninggalkan saya? Juga para Sunan tiada satu pun
mengikuti, padahal tadi dibelakang.”
“Jika demikian kita hanya berdua Pangeran?” terdengar lembut dan menakutkan.
“Diam!.” kembali berbalik, “Eeh…kemana Syekh Siti Jenar? Mengapa ikut lenyap,
lalu…” Pangeran Modang
mengerutkan keningnya, tangannya masih menggenggam kuat tambang pengikat
pesakitannya. Yang diikatnya
kini bukanlah Syekh Siti Jenar tetapi sebongkah gedebog pisang.
”Keparat! Saya telah kembali ditipu dengan sihirnya…” giginya gemeretak,
tinjunya dikepalkan, mukanya merah
padam. “Aneh, bukankah sedari tadi saya bicara dengan mereka…apa sebenarnya
yang telah terjadi pada diriku?”
Berkali‐kali telapak tangnya menepuk dahi, terasa dirinya betapa
dungu dalam menghadapi kejadian tersebut.
“Lalu, benarkah tadi yang saya ajak bicara Kakang Bayat? Juga Para Sunan? Jika
benar tentu mereka tidak akan
meninggalkan saya begitu saja?”
”Haha…dasar bodoh! Andai mata hati kisanak tidak buta tentu tak seharusnya
berbuat sebodoh itu….”
“Keparat! Siapa andika?” berputar‐putar
mencari pemilik suara, terdengar seakan‐akan
menusuk gendang
telinganya.
“Buanglah yang menyebabkan hati kisanak menjadi buta. Belalakkanlah mata hati
kisanak!”
“Brengsek! Andika jangan mempermainkan saya! Ayo tampakan wujud Andika
pengecut…”
“Bukankah tadi saya sudah menasihati kisanak?”
“Saya tidak perlu nasihat orang pengecut…”